Pabaru Sunda 1963 Caka Sunda Menguatkan Jati Diri Utuh Menjadi Manusia

Penulis: Ambu Rita Laraswati

Pabaru Sunda 1963

MajmusSunda News – Bandung, Kamis (28/05/2026) – Pabaru Sunda 1963 digelar di Bandung pada 25 Mei 2026 (dinten Soma Wage, Sasih Kartika, taun 1963 Caka Sunda) bertempat di Batavia Hotel Savoy Homan, Jalan Asia Afrika No. 112. Diadakan silaturahmi Perayaan Awal Tahun Caka Sunda yang populer disebut “PABARU SUNDA”. Waktu pelaksanaan dimulai pukul 16.00 WIB–22.00 WIB. Silaturahmi Pabaru Sunda tahun 1963 Caka dilaksanakan oleh BESTDAYA (Bengkel Sudi Budaya), yayasan yang menjadi payung kalender Caka Sunda. Acara dihadiri para sesepuh Sunda, budayawan dan budayawati Sunda, serta generasi muda. Dihadirkan kesenian Tarawangsa Karisma yang mengiringi beberapa rangkaian acara di Pabaru Sunda 1963 Caka Sunda, di antaranya penetapan awal tahun Caka Sunda, Sawala Budaya dan Kosmologi Sunda, orasi ilmiah dan refleksi kesadaran, simbol paraketan dan Tumpeng Pajajaran, serta ditutup pembacaan Kidung Kamanusaan.

Ambu Miranda sebagai pendiri dan pengelola kalender Sunda menyampaikan dan menetapkan kalender baru 1963 Caka Sunda yang titik awal “Soma Wage, 1 Suklapaksa, Kartika 1963 Caka Sunda” dengan menginformasikan bahwa tahun 1963 Caka Sunda memiliki judul perjalanan alam membaca waktu “SEJARAH BERI MAKNA, MEMBACA WAKTU, MERAWAT HARMONI”, artinya memahami perjalanan dan ritme zaman, serta mampu melihat apa yang harus dilakukan di hari esok. Saya sebagai penulis dan praktisi budaya memiliki pandangan spiritual bahwa sejarah peradaban dunia, bangsa, dan negara dengan sejarah perjalanan manusia dahulu kala akan kembali menjadi panduan untuk hidup saat ini. Aturan dalam ilmu dan tatanan ditata kembali menggunakan ajaran-ajaran atau sistem masa lalu, dalam arti pribahasa Sunda “Buhun nu jadi panuntung sangkan ngehasilkeun sae na bahan” (yang kuno akan jadi guru agar menghasilkan bahan yang bagus). Kehidupan kita tidak terlepas dari masalah. Kita hidup merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu kita. Kita sebagai manusia harus bijak menyikapi perubahan zaman dan tidak melupakan akar budaya, tetapi tetap maju dan hidup berkembang. Ada hikmah yang kita dapatkan, menjadi pelajaran setiap fase perjalanan, dan jangan mengulang kesalahan lama.

Pabaru Sunda 1963
Suasana diskusi dalam rangka Pabaru Sunda 1963 Caka Sunda, di Ruang Batavia Hotel Savoy Homan Bandung.

Makna harmoni merupakan tindakan nyata setelah kita memahami sejarah dan mengerti perjalanan waktu. Tugas kita adalah menjaga persatuan, menghidupkan gotong royong, menghidupkan perdamaian, hidup dalam keseimbangan antara manusia dan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dan alam. Orang Sunda mengenalnya dengan ucapan Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh yang disebut “Siliwangi”. Hidupkan kerukunan, toleransi, dan keadilan yang merupakan pengetahuan tata cara hidup mencapai bahagia, dan tidak kalah penting nilai-nilai luhur persatuan dan keadilan hidup berjalan selaras dengan pribadi kita. Hal keterangan ini sangat selaras dengan tema hasil membaca dari kalender Sunda tahun 1963 Caka Sunda yaitu “Sejarah Beri Makna, Membaca Waktu, Merawat Harmoni”.

Dalam Sawala Budaya dan Kosmologi Sunda menghadirkan narasumber Raden Rozha Ramajasa Mintaraja, M.Ars. (Magister Arsitek), Andar Manik (Seniman dan Budayawan Sunda), Raden Dani (Ketua Rukun Wargi Sumedang), Engkus Rusmana (Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia), Mardika Edison (aktivis lingkungan), dan Dadang Utun (aktivis lingkungan). Mereka menyampaikan fungsi kalender Sunda dalam sejarah peradaban. Kalender Sunda merupakan kalender yang matrik selaras dengan diri manusia dan alam. Pesan alam yang terbaca menjadi sikap bagaimana menjaga alam, membaca makna tahun Hurang Tembey yang merepresentasikan kepekaan, keterhubungan, kebersamaan, dan kesadaran sosial. Sedangkan Windu ke-2 Kuntara mengandung makna keteguhan, luas pandangan, dan keseimbangan dalam menghadapi perubahan zaman. Dalam kosmologi Sunda, penjelasan awal tahun bukan sekadar menentukan hitungan waktu, melainkan meneguhkan arah kesucian hidup, artinya “membaca waktu menyelaraskan kesadaran” bahwa orang/jelma tidak hanya hidup di dalam waktu, tetapi juga dibentuk oleh cara memahami dan memberi makna terhadap perjalanan waktu. Intinya, Sawala luhur menghasilkan keselarasan dalam memaknai kalender Caka Sunda sebagai kompas kehidupan, dan secara kosmologi Sunda kalender Caka Sunda merupakan petunjuk dalam kehidupan di bumi.

Pabaru Sunda 1963

Dalam sesi Sawala luhur, Ambu Mira menyampaikan pesan Abah Ali Sastramidjaja yaitu:

“Di zaman milenium ke-1 orang hidupnya masih berada di zaman dogma.”

“Di zaman milenium ke-2 zaman separuh orang memakai dogma, separuh rasio/logika.”

“Di zaman milenium ke-3 jadi bila diajak musyawarah masalah yang masuk adalah rasio. Masalah yang diajukan di sini yaitu: Gusti menciptakan alam jagat bersama hukum lahir batin. Hukum di sini mengandung arti hukum keseimbangan, di mana alam murni, alam dibangun untuk semua makhluk, dan hukum memiliki arti adanya peradaban. Diri orang/jelma ada yang beradab dan tidak beradab. Masalah seterusnya karena kemampuan orang/jelma memiliki keterbatasan. Tegasnya batas yang dijadikan masalah ada lima alam yaitu alam angkasa, bumi, tanah, hewan, dan orang/jelma. Dengan cara begini pikiran orang/jelma dibuka bahwa Tuhan menciptakan alam bukan untuk keperluan orang/jelma saja, tetapi memiliki fungsi untuk keseimbangan alam. Tetapi kehidupan orang/jelma tetap dibudaya. Milenium sebelumnya artinya keseimbangan alam diganggu, akhirnya alam bakal menyeimbangkan dirinya, artinya bakal banyak kejadian berupa macam-macam bencana di seluruh kehidupan di bumi ini.”

Pabaru Sunda 1963
Roza Rahmadjasa⁩ selaku Budayawan dari Dewan Pakar Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Masyarakat Adat Sunda (Masda).

Zaman berganti dengan tatanan baru “zaman robah ganti ku tata anyar”, namun orang/jelma Sunda diajarkan untuk tetap membaca waktu, menjaga harmoni, dan berkesadaran, karena sejarah bukan hanya tentang masa lalu tetapi tentang bagaimana orang/jelma memaknai perjalanan waktunya. Tahun baru 1963 Caka Sunda selaras dengan buah kata sang Proklamator Soekarno, “Jas Merah” (jangan lupakan sejarah), pesan pidato terakhir bapak pahlawan bangsa tahun 1966. Mengapa Sang Proklamator berpesan sejarah? Karena sejarah adalah jati diri dan petunjuk arah kehidupan. Sejarah adalah akumulasi atau kumpulan nyata perjuangan, artinya sejarah tidak boleh dicampakkan seperti sampah dibuang di area belakang, disimpan dalam gudang barang bekas, tempat yang busuk dan kotor. Tetapi hai anak bangsa, kalian harus menempatkan sejarah di terdepan, dijaga, dijadikan dasar untuk maju dan terus maju mempertahankan serta menjadi manusia, tidak lagi jelma. Tahun baru 1963 Caka Sunda, Urang Tembey, Windu 2 Kuntara membangun energi kita menjadi manusia-manusia yang berkemanusiaan.

