TB Anak dan Bahaya Rokok Masih Mengintai Anak Indonesia

STPI & IYCTC: Kebijakan dan Integrasi Layanan Harus Diperkuat

TB Anak

MajmusSunda News – Jakarta, Jumat (24/07/2026) – TB Anak masih menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menggelar diskusi melalui X-Space dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional untuk membahas keterkaitan tuberkulosis (TB) dengan paparan asap rokok yang masih mengintai anak-anak Indonesia.

Diskusi tersebut dilatarbelakangi keprihatinan bahwa setiap jam sekitar 17 orang di Indonesia meninggal dunia akibat TB. Ironisnya, isu ini masih jarang menjadi perhatian publik jika dibandingkan dengan pandemi COVID-19. Padahal, berdasarkan WHO Global Tuberculosis Report, angka kematian akibat TB di Indonesia secara konsisten lebih tinggi dibandingkan COVID-19 pada masa endemik.

Permasalahan tersebut semakin mengkhawatirkan karena salah satu pemicu utamanya berasal dari lingkungan rumah tangga, yaitu asap rokok. Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 yang dirilis Kementerian Kesehatan bersama WHO pada 2024 menunjukkan terdapat sekitar 70,2 juta konsumen tembakau dewasa di Indonesia. Dampaknya, anak-anak yang menjadi perokok pasif di rumah memiliki sistem pertahanan saluran pernapasan yang lebih lemah sehingga lebih rentan terinfeksi Mycobacterium tuberculosis hingga berkembang menjadi TB aktif.

Kesenjangan perhatian tersebut mendorong Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dan Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) membuka ruang diskusi yang mempertemukan isu TB dan pengendalian konsumsi rokok pada momentum Hari Anak Nasional.

Ketua Yayasan STPI, dr. Donald Pardede, mengingatkan bahwa Indonesia masih menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Data Kementerian Kesehatan tahun 2025 mencatat estimasi 1.092.000 kasus TB setiap tahun.

“Saat ini, estimasi kasus baru sudah mencapai kisaran 135.000 di kelompok anak, di mana fatalitasnya juga cukup tinggi, berkontribusi hingga 15 persen dari total kematian akibat TB secara nasional. Terutama bagi balita di bawah usia lima tahun, mereka memiliki risiko sangat tinggi mengalami kondisi TB yang jauh lebih berat dan fatal, seperti meningitis TB yang dapat menyerang selaput otak,” ujar Donald.

Ia menjelaskan, kasus TB pada anak sering terlambat terdeteksi karena gejalanya tidak spesifik, seperti berat badan sulit naik atau demam berkepanjangan. Kondisi tersebut kerap dianggap sebagai gejala penyakit lain sehingga penanganannya terlambat.

Donald menambahkan, keterlambatan diagnosis tidak hanya memperburuk kondisi kesehatan anak, tetapi juga mengganggu tumbuh kembang fisik dan kognitif pada masa emas mereka. Upaya penanggulangan pun masih terkendala tingginya angka kasus yang tidak terlaporkan (underreporting) dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

“Pendekatan untuk menuju eliminasi TB itu tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita harus memperkuat kebijakan dan mengintegrasikan pelayanan secara menyeluruh, mulai dari skrining aktif, perluasan cek kesehatan gratis bagi masyarakat, hingga penguatan investigasi kontak erat di lapangan agar kontak tersebut segera diproteksi dengan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Apalagi upaya menutup celah ini tidak bisa lepas dari masalah konsumsi rokok yang tinggi dan membuat anak-anak kita terpapar,” tutup Donald.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IYCTC, Manik Marganamahendra, menyoroti meningkatnya jumlah perokok anak. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan jumlah perokok usia 10–18 tahun meningkat dari 4,1 juta pada 2018 menjadi sekitar 5,9 juta anak pada 2023.

Menurut Manik, kebiasaan merokok pada anak lahir dari lingkungan yang menormalisasi rokok serta kemudahan akses terhadap produk tembakau. Ia juga menilai implementasi aturan turunan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan masih perlu dipercepat agar perlindungan terhadap anak semakin efektif.

Dokter spesialis anak sekaligus health influencer, dr. Shela Putri Sundawa, Sp.A., menjelaskan bahwa paparan asap rokok lingkungan (second-hand smoke) meningkatkan risiko anak terkena TB aktif hingga 3,41 kali lipat. Bahkan, setiap tambahan satu anggota keluarga yang merokok di rumah meningkatkan peluang infeksi TB laten pada anak hingga 2,56 kali lipat.

Ia menjelaskan bahwa paparan nikotin dan tar dapat merusak sistem pertahanan saluran pernapasan anak sehingga bakteri TB lebih mudah berkembang. Selain itu, masyarakat juga diingatkan akan bahaya third-hand smoke, yaitu residu asap rokok yang menempel pada pakaian, kulit, rambut, sofa, hingga karpet rumah dan tetap berbahaya bagi anak selama berhari-hari. Karena itu, orang tua didorong untuk berhenti merokok demi melindungi kesehatan buah hati mereka.

Judul: TB Anak dan Bahaya Rokok Masih Mengintai Anak Indonesia
Jurnalis: Rls/Asep GP
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *