MajmusSunda News, Sabtu (25/07/2026) – Dari satu sudut mushola saya mengamati seorang ustadz muda sedang memberi tausiyah tentang pentingnya belajar pada anak-anak yang sedang mengaji. Dari melihat dan mendengar itu lantas ada pertanyaan yang barangkali kita jawab dengan gelar, jabatan, publikasi, indeks sitasi, atau deretan angka yang tersusun rapi di dalam sistem akademik. “Apa sebenarnya guru itu?”
Secara administratif, ia dapat diberi sebutan, jenjang, jabatan, dan berbagai ukuran yang diperlukan oleh sebuah sistem untuk mengenali kedudukannya. Tetapi dalam makna yang lebih dalam, guru dan atau yang oleh administrasi lebih dari sebutan guru tidak hanya sedang diuji oleh seberapa banyak yang telah ia ketahui. Ia juga sedang diuji oleh seberapa dalam ia mampu memahami apa yang tidak segera tampak di hadapannya. Sebab ada perbedaan antara seseorang yang secara administratif disebut guru dengan seseorang yang dalam makna batinnya benar-benar menjadi guru. Yang pertama dapat diberikan oleh sistem. Yang kedua hanya dapat tumbuh melalui perjalanan ilmu, pengalaman, pengabdian, dan kejernihan hati.
Dalam khazanah keilmuan Islam, _firāsah_ bukanlah prasangka, apalagi tebakan yang dibungkus keyakinan. Ia adalah ketajaman membaca tanda setelah seseorang cukup lama bergaul dengan ilmu, pengalaman, dan kejernihan batin. _Kasyf_ pun bukan pertunjukan keajaiban, melainkan tersingkapnya sesuatu yang sebelumnya tertutup oleh lapisan-lapisan yang menghalangi pandangan batin. Sedangkan _bashirah_ adalah kemampuan melihat dengan mata yang tidak berhenti pada permukaan. Ketiganya, dalam pengertian yang paling hati-hati, barangkali mengingatkan kita bahwa ilmu tidak hanya membuat seseorang semakin banyak mengetahui, tetapi juga semakin peka terhadap sesuatu yang belum terucapkan.
Maka seorang guru semestinya bukan hanya mampu membaca jurnal, data, dan teori, tetapi juga mampu membaca muridnya. Ia dapat mengenali kapan seorang mahasiswa sedang bertanya karena ingin memahami, dan kapan ia bertanya karena sedang mencari keberanian untuk mengakui bahwa dirinya belum memahami. Ia dapat membedakan suara seseorang yang sedang menyampaikan pendapat dengan suara seseorang yang sebenarnya sedang meminta ruang untuk ditemukan. Ia tahu bahwa di balik nilai yang rendah, bisa saja terdapat kemalasan, tetapi bisa pula terdapat kehidupan yang sedang terlalu berat untuk diceritakan. Pada titik itu, penilaian akademik tidak lagi cukup hanya dengan angka.
Saya sendiri masih harus bertanya kepada diri sendiri, apakah selama ini saya telah cukup memiliki ketajaman semacam itu. Jangan-jangan saya terlalu sibuk menjelaskan ilmu, tetapi belum cukup tekun membaca manusia yang duduk di hadapan saya. Jangan-jangan saya telah mampu membedakan teori yang satu dengan teori yang lain, tetapi belum mampu membedakan kegelisahan seorang murid yang membutuhkan koreksi dari kegelisahan seorang murid yang sebenarnya membutuhkan kepercayaan. Di sinilah seorang guru, termasuk saya, sesekali perlu berhenti dari kebanggaan atas apa yang telah dicapai dan bertanya apakah ilmu yang dimiliki telah membuat hati menjadi lebih peka.
Barangkali inilah sebabnya mengapa tradisi keilmuan yang besar tidak pernah memisahkan pengetahuan dari penyucian diri. Ilmu yang semakin tinggi seharusnya membuat seseorang semakin mampu menangkap perbedaan yang sangat halus. Ia dapat mendengar bukan hanya suara yang terdengar, tetapi juga memahami apa yang sedang berusaha disampaikan oleh suara itu. Ia dapat melihat bukan hanya jawaban yang diberikan, tetapi juga pertanyaan yang belum sanggup dirumuskan. Pada tingkat tertentu, seorang guru tidak lagi sekadar mentransfer pengetahuan. Ia membantu seseorang menemukan bentuk terbaik dari dirinya sendiri, tanpa menjadikan dirinya sebagai ukuran tunggal bagi perjalanan orang lain.
Karena itu, sebutan yang lebih tinggi dalam administrasi akademik bukanlah puncak dari perjalanan seorang guru, melainkan sebuah pertanyaan yang semakin berat untuk dijawab. Seberapa luas ilmu yang kita kuasai, seberapa jernih kita membaca kenyataan, dan seberapa adil kita memperlakukan manusia yang mempercayakan sebagian masa depannya kepada kita. Kita dapat memiliki banyak pengetahuan tentang manusia, tetapi belum tentu memahami manusia yang sedang berada di depan kita. Kita dapat berbicara panjang tentang pendidikan, tetapi belum tentu mengetahui kapan seorang murid membutuhkan penjelasan dan kapan ia membutuhkan seseorang yang cukup peka untuk tidak segera menghakiminya.
Pada akhirnya, mungkin seorang guru adalah seseorang yang terus-menerus menyadari bahwa sebutan, gelar, dan administrasi tidak pernah selesai mendidiknya. Ia masih harus belajar membaca tanda, mengenali keadaan, menimbang dengan kebijaksanaan, dan mendengar sesuatu yang tidak selalu hadir dalam bentuk suara. Sebab ilmu yang paling tinggi barangkali bukan hanya ilmu yang membuat kita mampu menjelaskan dunia, melainkan ilmu yang membuat kita semakin berhati-hati ketika menilai manusia. Dan jika pada usia saya sekarang pertanyaan itu masih harus saya ajukan kepada diri sendiri, barangkali itu bukan tanda bahwa perjalanan telah selesai. Justru di sanalah seorang pendidik kembali berhadapan dengan pelajaran yang paling sulit, yaitu memahami bahwa sebelum mengajar orang lain, dirinya sendiri masih terus-menerus sedang dibaca oleh ilmu, oleh kehidupan, dan oleh Tuhan.
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Apa Sebenarnya Guru itu?
Penulis:Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












