Melampaui Batas Bahasa: Negosiasi Perbedaan Sosial dan Budaya dalam Komunitas Teater Celah-Celah Langit Bandung

Oleh : Nauvalia Hanidia

MajmusSunda News – Bandung. Di balik gang sempit, Gang Bapak Eni, Ledeng, Bandung, berdiri sebuah komunitas yang menjadikan perbedaan sebagai bahan berkarya. Komunitas Celah-Celah Langit (CCL), yaitu komunitas sastra yang merupakan ruang pertemuan manusia-manusia dengan latar belakang sosial, budaya, dan bahasa yang berbeda, yang disatukan oleh keresahan yang sama.

CCL terbentuk dari akar toleransi yang tumbuh dari kota di mana ia dibentuk. Bapak Iman
Soleh, pendiri CCL, menyebut Bandung sebagai kota yang sejak awal dibangun di atas
kesadaran majemuk, dimana nama-nama jalannya saja sudah mencerminkan keberagaman
nusantara: Jalan Aceh, Jalan Papua, Jalan Kalimantan, Taman Maluku. “Kalau kamu
mempelajari Kota Bandung, kamu sudah pasti harus jadi orang yang toleran,” katanya.
Kesadaran inilah yang kemudian menjadi fondasi CCL dalam menghadapi perbedaan.

Mereka memulainya bukan dari kolaborasi persamaan bahasa atau budaya, namun
mereka memulainya dari persamaan masalah. Di mana korupsi, kemanusiaan, lingkungan, dan
kepemilikan tanah adalah isu yang tidak mengenal batas daerah maupun negara. Seperti yang
dikatakan bapak Iman Soleh, “kalau ada korupsi di Aceh, boleh orang Bandung demo.” Prinsip
inilah yang menjadi pijakan CCL ketika menyatukan aktor dari Aceh, Makassar, Jakarta, bahkan
Jerman dan Australia dalam satu panggung peruntunjukan “Tanah” pada tahun 2014 yang
menyuarakan keresahan penduduk global. Ketika semua orang merasa memiliki masalah yang
sama, perbedaan bahasa dan latar belakang sosial menjadi urusan kedua.

Tantangan muncul ketika para aktor dari berbagai negara harus bertemu dalam satu
proses latihan. Bahasa verbal sering kali tidak cukup membantu, karena adanya latar belakang
sosial yang berbeda. Namun, justru di situlah CCL menemukan titik temunya. Bapak Iman Soleh
menyadari bahwa di balik semua perbedaan tersebut, ada satu hal yang menyatukan mereka yaitu
ritme kehidupan manusia sehari-hari. “Aktor dari Prancis harus menyuapi anaknya sebelum
datang latihan. Aktor dari Australia berjualan es krim pada pagi hari. Aktor dari Bandung lebih
dulu ikut kerja bakti kampung.” Pada akhirnya, mereka menjalani kehidupan yang sama, “Yang
membedakan adalah catatan, tapi nasibnya sama — luka sama, hantu sama menakutkan, ketawa
pun alasannya sama,” ucap bapak Iman Soleh. Dari kesadaran itulah CCL membangun
komunikasi, bukan melalui kesamaan bahasa, melainkan melalui kesamaan pengalaman hidup.
Bahasa tubuh, gestur, dan ekspresi kemudian menjadi jembatan yang terasa lebih jujur
dibandingkan kata-kata.

Yang menarik dari CCL adalah cara mereka mengelola perbedaan, bukan dengan
melebur semua menjadi satu warna, melainkan dengan bernegosiasi. Dalam proses kolaborasi,
aktor memiliki hak atas teksnya sendiri, sementara sutradara memegang arah pertunjukan. Setiap
suara dihargai, setiap latar belakang diakui. Hal ini bahkan tercermin dalam pilihan bahasa di
atas panggung, CCL pernah mementaskan pertunjukan dengan 10 bahasa daerah sekaligus,
bukan demi eksotisme, melainkan karena setiap bahasa menyimpan pengetahuan dan cara
pandang yang tidak bisa digantikan oleh bahasa lain.

CCL membuktikan bahwa menyatukan perbedaan bukan soal menemukan keseragaman,
melainkan soal membangun kepercayaan, bagaimana bahwa keresahanmu juga keresahanku,
bahwa hidupmu tidak jauh berbeda dari hidupku, dan bahwa suaramu berhak didengar apa
adanya. Seperti kata bapak Iman Soleh: “tulis tentang keresahan yang paling dekat, itu yang
membawamu ke tempat yang jauh.” Dari gang sempit Ledeng, CCL telah membuktikannya,
bukan dengan menghapus perbedaan, tapi dengan menjadikannya alasan untuk terus berdialog.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *