MajmusSunda News – Bandung, Senin (15/06/2026) – Puisi-puisi Ibu Halimah Munawir memperlihatkan suatu dunia batin yang tidak gaduh, tidak berteriak, dan tidak berhasrat menaklukkan pembacanya dengan pernyataan-pernyataan besar. Ia hadir dengan suara lirih, seperti seseorang yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri di ambang malam, ketika dunia luar mulai surut dan yang tertinggal hanyalah detak hati, ingatan, doa, dan kesadaran bahwa manusia pada akhirnya hanyalah makhluk yang berjalan pulang.
Kekuatan utama puisi-puisi ini terletak pada pengalaman batin perempuan yang ditulis bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kesadaran hidup yang tumbuh perlahan dari keseharian. Perempuan dalam puisi-puisi Halimah Munawir bukan sekadar identitas biologis atau sosial, melainkan subjek rohani yang mengalami, merasakan, menahan, mengingat, mencintai, bersabar, dan berserah. Ia tidak hadir sebagai tokoh yang ingin menuntut pengakuan secara keras, tetapi sebagai pribadi yang memahami kedalaman dirinya melalui pengalaman yang sunyi.
Dalam banyak puisi spiritual, sering kali kita menemukan bahasa yang retoris, penuh seruan, bahkan kadang terasa seperti ceramah yang dipadatkan menjadi bait. Puisi-puisi Halimah Munawir tidak bergerak ke arah itu. Spiritualitas yang dibangunnya tidak menggurui. Ia tidak menempatkan penyair sebagai orang yang sudah selesai menemukan kebenaran, lalu menyampaikannya kepada pembaca dari tempat yang lebih tinggi. Sebaliknya, puisi-puisi ini justru lahir dari kesadaran akan kerapuhan manusia. Di dalamnya ada rasa kecil, rasa kurang, rasa ingin mendekat, rasa ingin memahami kehendak Tuhan tanpa merasa telah memilikinya.

Karena itu, spiritualitas dalam puisi-puisi ini lebih dekat kepada zikir batin daripada ceramah. Zikir yang tidak selalu berupa ucapan formal, tetapi berupa kesadaran yang terus menyala dalam hal-hal kecil: dalam perjalanan, dalam kesepian, dalam tubuh yang letih, dalam doa yang tidak terdengar orang lain, dalam ingatan kepada tanah suci, dalam hubungan antara diri dan Sang Pencipta. Iman dalam puisi-puisi ini bukan iman yang dipamerkan, melainkan iman yang sunyi. Iman yang tidak sibuk menyatakan dirinya, tetapi diam-diam bekerja di kedalaman jiwa.
Salah satu pijakan penting dalam puisi-puisi Halimah Munawir adalah spiritualitas keseharian. Ia tidak selalu mencari Tuhan dalam gambaran yang megah dan jauh, tetapi dalam pengalaman yang dekat dengan kehidupan. Di sini, keseharian bukan sesuatu yang rendah atau sepele. Justru dari keseharian itulah makna transenden ditarik. Kata-kata sederhana, benda-benda biasa, pengalaman personal, perjalanan hidup, rasa sakit, rindu, syukur, kehilangan, dan pengharapan menjadi jalan menuju permenungan yang lebih dalam.
Diksi yang digunakan Halimah Munawir umumnya sederhana. Namun, kesederhanaan itu tidak berarti miskin makna. Kata-kata sehari-hari dalam puisinya sering kali mengalami perluasan makna. Ia tidak memaksa kata menjadi rumit, tetapi membiarkan kata yang sederhana memantulkan kedalaman. Di sinilah salah satu kekuatan puitiknya. Ia tidak tergoda untuk membangun puisi dengan abstraksi yang terlalu berat. Ia lebih memilih bahasa yang akrab, tetapi di balik keakraban itu tersembunyi getaran spiritual.
Puisi-puisi semacam ini menunjukkan bahwa kedalaman tidak selalu lahir dari kerumitan. Kadang-kadang, yang paling dalam justru datang dari bahasa yang paling jernih. Seperti air bening yang tampak sederhana, tetapi menyimpan dasar yang tidak selalu terlihat. Dalam puisi-puisi Halimah Munawir, kesederhanaan diksi menjadi jalan menuju kontemplasi. Kata tidak menjadi hiasan yang berlebihan, melainkan semacam pintu kecil menuju ruang batin yang lebih luas.
Ciri lain yang menonjol adalah kecenderungan naratif-reflektif. Puisi-puisi ini tidak bersifat deklaratif. Ia tidak datang dengan pernyataan-pernyataan mutlak. Ia lebih sering bergerak seperti percakapan batin, seperti catatan perjalanan jiwa, seperti seseorang yang sedang menengok kembali pengalaman hidupnya sambil bertanya: apa makna semua ini di hadapan Tuhan? Dengan demikian, puisi-puisi ini memiliki gerak batin yang lembut. Ia tidak menghentak, tetapi mengajak pembaca mengikuti alur renungan.
“Aku” dalam puisi-puisi Halimah Munawir juga menarik untuk diperhatikan. Dalam banyak puisi modern, “aku” sering tampil sebagai pusat dunia: aku yang menggugat, aku yang memberontak, aku yang memproklamasikan luka, aku yang ingin menguasai makna. Dalam puisi-puisi Halimah Munawir, “aku” hadir dengan corak yang berbeda. “Aku” bukan pusat dunia, melainkan makhluk. Ia subjek yang rapuh, tetapi sadar. Ia tidak meniadakan dirinya, tetapi juga tidak membesarkan dirinya. Ia sedang belajar tunduk.

Kesadaran untuk tunduk ini penting. Tunduk dalam puisi-puisi ini bukan berarti kalah secara pasif, melainkan kesediaan rohani untuk menerima keterbatasan manusia di hadapan rahasia Tuhan. Tunduk berarti menyadari bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan, tidak semua luka dapat segera dipahami, tidak semua doa langsung mendapatkan jawaban yang terang. Namun, dalam ketidaktahuan itu, manusia tetap berjalan, tetap berdoa, tetap percaya.
Dari sini tampak bahwa kesalehan dalam puisi-puisi Halimah Munawir bukan pencapaian final. Ia bukan mahkota yang sudah selesai dikenakan. Kesalehan hadir sebagai proses. Sebagai perjalanan panjang. Sebagai latihan terus-menerus untuk melembutkan hati. Puisi-puisi ini tidak menampilkan subjek lirik sebagai manusia yang telah sampai, tetapi sebagai manusia yang sedang menuju. Justru di situlah kejujurannya. Ia tidak mengklaim kesempurnaan, melainkan memperlihatkan perjalanan menuju penerimaan, kesabaran, dan keikhlasan.
Pengalaman spiritual yang kuat, terutama pengalaman yang berkaitan dengan tanah suci, menjadi salah satu sumber kedalaman puisi-puisi ini. Tanah suci dalam puisi Halimah Munawir bukan sekadar lokasi geografis, bukan hanya tempat yang dikunjungi secara fisik. Ia menjadi ruang batin, tempat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri secara lebih jernih. Di tanah suci, tubuh berjalan, tetapi jiwa ikut ditimbang. Kaki melangkah, tetapi batin menunduk. Mata melihat bangunan dan kerumunan, tetapi hati merasakan kehadiran yang tak sepenuhnya dapat dibahasakan.
Pengalaman seperti itu memberi warna khusus pada puisi-puisinya. Relasi tubuh, jiwa, dan Tuhan menjadi terasa kuat. Tubuh bukan sekadar wadah biologis. Tubuh adalah tempat pengalaman spiritual berlangsung. Tubuh letih, tubuh berjalan, tubuh menunggu, tubuh menahan rindu, tubuh menangis, tubuh bersujud. Tetapi melalui tubuh itulah jiwa belajar mengenal batasnya. Tubuh menjadi jalan menuju kesadaran bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas dirinya.
Dalam konteks ini, puisi-puisi Halimah Munawir memperlihatkan spiritualitas yang sangat berakar pada pengalaman perempuan. Ruang domestik dan ruang kosmik bertemu dengan cara yang halus. Perempuan dalam puisi-puisi ini hidup dalam keseharian yang mungkin tampak biasa: rumah, keluarga, doa, pengabdian, ingatan, kesabaran. Namun, dari ruang domestik itu terbuka cakrawala kosmik. Yang kecil tidak terpisah dari yang besar. Yang dekat tidak terpisah dari yang ilahi. Dapur, kamar, sajadah, perjalanan, air mata, dan doa diam-diam menjadi bagian dari semesta makna yang luas.
Di sinilah keunikan puisi-puisi Halimah Munawir. Ia tidak perlu meninggalkan pengalaman domestik untuk menjadi spiritual. Ia tidak perlu meniru suara keras dunia luar untuk menyatakan kedalaman batinnya. Justru dari ruang-ruang yang kerap dianggap kecil itulah ia menemukan hubungan dengan Tuhan. Spiritualitasnya bukan spiritualitas yang melarikan diri dari keseharian, melainkan spiritualitas yang tumbuh di dalam keseharian.
Kita dapat menyebut corak puisi seperti ini sebagai mistisisme lembut. Ia berbeda dari corak sufisme maskulin yang sering digambarkan penuh ekstase kosmik, ledakan metafora besar, pengembaraan ke langit-langit makna, dan hasrat menyatu dengan Yang Mutlak dalam bahasa yang membara. Puisi-puisi Halimah Munawir tidak bergerak dengan api besar semacam itu. Ia lebih mirip bara kecil yang tetap menyala di bawah abu. Tidak mencolok, tetapi hangat. Tidak menghanguskan, tetapi menerangi.
Mistisisme lembut ini sangat penting karena ia menawarkan wajah lain dari pengalaman religius. Pengalaman spiritual tidak selalu harus hadir sebagai ekstase, loncatan metafisis, atau pengakuan-pengakuan besar tentang penyatuan. Ia juga bisa hadir sebagai kesabaran seorang perempuan dalam menjalani hari, sebagai doa yang diucapkan pelan, sebagai air mata yang disembunyikan, sebagai keikhlasan yang tidak dipertontonkan, sebagai kesadaran bahwa Tuhan sering kali lebih dekat dalam diam daripada dalam pidato panjang.
Puisi-puisi Halimah Munawir juga menarik karena tidak berambisi menguasai makna. Ada puisi yang seakan-akan ingin menjelaskan seluruh dunia. Ada puisi yang memaksa pembaca menerima kesimpulan tertentu. Puisi-puisi ini tidak demikian. Ia lebih memilih menemani pembaca duduk sejenak dalam sunyi. Ia membuka ruang, bukan menutup tafsir. Ia mengajak, bukan memerintah. Ia membisikkan, bukan meneriakkan.
Sikap estetik seperti ini membuat puisinya terasa intim. Pembaca tidak merasa sedang berada di hadapan mimbar, melainkan di samping seseorang yang sedang berbagi pengalaman batin. Kedekatan semacam ini menjadi kekuatan tersendiri. Puisi tidak lagi hanya menjadi teks yang dibaca, tetapi menjadi ruang perjumpaan. Pembaca dapat masuk ke dalamnya tanpa merasa dihakimi. Ia dapat menemukan pengalaman dirinya sendiri dalam pengalaman penyair.
Ada kualitas keibuan yang terasa dalam puisi-puisi ini, tetapi bukan dalam arti sentimental yang dangkal. Keibuan di sini lebih berupa keluasan batin untuk menampung luka, doa, kesabaran, dan pengharapan. Puisi-puisi ini seolah tidak terburu-buru memberi jawaban. Ia membiarkan luka duduk, membiarkan rindu berbicara, membiarkan doa tumbuh perlahan. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian cepat, puisi-puisi semacam ini mengajarkan nilai menunggu tanpa harus mengatakan “bersabarlah” secara langsung.
Sebagai karya puitik, puisi-puisi Halimah Munawir memiliki nilai penting karena menghadirkan pengalaman religius perempuan dengan bahasa yang personal. Ia tidak menjadikan agama sebagai sistem doktrin yang kering, tetapi sebagai pengalaman batin yang hidup. Di dalam puisinya, iman bukan sekadar konsep, melainkan napas. Doa bukan sekadar kewajiban, melainkan percakapan paling sunyi antara manusia dan Tuhan. Kesabaran bukan sekadar nasihat moral, melainkan jalan yang dilalui tubuh dan jiwa dalam waktu yang panjang.
Dengan demikian, puisi-puisi ini memiliki daya jangkau yang melampaui konteks personal penyairnya. Walaupun berangkat dari pengalaman pribadi, ia dapat menyentuh pembaca yang lebih luas karena pengalaman yang dihadirkannya bersifat manusiawi: rindu, rapuh, takut, berserah, berharap, belajar ikhlas, dan ingin pulang kepada sumber kasih. Di titik ini, yang personal menjadi universal. Yang domestik menjadi kosmik. Yang lirih menjadi mendalam.
Karena kualitas itulah buku puisi ini layak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Bukan semata-mata agar dikenal lebih luas, tetapi karena pengalaman batin yang dikandungnya memiliki kemungkinan untuk berkomunikasi dengan pembaca lintas budaya. Spiritualitas yang lirih, pengalaman perempuan, doa personal, relasi tubuh-jiwa-Tuhan, serta pencarian makna dalam keseharian adalah tema-tema yang dapat dipahami oleh banyak manusia, dari latar bahasa dan kebudayaan yang berbeda.
Tentu, penerjemahan puisi semacam ini memerlukan kehati-hatian. Yang harus dipindahkan bukan hanya arti kata, melainkan getaran batinnya. Kesederhanaan diksi harus tetap dijaga agar tidak menjadi datar. Nuansa spiritualnya harus tetap terasa tanpa berubah menjadi retorika. Keintimannya harus dipertahankan agar pembaca dalam bahasa lain tetap merasakan suara lirih yang menjadi kekuatan utama puisi-puisi ini.
Pada akhirnya, puisi-puisi Ibu Halimah Munawir adalah puisi-puisi yang tidak datang untuk membuat kegaduhan. Ia datang seperti seseorang mengetuk pintu perlahan. Bila pintu dibuka, yang masuk bukan gemuruh, melainkan sunyi yang jujur. Di dalam sunyi itu ada doa, ada perempuan, ada tubuh yang letih, ada jiwa yang belajar, ada Tuhan yang tidak selalu dijelaskan, tetapi terus dirasakan.
Puisi-puisi ini mengingatkan kita bahwa sastra spiritual tidak harus tinggi hati. Ia tidak harus penuh istilah besar. Ia tidak harus menjulang dengan retorika keagamaan yang keras. Kadang-kadang, puisi spiritual yang paling menyentuh justru adalah puisi yang paling rendah hati: yang hanya ingin duduk bersama pembaca, menyalakan sedikit cahaya, lalu membiarkan batin masing-masing menemukan jalannya sendiri.
Dalam dunia yang semakin bising oleh pernyataan, puisi-puisi Halimah Munawir memilih menjadi bisikan. Dan justru karena ia berbisik, kita terdorong untuk mendengarkan lebih dalam. (13 Juni 2026).
Salah satu puisi yang dibacakan oleh Bunda Halimah:
Air Mata Jubaidah
Pada wukuf tanah tandus Arafah
Sengat mentari tanpa air
Jiwa-jiwa lepas dari raga.
Oleh dehidrasi.
Tak terhitung gugurnya para suhada,
Air mata Jubaidah mengalir.
Tapi bukan untuk diratap.
Taif menjawab air mata Jubaidah,
Istri Khalifah Harun Al-Rasyid
Ditancapkannya semangat riyal,
Juga jiwa raga.
Berkilo-kilo berjalan di antara bebatuan.
Di bawah sengat mentari,
Dingin menggigit tulang,
Jubaidah tak perduli.
Air mata Jubaidah
Mengalir dari Taif ke Mina
Untuk tak ada yang sahid.
Jannah untukmu, Jubaidah.
Taif, 2/11/25
Judul: Puisi sebagai Zikir Batin: Membaca Puisi Keagungan Kota Suci Ibu Halimah Munawir

Penulis: Ganjar Kurnia, akademisi, guru besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Tulisan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, pada acara Silaturahmi dalam rangka syukuran berdirinya MajmusSunda News, Minggu, 14 Juni 2026, di Hotel Holiday Inn Pasteur Bandung, Jl. Dr. Djunjunan No. 96, Bandung.
Editor: Asep Zaenal Mustofa/Parkah












