MajmusSunda News – Bandung, Senin (13/07/2026) – Untuk kita memahami apakah peradaban cahaya, maka kita akan lebih dahulu memahami peradaban zaman prasejarah, yaitu zaman di mana manusia dalam keadaan tidak mengenal tulisan dan bahasa. Secara umum, kita mengenal zaman prasejarah hanya melalui peninggalan berupa fosil, alat bantu berupa batu, lukisan di gua, dan sisa hunian. Pada zaman prasejarah, saat itu manusia berkomunikasi dengan bahasa tubuh, suara, isyarat seperti merunduk, mengangguk, berteriak, serta berubahnya mimik wajah, serupa dengan anak balita. Selain itu, komunikasi manusia zaman prasejarah dilakukan melalui gambar yang dilukis di dinding gua yang dapat terlihat pada Gua Mora, Sulawesi, berupa gambar hewan buruan, seperti gambar hewan rusa. Komunikasi juga dilakukan melalui alat dan simbol yang berbentuk kapak, gelang, dan manik-manik yang menjadi ciri suatu kelompok manusia.
Manusia zaman prasejarah berpikir dan percaya pada semua benda, bahwa semua benda memiliki roh, seperti pohon, batu, dan sungai (animisme). Percaya pada kekuatan gaib di benda tertentu yang dapat kita lihat nyata adanya batu menhir dan dolmen yang diperkirakan berasal dari sekitar 2.500 SM–500 M (zaman batu besar, bangunan dari batu tanpa semen). Batu menhir adalah batu tunggal yang didirikan tegak sebagai tanda penghormatan kepada leluhur, penanda tempat suci, dan penanda kuburan. Dolmen berbentuk meja batu yang terdiri atas 2–4 batu tegak yang ditutup batu datar di atasnya. Fungsinya untuk meletakkan sesajen, batu sebagai penghubung, roh leluhur ada di batu. Batu menhir dan dolmen berada pada zaman megalitikum, yaitu zaman batu-batu megalitikum yang seterusnya berlanjut ke zaman logam.
Peradaban tanpa tulisan, semua ilmu diturunkan lewat cerita, nyanyian, dan praktik nyata. Kakek mengajarkan cucu membuat api, mengambil batu, mengambil ranting, dan lain-lain. Dukun atau tabib mengajarkan mantra lewat hafalan. Kapan manusia menemukan dan mengenal tulisan? Kurang lebih sekitar 3.200 SM, yang membuka sejarah baru sehingga dapat direkam dan ditulis serta tidak kehilangan.

Ada peradaban cahaya yang akan kita bahas menurut tafsir spiritual. Cahaya merupakan simbol kesadaran, kebenaran, dan keseimbangan. Peradaban cahaya merujuk pada zaman keemasan. Zaman keemasan manusia saat itu hidup selaras dengan alam, tidak serakah, tidak menipu, tidak berbohong, dan tidak dengki. Pada zaman cahaya merupakan zaman di mana manusia berada pada keluhuran budi pekerti. Sifat kebenaran, kebaikan, dan kejujuran menjadi penyangga hidup. Menurut budaya Sunda, memiliki sifat Siliwangi, yaitu sifat yang menggunakan hati nurani yang bersih dan suci. Pada peradaban cahaya, manusia dipimpin oleh hati nurani. Aturan dibuat bukan karena takut akan hukum, tetapi karena budi pekerti berupa nilai-nilai kebaikan, kesabaran, kesopanan, adab, dan adat, seperti nilai Dasa Pasanta, Dasa Marga, dan Patikrama yang terdapat dalam naskah kuno Sunda menjadi dasar hukum mengatur dan menjadi pedoman hidup berupa sifat-sifat yang harus ditumbuhkan dalam diri manusia itu sendiri, seperti bijaksana, penuh kasih, ramah, memikat hati, berhati bersih, hidup bermoral, dan jujur. Pada peradaban cahaya, tata cara hidup dan aturan teknologi yang dipakai adalah tata cara yang selaras dengan alam, tidak merusak alam. Hidup dengan energi alam. Energi diambil dari matahari, air, tanah, angin, bahkan bulan dan bintang yang dijadikan ilmu pengetahuan.
Peradaban cahaya di Indonesia ada pada peradaban yang ada di Gunung Padang, di mana sangat jelas bukti peninggalan batu menhir sebagai bahan untuk menemukan pengetahuan. Pada hari Minggu, tanggal 5 Juli 2026, penulis melakukan perjalanan spiritual ke Gunung Padang untuk melakukan ritual alam bersama saudara dari Pulau Bali dan timur Tanah Jawa. Ritual alam untuk mendekatkan diri pada alam dan Sang Maha Agung di Gunung Padang. Penulis mendapat pencerahan secara spiritual berupa informasi melalui intuisi yang masuk pada rasa penulis bahwa Gunung Padang adalah peradaban cahaya, zaman belum ada tulisan dan bahasa. Oleh karena itu, pesan yang disampaikan, bila Gunung Padang digali, dibongkar untuk tujuan mendapatkan informasi berupa artefak tertulis, tidak akan pernah ditemukan. Justru akan merusak struktur yang sangat sakral yang berakibat terganggunya energi alam sehingga akan terjadi ketidakseimbangan kehidupan.
Gunung Padang merupakan area pada zaman dahulu sebagai tempat leluhur mendapatkan pengetahuan dan pengetahuan itu berasal dari cahaya, cahaya yang bersuara dalam batin manusia. Yang mendapatkan petunjuk melalui cahaya adalah orang yang sudah tumbuh seimbang cahaya dalam dirinya, cahaya alam yang suci, terang, dan padang. Cahaya Padang akan menyambung pada manusia yang lahir batinnya memiliki cahaya yang sama dalam dirinya. (Bagaimana manusia mengakses cahaya suci, penulis akan membuat artikel khusus untuk hal tersebut). Informasi yang didapatkan bahwa Gunung Padang tidak boleh dirusak karena Gunung Padang merupakan tempat sakral leluhur mencari pengetahuan dan ilmu yang benar, karena cahaya sebagai sumber kesadaran yang sejati.

Batu pada punden berundak ke-5 terdapat batu yang umum disebut “Batu Singgasana”. Hasil spiritual penulis, batu singgasana merupakan batu puser/pusat. Batu puser/pusat diibaratkan dalam tubuh kita adalah puser (udel) yang berfungsi sebagai penyalur kita mendapatkan energi yang disalurkan oleh puser berupa sari pati makanan yang berasal dari ibu kita. Dalam spiritual budaya Sunda Buhun, puser dianggap sebagai energi utama di tubuh manusia. Fungsi puser dalam ilmu spiritual merupakan titik tengah atau pancer yang berfungsi sebagai pusat keseimbangan. Puser ada di tengah tubuh, menjadi poros antara atas dan bawah, kiri dan kanan, lahir dan batin. Jika puser bergerak atau puser terganggu, maka akan terjadi ketidakseimbangan. Puser merupakan puser bumi yang berfungsi sebagai penghubung ke Ibu Bumi. Leluhur dahulu menyebutkan puser itu sebagai saluran kita menyambung pada bumi. Jika kita bersemedi, tangan menempel pada puser, puser menempel ke tanah, artinya sedang dalam proses mengisi. Puser merupakan “tali gaib” penghubung ke ibu dan leluhur. Pada saat kita dikandung ibu, kita hidup lewat puser. Setelah lahir, fisik putus, tetapi tali gaib masih tersambung. Lewat puserlah doa kepada leluhur dan kepada Tuhan Yang Maha Esa tersambung. Puser merupakan Cakra Manipura yang berfungsi sebagai pusat tenaga (pusat cahaya) yang menyimpan daya hidup agar muncul kebenaran, kewibawaan, dan kerahayuan. Puser sebagai penyaring energi yang berfungsi untuk keluar masuknya energi, sebagai pengantar membuang sial, membuang penyakit yang disapu lewat puser, dan puser sebagai pintu mengisi energi.
Pitutur leluhur Sunda, puser adalah:
“Puser teh tali panghulu hirup, tempat urang sumping ka alam, ulah di sepirakeun sabab dinya aya cahaya.”
Artinya:
“Puser itu tali pemimpin hidup, tempat asal kita datang ke alam, jangan disepelekan karena di sana ada cahaya.”
Posisi semedi yang sangat baik sesuai dengan ilmu leluhur Gunung Padang adalah duduk “ngabumi”, yaitu duduk di tengah puser dengan niat suci menyambung pada energi alam. Cara menjaga puser yang utama adalah bersyukur atas hadirnya ibu, karena dari puser ibu lahir batin kita ada dan disambungkan pada Ibu Alam Langit dan Ibu Alam Bumi.
Batu puser yang ada di tingkatan ke-5 merupakan pusat, penghubung, dan pembangkit tenaga. Puser sebagai jembatan antara kita, ibu, bumi, dan Sang Pencipta. Oleh karena itu, di Gunung Padang ada situs batu “Sunan Ambu” yang berjarak 3 meter ke arah atas dari singgasana atau batu puser. Keterangan di atas merupakan hasil pengalaman pribadi penulis, dapat dipercaya atau tidak dipercaya oleh pembaca, namun itulah kenyataan hasil dari intuisi yang masuk. Pengalaman hasil ritual melalui laku spiritual membuat penulis berkeyakinan bahwa Gunung Padang adalah peradaban cahaya, peradaban ketika belum hadir tulisan dan bahasa, tetapi ilmu pengetahuan hadir melalui jalur cahaya yang menjadi frekuensi yang masuk pada rasa manusia dan menjadi petunjuk yang dilakukan atas kesadaran tinggi.
Peradaban cahaya terdapat dalam ramalan Jayabaya dan ajaran leluhur kuno. Banyak sesepuh menyampaikan bahwa sebelum zaman “Kalabendu” yang saat ini terjadi (zaman kehidupan manusia sekarang), pernah ada zaman cahaya. Kalabendu yang terdapat pada ramalan Jayabaya berarti gelap, sulit, dan kacau. Kalabendu adalah zaman kegelapan.
Kutipan naskah Jayabaya tentang Kalabendu:
“Ing besuk yen wis tekan mangsane, jagad bakal Kalabendu, wong cilik mangan susah, wong gede mangan penak, pajek mubeng ora ono entekne.”
Artinya:
“Kelak kalau sudah tiba waktunya, dunia akan gelap gulita, orang kecil makan susah, orang besar makan enak, pajak berputar-putar tidak ada habisnya.”
Kutipan naskah Jayabaya tersebut menggambarkan kondisi yang saat ini sedang berlangsung, terutama kondisi rakyat kecil yang semakin sulit mencari uang hanya sekadar untuk makan, sedangkan para pejabat makan dengan kenyang tanpa susah payah berusaha. Terbukti, termuat para pejabat yang korupsi uang negara. Dengan uang hasil korupsi, mereka dapat dengan kenyangnya mengisi perut, tetapi rakyat kecil mencari sesuap nasi harus bekerja keras dan bersusah payah.
Kondisi pajak saat ini semakin mencekik rakyat dan berbagai macam pajak semakin muncul. Semua roda kehidupan masyarakat terkena pajak. Rumah sendiri harus membayar pajak, tanah sendiri harus membayar pajak, bahkan kegiatan apa pun terkena pajak.
Artinya, zaman sekarang ini kehidupan manusia di bumi masuk pada zaman kegelapan, artinya hilang nilai budi dalam kehidupan manusia zaman ini.
Kondisi Kalabendu pada zaman ini jelas sedang berlangsung. Rakyat kecil semakin terjepit, moral hancur berupa kejujuran kalah dengan uang, agama sudah bukan aturan hidup yang baik, tetapi berubah menjadi aturan untuk berdagang, kekuasaan, dan menguasai ekonomi. Alam semakin rusak karena keserakahan manusia. Apa solusi untuk mengubah dan menghentikan zaman Kalabendu? Tidak ada lain adalah perbaikan akhlak dengan nilai-nilai budi pekerti luhur yang menjadi ajaran para leluhur negeri kita sendiri. Dengan dihidupkannya nilai budi pekerti, maka akan menumbuhkan kembali kesuburan tanah secara alamiah. Manusia kembali jujur dan saling silih asih, silih asuh, dan silih asah. Pemimpin kembali menjadi pelayan rakyat, ilmu bukan untuk kesombongan diri, kembali pada manusia beradab, kembali pada zaman keemasan.
Pernah ada zaman keemasan atau zaman “Satya” yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut, bumi subur tanpa dipaksa seperti kondisi saat ini, tanah dipaksa subur dengan memberikan pupuk. Manusia zaman Satya bersifat jujur, silih asih, silih asuh, silih asah, artinya kekuatan nilai budi pekerti sangat dijunjung tinggi. Pemimpin zaman keemasan atau Satya adalah pelayan rakyat atau pengabdi rakyat, bukan pemimpin penguasa yang bertumpu pada kekuasaan yang otoriter dan diktator mengikuti keinginan diri sendiri. Zaman keemasan, orang yang memiliki ilmu tinggi bukan untuk meninggikan derajat dan bukan digunakan untuk merebut kekuasaan dan perang. Manusia zaman Kalabendu saat ini yang berpendidikan tinggi dan mengantongi titel merasa paling pintar dan derajat paling tinggi. Pada zaman keemasan, manusia berilmu tinggi adalah orang yang tinggi nilai budi pekertinya, baik perilakunya, dan penuh adab kesopanan. Dalam ajaran Sunda, manusia yang baik perilaku dan budi pekertinya adalah bangsawan.
Peradaban cahaya dan peradaban prasejarah memiliki ciri-ciri yang sama. Apakah kedua peradaban tersebut sezaman masih perlu diteliti. Peradaban cahaya runtuh karena manusia mulai hilang perilaku budi pekerti yang baik. Manusia sudah tidak jujur, berbohong, mengejar menjadi pemimpin zaman saat ini dengan cara-cara berbohong, menipu sana sini, penuh keserakahan, manipulatif. Setelah menjadi pemimpin, berkarakter pemimpin yang mementingkan diri sendiri daripada kepentingan rakyat. Dengan serakah gunung dibongkar, hutan digunduli, air dikuasai untuk kepentingan ekonomi, dan rakyat terkena akibat atas keserakahan pemimpin. Kondisi ini terjadi pada zaman sekarang. Kondisi dunia saat ini, manusia jauh dari budi pekerti dan nilai-nilai luhur. Artinya, zaman ini adalah zaman kegelapan atau Kalabendu.
Dalam ajaran tradisi lisan Sunda, dalam cerita pantun/wawacan disebutkan:
“Bumi Sunda bakal poek heula, tuluy aya nu nyalakeun suluh, cahaya ti jero diri sorangan.”
Artinya:
“Bumi Sunda bakal gelap dulu, lalu ada yang menyalakan obor, cahaya dari dalam diri sendiri.”
Makna dari tradisi lisan Sunda, bila manusia memiliki cahaya dalam diri masing-masing dan cahaya itu terwujud menjadi sikap perilaku yang penuh kebaikan dan kebenaran, maka Bumi Sunda akan kembali pada zaman keemasan dan gelap hilang, terbitlah terang.
Dalam ajaran Sunda Buhun, zaman cahaya adalah zaman dunia dalam keadaan penuh cahaya. Dengan cahaya, dunia akan sejahtera. Dalam naskah kuno Sanghyang Siksakandang Karesian ada kutipan:
“Lamun manusa geus cageur, bageur, bener lan pinter, bumi oge jadi raharja, cai herang, tangkal buahan, manusia hirup silih asih, silih asuh, silih asah.”
Artinya:
“Jika manusia sudah sehat, baik, benar, pintar, maka bumi sejahtera, air jernih, pohon berbuah, manusia hidup saling mengasihi, mengasuh, dan mengasah.”
“Dina zaman Satya, manusia teu boga dengki, teu boga serakah, rejeki ngalir sorangan, para dewa nurunkeun karaharjaan.”
Artinya:
“Di zaman kebenaran, manusia tidak punya dengki, tidak punya serakah, rezeki datang sendiri, leluhur menurunkan kesejahteraan.”
Untuk kembali bumi pada zaman keemasan, kembali kita manusia “ngamumule budaya, ngajaga marwah leluhur”, artinya kembali pada ajaran leluhur yang penuh kekuatan cahaya yang dapat membawa padang, terang-benderang sealam jagat semesta. Dalam ajaran Sunda Buhun tidak bicara pembangunan gedung dan teknologi canggih, tetapi bicara tentang cahaya yang penuh welas asih dan kebenaran yang berupa perilaku budi pekerti yang membentuk karakter manusia menjadi manusia mulia dan paripurna. Sangat penting ajaran leluhur yang terdapat dalam naskah-naskah kuno yang ada di Nusantara ini menjadi kompas kehidupan, seperti nilai ajaran Dasa Pasanta, Dasa Marga, dan Patikrama yang terdapat dalam naskah kuno Sunda dihidupkan kembali untuk meruwat Kalabendu agar sirna di bumi kita, kembali pada zaman penuh cahaya, zaman keemasan, dan mengembalikan manusia hidup dalam damai sejahtera.
Kembali kita pada Gunung Padang sebagai situs punden berundak atau piramida bertingkat dari zaman megalitikum. Fungsi Gunung Padang menurut arkeologi sebagai tempat pemujaan leluhur, tempat upacara sesajian, komunikasi dengan dunia atas, serta pusat spiritual karena posisinya berada di puncak bukit dan menghadap matahari terbit. Hal ini menjadi tanda bahwa peradaban orang Sunda zaman dahulu sudah memiliki teknik menyusun batu tanpa semen. Gunung Padang memiliki lima teras berundak ke atas puncak yang terdapat batu altar.
Gunung Padang menurut hasil penelitian ada beberapa versi. Menurut arkeologi konvensional, diperkirakan berasal dari sekitar 2.000 SM–500 M, yaitu zaman megalitikum dengan batu-batu permukaan berumur sekitar 2.000 SM–500 M. Ada juga yang menyebutkan 20.000 SM–10.000 SM yang menerangkan lapisan paling bawah diduga merupakan struktur batuan yang dibuat oleh manusia, artinya berasal dari zaman es (Paleolitikum akhir). Jika data yang dipakai 10.000–20.000 tahun, artinya lebih tua dari Piramida Mesir. Artinya, Gunung Padang merupakan tempat berkumpul yang memiliki energi medan magnet dan akustik khusus, dengan batu yang disusun tanpa perekat. Dalam kutipan naskah Sunda Buhun, Gunung Padang merupakan tempat tertinggi.
“Nu ngadeukeunna ka Maha Agung.”
Artinya:
“Tempat terdekat Sang Maha Agung.”
Gunung Padang dalam cerita Parahyangan, yaitu naskah yang membahas raja-raja Sunda dan tempat suci:
“Di luhur bukit batu, tempat para resi tapa, ngadeukeutkeun diri ka nu Maha Agung, tempat nurunkeun wahyu jeung pengajaran.”
Artinya:
“Di atas bukit batu, tempat para resi bertapa mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung, tempat turunnya wahyu dan ajaran.”
Dari naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang membahas tentang tempat suci:
“Gunung pamujaan, tempat silih asih jeung alam, batuan disusun ku gotong royong, ulah dirobih, ulah dirusak.”
Artinya:
“Gunung pamujaan, tempat harmoni dengan alam, batunya disusun dengan gotong royong, jangan diubah, jangan dirusak.”
Tafsir kutipan dari kedua naskah di atas tersebut menjelaskan bahwa struktur Gunung Padang yang merupakan jenis batu andesit disusun bertingkat tanpa semen dan dikerjakan oleh banyak orang. Ada tradisi lisan dari kampung adat sekitar Gunung Padang yang menyebutkan:
“Di dinya aya gunung anu 5 undak tempat ngumpulkeun cahaya, saha nu leumpang ka dinya hatena bakal caang.”
Artinya:
“Di sana ada gunung yang lima tingkat, tempat mengumpulkan cahaya. Siapa yang berjalan ke sana, hatinya akan terang.”
Gunung Padang memanggil manusia untuk kembali menghidupkan cahaya dalam dirinya, kembali melihat diri dengan cahaya hati, karena cahaya merupakan pengantar informasi yang suci. Untuk kita dapat menyerap cahaya suci Ilahi, penting bagi diri membangun tirakat untuk menumbuhkan dan mendapatkan pencerahan sejati dari diri sendiri. Cahaya adalah pengantar ilmu yang tidak tertulis, namun sampai dalam rasa manusia lewat cahaya batin dan ilmu titen. Leluhur menyebutnya “Sastro Jendro Hanyuningrat Pangruat Diyu”, yaitu ilmu agung yang mengubah manusia dari kebodohan dan menaklukkan keangkaramurkaan. Ingat pesan leluhur, ilmu bukan di kepala, tetapi ilmu ada pada kesadaran.
Gunung Padang merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Sunda sudah memiliki sistem spiritual yang lebih luhur. Ilmu cahaya lebih tua karena bersumber dari kosmos. Gunung Padang adalah tempat yang menghubungkan diri manusia pada penguasa alam semesta dan tempat menerima pengetahuan suci untuk membentuk kesadaran diri bahwa diri kita tidak bisa lepas dari alam dan Sang Pencipta. Cahaya masuk pada rasa menjadi sensor batin untuk membaca kebenaran, pikiran sebagai mesin memproses data, dan napas sebagai koneksi tubuh dan kesadaran. Jika ketiganya bekerja secara harmonis, cahaya akan mengalir. Ketika salah satu kacau, maka cahaya akan padam. Untuk menciptakan bumi penuh kesejahteraan dan kembali pada zaman keemasannya, manusia harus hidup harmonis dan seimbang. Cahaya akan terwariskan kepada kita jika yang tinggi adalah kesadaran, dengan bukti nyata perilaku hidup yang baik.
“Buhun dijunjung, sangkan ngarti kana Purwadaksi.”
“Kembalikan nilai budi warisan leluhur Sunda.”
Bandung, Senin, 13 Juli 2026
Dinten Soma, Kaping 5 K Pon, Sasih Margasira 1963 Caka Sunda
YAYASAN SUNDA13BUHUN

Judul: Peradaban Cahaya adalah Menyalanya Nilai Budi dan Membawa Bumi Sejahtera Terhubung pada Gunung Padang
Penulis: Ambu Rita Laraswati (Ketua Yayasan Sunda13 Buhun, Budayawati, Seniman, Spiritualis, Redaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News)
Editor: Parkah