Penutup dari rangkaian hadir Ambu Rita Laraswati sebagai praktisi budaya dan praktisi seni. Dalam keteguhan batinnya menghasilkan jawaban atas refleksi tahun baru 1963 Caka Sunda, suatu narasi yang ditulis berbentuk kidung yaitu “Kidung Kamanusaan” yang dikidungkan untuk menutup acara perayaan tahun baru 1963 dengan isi sebagai “pepeling” atau peringatan. Narasi Kidung Kamanusaan tertulis di bawah ini:

Kidung Kamanusaan

Karya: Rita Laraswati

Sampurasun ka Sanghyang Wisesa
Gusti pangeran abdi, pangeran sejagat alam
Pun tabe pun leluhur Sunda angin,cai, seune, taneh nu jadi leluhur Sunda, nu disebat Sunda

Ti zaman baheula
nepi ka kiwari
manusia sarua ciptaan nu Maha Suci
beda warna, beda basa, beda bangsa
tapi hante jeung rasa sarua hakna…ahung 3x

Lamun aya nu cilaka, aya nu susah
ulah ngehina,
ulah ngajauhan
tapi ulurkeun leungen
pasihan bantuan
sebab urang sadayana dulur hakekatna sesama manusia

Ahung..hung jiiwa manusia hirup
Ahung…hung jiwa manusia hudang
Hung..jiwa manusa
ngancik kamanusaan

Harta jeung kakawasaan ngan samentara wae didunia moal dibawa ka alam
nu selamina nyak kahadean, asih, jeung welas asih ka sasama

Ulah ngebedakeun beughar jeung miskin,
luhur jeung hadap lemah jeung kuat
sarua di payun Gusti
sarua ku anjeuna
Supaya dunia iyeu aman
tengtram tur bagja

Ngan ukur amal budi
hirupkeun budi pekerti
nu sejati banda Sunda
Sunda geus kudu tembongkeun banda

Hayu baraya,
hayu sadayana
dulur Sunda sa alam dunia jaga silih asih, jaga silih asuh, jaga siliwangi, terapkeun ajaran Siliwangi ilmu sejati nu ngejalankeun welas asih ka seadanya mahluk Gusti

Hapuskeun dengki
hapuskeun pasea
hijikeun hate dina jalan
kebeneran, jeung ketengtreman

Anaking iyeu kidung
kudu di kidungkeun terus ka anak incu
ka generasi nu
bakal datang isukan
supaya teu poho kana ajaran leluhur Sunda

Kusebab dina badan na
aya kegeulisan dina rupa-rupa teh ayana kekuatan hiji jati, hiji getih, hiji asal usul, urang di wengku ku hideung, bodas, beureum, koneng asal muasal diri, diri sarua hayang bagja, sarua alim kana cilaka

Kamanusaan teh hakekatna ti ilmu
leluhur Sunda
heunte kabanget ku agama atawa nagara
dimana awe, iraha wae kudu dipiara supaya dunia iyeu aman, tentrem, luhur, bagja

Anaking iyeu amanat
leluhur Sunda
manusa sejati anu manfaat kasasama
geus wayahna Caka Sunda ngahirupkeun
manusa jalma kudu
jadi manusa

Ahung Sunda hudang Sunda ngawaruga
Ahung budi pekerti
geus wayah hudang
hudang jiwa manusia
ti jalma jadi manusa
budi pekerti nu manusa jadi manusa sejati

Rampes

Bandung, 26 Mei 2026
Anggara 2 Suklapaksa, Kartika, taun 1963 Caka Sunda

Ambu Rita Laraswati (Penulis)

Judul: Pabaru Sunda 1963 Caka Sunda Menguatkan Jati Diri Utuh Menjadi Manusia

Penulis: Penulis: Ambu Rita Laraswati (Ketua Yayasan Sunda13 Buhun, Budayawati, Seniman, Spiritualis, Redaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News)

Editor: Asep AZM/Parkah

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *