MajmusSunda News, Selasa (23/06/2026) – Artikel Berjudul “Dinamika Gerakan Mahasiswa, Sebagai Proses Intropreksi, Evaluasi, Solusi Terpadu Kegagalan Membangun Bangsa” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.
Lebih dari 80 tahun Indonesia Merdeka, ternyata masih cukup jauh dari yang dimimpikan maupun yang dicita citakan rakyat, Indonesia yang berdaulat, bermartabat setara dengan Bangsa lain, dan ikut serta menjaga kedamaian dan ketenteraman Dunia.
Semakin jauh dari angan angan, Indonesia yang adil , Makmur, Sejahtera, dan berdiri diatas kekuatan sendiri masih menjadi harapan, ketergantungan terhadap Bangsa Asing, serta sekadar menjadi sasaran pasar, dilecehkan , marak dengan konflik dan kekerasan, anomali dan ironi.

Apa yang salah dengan Bangsa yang sangat berbudaya ini ? dan siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi Bangsa seperti itu ?, apa yang dapat dilakukan oleh Komponen Kritis Bangsa menuju kemasa depan ?. Komponen kritis tersebut, dimulai dengan bangkitnya Gerakan terpadu Mahasiswa di seluruh Indonesia, dimulai dengan Angkatan 66, disusul Gerakan MALARI, dilanjutkan dengan Eksponen 77-78, 80 dan semarak 1998, sampai dinamika gerakan Mahasiswa 2000an sekarang.
Dari gerakan awal sampai sekarang, mulanya melakukan koreksi, baik terhadap komitmen Mahasiswa, maupun terhadap penyimpangan dalam Pengelolaan Negara dan Pemerintahan. Gerakan Moral Mahasiswa tersebut , dari awal sampai detik ini, terutama melihat dan sangat merasakan bahwa Pemberantasan Korupsi dan KKN masih sangat terasa sebagai Window Dressing serta sangat kuatnya praktek praktek KKN, maupun Penegakkan Hukum yang salah, dibidang ekonomi sama sekali tidak ada reformasi, yang berorientasi hanya pada menaikkan pajak, BBM, dan orientasi hutang pada Luar Negeri.
Keterpurukan makin sempurna, karena semakin miskinnya Sense Of Crisis kelas menengah keatas, yang seharusnya menjadi pelopor dalam menyelesaikan berbagai masalah, berdampak mendalam ketidak mampuan mengelola Lingkungan Hidup, sehingga dimana mana timbul bencana banjir, tanah longsor, Kebakaran area hutan.
Disisi kelola sanitasi lingkungan juga lemah, muncul berbagai wabah penyakit ( DBD, Flu burung, Lumpuh layu, TBC dll ), juga kurang terurusnya fakir miskin dan anak terlantar, kebijakan publik yang mandul juga melahirkan benih bencana sosial, seperti : meningkatnya angka kriminalitas, bunuh diri, kekerasan terhadap anak, konflik rumah tangga dan orang gila, dan paling berbahaya adalah mewabahnya secara gila gilaan LGBT.
Pelbagai Lembaga baru telah dibentuk, sehingga banyak elemen masyarakat dapat ikut mengambil dan koreksi Keputusan Koreksi dan Hukum. Namun dalam kenyataannya, lagi lagi perubahan yang dilakukan para Elit Bangsa tersebut, belum dapat mengangkat Bangsa ini dari keterpurukan.
Untuk itulah secara moral Mahasiswa bergerak, turun kejalan, Demonstrasi dsb, mengingatkan kembali para pembuat kebijakan yang cerdas, sampai saat ini stagnan, karena mentalitas dan perilaku masyarakat yang tidsk kunjung berubah, menyarankan Bangsa ini harus segera dapat mengubah pola berfikir dari yang sibuk memikirkan diri sendiri, saling menghancurkan , cepat puas dari apa yang dimilikinya, menjadi pola fikir untuk terus berusaha meraih tujuan Kemerdekaan Proklamasi 1945. serta meminggirkan Nihilisme, Hedonisme, Utilitarianism, termasuk Epicurianism.
Persaingan diantara elit politik, parlemen, penegak hukum, maupun parpol sudah cukup mengkhawatirkan, memperlihatkan dengan jelas, berlangsungnya perebutan kepentingan jangka pendek, yang semata mata untuk kepentingan golongannya sendiri.
Para elit bertarung dengan sengitnya antara fihak yang berposisi untuk mempertahankan, dengan fihak yang ingin merebut kekuasaan, sekalipun dengan praktek Money Politic, dan memobilisasi massa sebagai Media dan alat senjatanya.
Masalah masalah yang diangkat sejak gerakan Reformasi, dewasa ini bermunculan kembali seperti : Korupsi, ketidak adilan hukum, penyalah gunaan wewenang dan kekuasaan, maupun praktek penyimpangan lainnya, dilain fihak ada kalangan yang asyik menata kehidupan dan kepentingan mereka sendiri, seperti pembagian Mobil, menaikkan gaji maupun pemenuhan fasilitas lainnya. Karena itu, gerakan Mahasiswa pada dasarnya mengajak dan mengingatkan semua lini untuk perlu membuka diri, untuk mencari rujukan dan Solusi Solusi baru ( jangan disamakan dengan Mahasiswa Mahasiswa yang Sowan pada unsur tertentu dan dibayar), yang dapat mengantarkan Bangsa ini menjalani proses alih Generasi secara Damai dan Demokratis, serta menawarkan Solusi yang dapat diimplementasikan, menggagas Institusi yang realistis dan tepat guna.
Sehingga masyarakat dapat terbangun, karena pola sikap masyarakat pada umumnya dianggap sebagai inti ( Core) dari Political Culture , mencerminkan sikap budaya terhadap otoritas, pola sikap deference ( hormat, respect dan patuh ), masyarakat kita harus meninggalkan kebiasaan cenderung pemalas, tidak menghargai waktu, fatalistik, dan Nrimo ing pandum.
***
Judul: Transformasi Manajemen Dalam Rangka Menghadapi Peluang dan Tantangan
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












