MajmusSunda News – Bandung, Senin (11/05/2026) – Kerajinan tangan membentuk karya seni dan budaya 12 Shio ditulis oleh Ambu Rita Laraswati. Seorang Budayawati, Seniwati, Spiritualis, Ketua Yayasan Sunda13Buhun, Radaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News
Shio merupakan sistem astrologi Tionghoa yang memakai 12 simbol hewan untuk menandakan siklus waktu 12 tahun. Dalam ajaran Tionghoa, Shio memiliki makna dan arti yang sangat dalam menjalani proses pertumbuhan kehidupan. Shio yang terdiri dari 12 bentuk dan karakter hewan memiliki makna yang sangat umum. Secara bahasa Tionghoa, kata Shio berasal dari bahasa “Sheshio” yang artinya “mirip”, yaitu 12 yang mirip watak dan karakter manusia sesuai lahir tahun Shio itu. Misalnya yang lahir Shio Naga, maka perwatakannya seperti laku dan karakter naga yang memiliki sisi baik dan sisi buruk.

Shio memiliki fungsi di antaranya sebagai penanda waktu. Sesudah Shio Tikus, pada tahun berikutnya adalah tahun Kerbau. Urutan 12 Shio yaitu Shio Tikus, Shio Kerbau, Shio Macan, Shio Kelinci, Shio Naga, Shio Ular, Shio Kuda, Shio Kambing, Shio Monyet, Shio Ayam, Shio Anjing, dan Shio Babi. Untuk memudahkan menghafal Shio, bisa membaca sambungan kata-kata:
“Tikus mengejar kerbau, Macan marah-marah, Kelinci lalu makan timun, Naga terbang ke angkasa, ular melingkar di pohon, Kuda lari tak tik tuk, Kambing makan rumput, Monyet makan pisang, Ayam berkotek, Anjing mengonggong, Babi tidur lelap.”
Shio Tikus berwatak cerdas, pandai mencari peluang, dan lincah. Memasuki Shio Kerbau berwatak tekun, sabar, bertanggung jawab, berprinsip, dan tidak goyah sebagaimana watak kerbau yang nurut, tekun, bertanggung jawab, dan berprinsip.
Penentuan Shio mengikuti kalender Imlek sesuai budaya tradisi Tionghoa, biasanya berganti di akhir bulan Januari hingga pertengahan Februari setiap tahun. Untuk mengetahui Shio, kita dapat mengetahuinya dari tanggal, bulan, dan tahun lahir.

Kita ambil contoh Shio Ular yang lahir pada tahun 1977, Shio siapa hayoo? Shio Ular memiliki karakter yang kompleks dan sangat menarik, di antaranya memiliki pemikiran yang tajam, mampu menganalisis sangat dalam, intuisi yang kuat melihat hal-hal yang tidak terlihat, membuat keputusan selalu tepat, memiliki aura tenang tetapi mistik, penampilan selalu elegan, tetapi sangat tersembunyi untuk urusan pribadi, pandai mengelola keuangan, finansial selalu stabil, muncul ide-ide kreatif, dan tepat dalam memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah. Terhadap pasangan sangat setia, sangat peduli pada orang yang disayangi, tetapi agak protektif. Shio Ular juga memiliki sifat yang kurang baik, yaitu cenderung tertutup, terlihat dingin sehingga membuat orang tidak percaya, cemburuan, pendendam, terlalu berhati-hati, dan kecerdasan yang dimiliki lebih pada penguatan pribadinya.
Keterangan Shio merupakan gambaran watak manusia sesuai waktu tahun kelahirannya yang dipengaruhi oleh kondisi waktu dan kondisi alam semesta. Shio adalah suatu perhitungan yang berlandaskan kearifan lokal suatu bangsa, belum tentu sama dengan perhitungan bangsa lain. Nah, bagaimana dengan Shio kamu?
Perlunya mengenal Shio untuk mengetahui pribadi dalam diri kita, baik positif maupun negatif, sehingga kita dapat mengenal diri sendiri, mengembangkan yang positif, dan memperbaiki yang negatif. Di situ kita dapat mengenal jati diri. Sebagai penanda waktu, Shio juga dapat berfungsi membaca karakter, menentukan jodoh, menentukan rezeki, mengajarkan nilai seni budaya, dan mengajarkan filosofi hidup.
Kerajinan tangan patung 12 Shio di Galery Pernawa
Pada tanggal 5 Mei 2026, pagi yang cerah saya, penulis, bersilaturahmi dengan sosok perempuan yang sangat terampil dan kreatif. Beliau adalah seorang seniman, yaitu Dara Yosi Surya. Teh Yosi, panggilan akrabnya, adalah seniman yang membuat patung 12 Shio dengan bahan baku kayu.
Dalam suasana ngobrol santai dan menikmati teh hangat, Teh Yosi menceritakan proses pembuatan patung 12 Shio. Papar Teh Yosi, patung 12 Shio menggunakan kayu yang berasal dari tanah air sendiri dan sumber daya manusia anak bangsa sendiri. Menurut Teh Yosi, tujuan membuat patung 12 Shio adalah pentingnya nilai seni budaya yang memiliki pengetahuan astrologi untuk diinformasikan. Cara Teh Yosi yaitu dengan membuat patung 12 Shio sebagai edukasi dan permainan mengenal hewan sebagai ciptaan Tuhan. Teh Yosi berencana patung 12 Shio Tiongkok akan dibuat lebih besar dan menggunakan bahan baku batu untuk mengembalikan peradaban yang lebih tua dari kayu.
Papar Teh Yosi, pentingnya memanfaatkan kayu sebagai sumber daya alam untuk dijadikan nilai ekonomi, tetapi juga memiliki visi melestarikan seni budaya tradisional. Bahan kayu yang dipakai untuk membuat patung 12 Shio adalah kayu Ki Anset atau kayu Crut-Crutan, dalam bahasa Latinnya Spathodea campanulata, lebih banyak disebut “pohon kembang api” (African Tulip Tree), yaitu pohon besar yang berbunga.
Ditemui di Galery Seni Pernawa, Jalan Panyandaan No. 1 RT 2/RW 5, Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Galery seni tersebut menjadi tempat Teh Yosi menuangkan imajinasi diri dan gerak tangan terampilnya untuk membentuk karya seni dengan tujuan mewujudkan cita-cita dalam pelestarian seni budaya serta melanjutkan cita-cita ayahnya yang juga seorang maestro seni rupa lulusan ITB, dosen seni rupa ITB, yaitu Surya Permana (almarhum), asli Singaraja Bali, pembuat patung I Gusti Ngurah Rai dalam momentum mengenang jasa I Gusti Ngurah Rai sebagai pahlawan nasional yang gugur pada 20 November 1946 serta menciptakan dan mengerjakan karya seni di Gedung DPR RI.
Bakat seni yang lahir dari DNA ayahnya membuat Teh Yosi memiliki keterampilan membuat karya seni dan budaya yang membuahkan hasil menjadi sistem industri seni dan menciptakan kerajinan tangan terpadu untuk mengkaryakan semua unsur, baik manusia, sumber alam, maupun pasar ekonomi.
Di galery yang sejuk, damai, dan lingkungan yang asri lahirlah karya seni budaya yang indah dipandang mata. Patung 12 Shio terlahir di Galery Pernawa dari tangan terampil dan imajinasi spektakuler Teh Yosi sebagai hasil karya seni atau kriya yang patut dihargai. Dari sosok-sosok pelestari seni, praktisi seni, dan budayalah bangsa Indonesia masih memiliki jati diri.
Ingat, kedaulatan bangsa kita didapatkan oleh perang dan perlawanan yang berdarah-darah. Tugas kita melanjutkan dan mempertahankan kedaulatan bangsa, yaitu dengan mengisinya melalui karya-karya kreatif yang mencirikan identitas suatu bangsa.
Sebagai seorang praktisi seni dan budaya, imajinasi meluas dan hasil karya meluas dari ciri suku bangsa mana saja akan terwujud menjadi karya nyata yang indah dipandang mata dan menghidupkan nilai-nilai filosofis sebagai cara menggali makna hidup semua makhluk di dunia.
Bandung, 11 Mei 2026
YAYASAN BUDAYA SUNDA BUHUN, SUNDA13BUHUN
Judul: Kerajinan tangan membentuk karya seni dan budaya 12 Shio
Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniwati, Spiritualis, Ketua Yayasan Sunda13Buhun, Radaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News)
Editor: Parkah












