Kewarganegaraan Emosional

Oleh: Ganjar Kurnia

Kewarganegaraan Emosional

MajmusSunda News – Bandung, Rabu (22/07/2026) – Di luar stadion, manusia biasanya sangat serius membicarakan asal-usul. Orang ditanya lahir di mana, keturunan siapa, bahasanya apa, paspornya warna apa. Namun, begitu memasuki stadion dan mengenakan kostum Persib, seluruh ilmu silsilah mendadak pingsan.

Seorang pemain boleh lahir di Brasil, Argentina, Belanda, Kroasia, Jepang, atau di sebuah desa kecil yang hanya bisa ditemukan dengan bantuan satelit. Tidak perlu tes DNA. Namun, ketika ia berlari, bertarung, tidak malas, dan tidak membuang peluang ketika gawang sudah terbuka selebar pintu minimarket lalu mencetak gol untuk Persib, bobotoh segera mengangkatnya menjadi “dulur” dan menyebutnya “si kasep”. Sesudah itu, namanya diteriakkan puluhan ribu orang yang mungkin kesulitan mengeja nama lengkapnya.

Inilah keajaiban sosiologis sepak bola: kedekatan emosional dapat berubah lebih cepat daripada proses administrasi kelurahan. Bobotoh mempunyai sistem kewarganegaraan sendiri. Namanya kewarganegaraan emosional. Paspor dibuat dari keringat. Visa diterbitkan lewat tekel bersih. Izin tinggal diperpanjang melalui gol, assist, dan kesediaan mengejar bola hingga ke papan iklan di pinggir lapangan. Pemain asing tidak perlu hafal Pancasila. Bobotoh tidak peduli dibesarkan di negeri mana. Yang penting, saat lawan menyerang, ia tidak berjalan santai seperti sedang mencari alamat kondangan.

Secara sosiologis, hubungan bobotoh dengan pemain asing menunjukkan bahwa identitas bukan hanya sesuatu yang diwariskan melalui darah, tanah kelahiran, atau bahasa ibu. Identitas juga dapat dibentuk oleh pengalaman bersama dan penderitaan bersama. Dalam ilmu sosial, ini bisa disebut solidaritas kolektif. Dalam bahasa warung kopi, disebut: asal membela Persib sungguh-sungguh, kami “mencintai” kamu lebih sungguh-sungguh.

Aneh memang. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat kadang mudah curiga kepada orang yang berbeda suku, bahasa, agama, bahkan berbeda cara mengaduk bubur. Namun, dalam sepak bola, perbedaan itu dapat menguap hanya karena seseorang memakai kostum biru.

Pemain asing yang sebelumnya tidak mengenal peuyeum, surabi, atau kemacetan Pasteur, tiba-tiba menjadi simbol kebanggaan jutaan orang Sunda. Ia mungkin belum bisa mengucapkan “punten” dengan benar, tetapi ketika melakukan penyelamatan di garis gawang, satu stadion memaafkan seluruh kesalahan tata bahasanya.

Sepak bola ternyata mampu mengajarkan integrasi sosial dengan metode yang sangat sederhana: berikan seseorang seragam, tujuan bersama, dan kalahkan lawan.

Pemain asing yang tampil bagus segera diangkat menjadi saudara. Jika mencetak gol dalam pertandingan penting, statusnya naik menjadi Akang. Jika membawa Persib juara, ia berubah menjadi karuhun yang kelak namanya diceritakan kepada anak cucu.

Dalam masyarakat modern, banyak hubungan bersifat sementara. Orang berpindah pekerjaan, tempat tinggal, aplikasi, bahkan pandangan politik. Namun, bagi bobotoh, Persib adalah salah satu dari sedikit hal yang tidak bisa dinegosiasikan. Jabatan boleh berubah, nomor telepon boleh berganti, berat badan boleh meningkat, namun klub tetap Persib. Siapa pun yang sungguh-sungguh membela Persib akan diterima ke dalam ikatan tersebut.

Seorang pemain asing barangkali mengira ia hanya datang untuk bekerja, menandatangani kontrak, mengikuti latihan, tinggal di apartemen, lalu bermain setiap pekan. Namun, tanpa disadarinya, ia sedang masuk ke dalam sebuah masyarakat dengan jutaan kecintaan. Sosiolog menyebutnya partisipasi publik. Bobotoh merasa Persib bukan milik perusahaan, pengurus, pelatih, atau pemain semata. Persib adalah milik perasaan bersama. Karena itu, pemain asing tidak dinilai dari kewarganegaraannya. Ia tidak harus menjadi orang Sunda secara biologis. Ia cukup memahami satu hal: kostum biru bukan sekadar pakaian, tetapi seragam yang dijahit dari harapan, kenangan, kegembiraan, kemarahan, dan percakapan panjang di pos ronda.

Gol tidak mengenal paspor. Kesetiaan tidak memerlukan akta kelahiran. Maka, jangan heran bila seorang pemain asing mencium lambang Persib di dadanya, puluhan juta bobotoh merasa seolah-olah perasaan merekalah yang sedang dicium.

libur

Judul: Kewarganegaraan Emosional

Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *