MajmusSunda News, Jum’at (24/07/2026) – Kali ini aku benar-benar rindu padamu. Rindu itu datang bersama malam-malam yang berjalan seperti biasa, pekerjaan yang harus diselesaikan, dan kehidupan yang terus bergerak tanpa menunggu siapa pun. Namun di antara semua yang berjalan itu, ada bagian dari diri saya yang seperti berhenti pada suatu tempat. Semua tetap berjalan sebagaimana mestinya, tetapi kerinduan itu tumbuh perlahan, sampai akhirnya terasa bahwa ia telah cukup lama berada di dalam diri. Ada tambatan hati yang ingin sekali didekati, meskipun jarak antara diriku dan dirimu begitu jauh untuk ditempuh oleh langkah biasa.
Mungkin karena jarak itu. Ada tambatan hati yang ketika namanya terlintas, suasana di sekitar seperti berubah tanpa perlu alasan. Kata-kata yang pernah dibaca ingin dibaca kembali, kelembutan yang pernah didengar kembali hadir dalam ingatan, dan sesuatu yang sederhana menjadi begitu berarti hanya karena pernah menyentuh hati. Rindu membuat kita menyadari bahwa kedekatan tidak selalu ditentukan oleh jarak. Ada yang terasa begitu dekat meskipun tidak pernah berada di hadapan mata. Dan semakin lama kerinduan itu tinggal, semakin ingin rasanya mengetahui apakah tambatan hati yang dirindukan juga masih menyimpan tempat bagi kita di dalam kasihnya.
Namun semakin direnungkan, semakin terasa bahwa tambatan hati ini bukan sekadar tempat bagi hati untuk menyimpan rasa. Kerinduan itu membawa hati kepada tambatan hati yang ingin dikenali melalui kata-katanya, senyumnya, langkahnya, dan seluruh pesona dirinya. Tambatan hati yang kehadirannya membuat manusia ingin memperbaiki dirinya sendiri. Dan ketika kesadaran itu mulai tumbuh, muncul pula rasa malu. Pantaskah aku merindukanmu.
Masih begitu banyak kelemahan yang belum selesai. Masih ada keinginan yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan dan langkah yang belum selalu menuju arah yang seharusnya. Pantaskah seseorang yang masih membawa begitu banyak kekurangan merindukan dirimu yang begitu indahnya. Semakin diri ini mengenal siapa yang dirindukan, semakin terasa jarak antara dirinya dan sosok yang ingin didekati. Namun kerinduan itu tidak pergi. Ia justru tinggal lebih lama. Barangkali karena ada kerinduan yang tidak lahir dari rasa pantas, melainkan dari hati yang tetap ingin mendekat meskipun tahu betapa jauhnya perjalanan.
Lalu perlahan terlihat kelembutanmu. Engkau tidak membuat mereka yang penuh kekurangan merasa harus menjadi sempurna terlebih dahulu untuk mendekat. Engkau tidak menjadikan keindahan dirimu sebagai sesuatu yang membuat manusia kehilangan harapan. Di dalam kelembutan itu ada kekuatan yang tidak menindas, keberanian yang tidak melukai, kata-kata yang tidak meninggikan diri, dan kasih yang membuat manusia merasa masih memiliki tempat untuk memperbaiki dirinya. Mungkin di sanalah kerinduan menemukan alasan yang lebih dalam. Bukan karena diri ini telah pantas untuk mendekat, melainkan karena ada kasih yang membuatnya tetap berani berharap.
Barangkali karena itu, ketika hati tidak lagi tahu bagaimana mendekat, bibir menemukan jalannya sendiri. Lalu shalawat itu terucap. Mula-mula hanya sebagai rangkaian kata yang mengalir dari bibir, tetapi perlahan membawa hati kepada tempat yang selama ini dicari. Nama itu disebut, dan kerinduan yang sebelumnya seperti berjalan tanpa arah mulai menemukan jalannya. Tidak lagi mencari di antara begitu banyak manusia. Ada kedekatan yang tidak membutuhkan pertemuan mata. Ada kasih yang tidak menunggu seseorang menjadi sempurna untuk menerimanya. Dan di antara shalawat yang terus terucap, rasa malu itu perlahan berubah menjadi kerendahan hati.
Kali ini aku benar-benar rindu padamu, duhai Nabi Muhammad.~ Rindu kepada engkau yang tidak pernah saya lihat. Kata-katamu, senyummu, langkahmu, dan seluruh pesona dirimu terus dicari oleh hati yang ingin menjadi lebih baik. Shalawat itu pun kuucap, dan kerinduan ini menjadi tenang. Seperti berada dalam pelukan yang tidak dapat disentuh oleh tangan, tetapi membuat hati merasa diterima. ~Ada rindu yang tak perlu selesai dengan pertemuan. Ia hanya perlu menemukan alamatnya, lalu hati tahu ke mana harus mengirimkan seluruh cintanya.
_Allahumma sholli ala nabiyiina wa sayidina Muhammad, wa ala ali sayidina Muhammad._
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Aku Memahami Apa yang Terjadi dan Aku Memaafkanmu
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












