Disiplin, Kaidah Awal Pembinaan Pramuka, Membentuk Attitude

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Jum’at (05/06/2026) – Artikel Berjudul “Disiplin, Kaidah Awal Pembinaan Pramuka, Membentuk Attitude” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.

Titik tolak pembinaan kedisiplinan *Gerakan Pendidikan Kepanduan – Praja Muda Karana ( PRAMUKA )*, akan banyak mempengaruhi perkembangan kepribadian ( Personality ). Pengaruh itu terutama berasal dari hubungan sosialnya yang merupakan sesuatu yang lain. *( over wat anders )*. Para Pembina serta para Pengurus harus berpandangan maju *( Enlightened )*, supaya anggota termasuk peserta didik dan teman temannya, terlebih lebih identifikasi kedisiplinan peserta didik yang paling besar, adalah tergantung Singernya sang Pembina.

Ernawan S Koesoemaatmadja/ Pensiunan Guru Toge – (Sumber: Koleksi Pribadi)

Hal itu patut menjadi perhatian, bagi para Pembina dan Peserta didik yang berpangkalan di Sekolah, Lembaga ataupun Kantor, karena Kedisiplinan adalah proses latihan dan pendidikan yang memelihara serta membantu pertumbuhan dan perkembangan Sumberdaya Insaninya. *Secara Psikologis* perhatian terhadap disiplin , merupakan penyaluran sosial yang dapat diterima bagi anggota atau peserta didik selaku Individu. Jika energy manusiawinya diarahkan dalam bentuk yang teratur, maka tujuan tujuan individu akan tercapai.

Dimana titik berat dari Disiplin adalah *Self Control dan Self Direction*, dimana disiplin akan memberikan rasa aman dalam mengetahui dimana keleluasaan , keterbatasan, dan ruang gerak berada, jadi mengurangi kepanikan dan kebingungan. Disiplin membantu anggota dan peserta didik untuk melakukan hal hal yang benar atau baik, sehingga mereka mendapat pujian , maka dirangsang untuk melakukan perbuatan itu seterusnya. Disiplin memungkinkan peserta didik atau anggota, untuk hidup sesuai dengan standard tertentu, sehingga mengurangi pelanggaran atas azas Pendidikan. Disiplin merupakan kekuatan diri *( Ego Bolstering )*, bagi siapapun untuk memenuhi apa yang diharapkan daripadanya.

Disini bukan hanya untuk para anggota maupun peserta didik, yang harus menganut hal diatas, tapi juga bagi Para Pembina, Pengurus Gudep, Kwarran, Kwarcab, Kwarda, Kwarnas, karena aspek Disiplin dianggap *Developmental Need Of Human*, dimana intensitas dari kebutuhan disiplin manusia yang berbeda beda dan beraneka ragam. *Usia muda* , derajat penyesuaian diri yang rendah, dan perbedaan Sexe atau jenis kelamin ( Satuan Terpisah ) lebih membutuhkan disiplin kebebasan ( tertangkap dalam Games ) serta kreativitas dalam Latihan. Biasanya cukup memberikan hasil yang lebih baik , daripada *Disiplin yang terlalu ketat dan kaku* ataupun terlalu lemah.

Namun demikian, apalagi untuk tingkat Dewasa ( Penegak & Pandega ) Disiplin yang konsisten akan lebih menghasilkan kemampuan moral. Supaya betul betul berhasil, kontrol dari para Pembina berdasar System Among *( Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani )* haruslah realistis, jujur, konsisten dan diperkuat oleh kepuasan yang nyata *( Demonstrated Affection )* . Juga disertai rasa cinta kasih, rasa keadilan, rasa kepantasan, dan rasa kesanggupan berkorban. Rasa disiplin disertai inisiatif, Rasa tanggung jawab terhadap Tuhan, Masyarakat dan dirinya sendiri.

Disamping melaksanakan upaya Pendidikan Kepramukaan, Pembina juga harus memahami dan mengembangkan methoda Pendidikan Kepramukaan secara utuh. Sudah merupakan keharusan bagi Pembina dan Pengurus, mengisi dan memperlengkapi dirinya dengan Kursus Pembina dan Perkemahan, juga Training pada *Holistic Global Leadership Characteristics*, yang mencakup Emotional Intelligence, Ethical Values, Social Concerns, Artistic Persfectives, Religious Values and Concerns dll. Termasuk bagi para komponen Mabigus, Mabiran, Mabicab, Mabida, dst, diluar pemahsman Kursus Orientasi Pramuka. ( juga sebaiknya diberi Training terkait : Reflectif, Analytic, Worldly, Collaborative, Catalytic Mindset ).

Apabila hal diatas terpenuhi dengan baik, dilandasi prinsip dasar methodik Kepanduan, maka akan terpenuhilah sasaran yang ingin dicapai, pramuka harus kuat keyakinan beragamanya, tinggi mental dan moralnya, berjiwa *Pancasila*, sehat, segar dan kuat jasmaninya, cerdas dan tangkas serta terampil, berpengetahuan luas dan dalam.( *Perceka dan Binekas*).

Berjiwa kepemimpinan dan patriot, berkesadaran Nasional, peka terhadap perubahan lingkungan, berpengalaman banyak, yang bisa mereka dapat saat melakukan perjalanan dari satu tempat ketempat lain, seperti ujian badarat dari Penegak ke Laksana dst. Faktor penunjang lain yang harus diperhitungkan, adalah sesuai dengan keadaan , waktu dan tempat Pramuka yang dibinanya. Para Pembina dan Pengurus, harus mengetahui, mengerti *Bakat dan Minat* , kemampuan dan kebutuhan peserta didiknya.

Pembina harus berusaha mengembangkan bahan latihan , dengan penggunaan methoda yang tepat sesuai dengan kebutuhan masa datang, seperti Penekanan Pelatihan, *dari diajar menjadi Belajar*, agar mereka dapat bertanggung jawab untuk mengembangkan diri sendiri, melalui belajar. *( Qiyamuhu Bi Nafsihi atau Mandiri atas diri Pribadinya )*.

Oleh karenanya, berhasilnya suatu aktivitas pembinaan Pramuka, tidak cukup hanya dinilai dari hasil hasil Material yang dicapai saja, tetapi terutama dari hasil *Pengembangan aspek Psikologis*.

Salam Tri Satya dan Dasa Dharma.

***

Judul: Disiplin, Kaidah Awal Pembinaan Pramuka, Membentuk Attitude
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *