Turunnya Harga Beras, Jangan Sampai Menurunkan Harga Gabah

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (01/09/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Turunnya Harga Beras, Jangan Sampai Menurunkan Harga Gabah” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Gabah dan Beras, dua kata yang kini banyak dibahas dan dibincangkan banyak pihak. Melimpahnya produksi beras dan naiknya harga beras di pasaran, membuat Pemerintah cukup was-was menghadapinya. Solusi Pemerintah menggenjot produksi dengan menambah jumlah areal tanam dan percepatan masa tanam, malah melahirkan anomali harga dalam dunia perberasan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Produksi beras yang melimpah, tidak seharusnya melahirkan harga beras di pasar melesat cukup tinggi. Lain cerita jika berasnya memang tidak ada di gudang-gudang Perum Bulog. Atas hal ini, ada juga pandangan yang menyebut, tingginya harga beras ini, lebih disebabkan oleh buruknya tata kelola perberasan yang selama ini digarap oleh Pemerintah.

Paling tidak, ada enam alasan, mengapa produksi beras berlimpah dan cadangan kokoh, tetapi harga beras tetap tinggi. Pertama, biaya produksi. Biaya produksi beras yang tinggi, seperti biaya tenaga kerja, pupuk, dan peralatan, dapat membuat harga beras tetap tinggi meskipun produksi berlimpah.

Kedua, distribusi yang tidak efisien. Distribusi beras yang tidak efisien, seperti kurangnya infrastruktur transportasi dan penyimpanan, dapat membuat harga beras menjadi lebih tinggi di daerah-daerah tertentu. Ketiga, speklulasii oleh pedagang atau pengusaha dapat membuat harga beras menjadi lebih tinggi, terutama jika mereka membeli beras dalam jumlah besar dan menyimpannya untuk dijual pada harga yang lebih tinggi di masa depan.

Keempat, kebijakan pemerintah, seperti tarif impor atau subsidi, dapat mempengaruhi harga beras di pasar domestik. Kelima, permintaan beras yang tinggi, terutama di daerah-daerah dengan populasi besar, dapat membuat harga beras menjadi lebih tinggi meskipun produksi berlimpah.

Keenam, kualitas beras yang berbeda-beda dapat mempengaruhi harga beras, dengan beras berkualitas tinggi memiliki harga yang lebih tinggi daripada beras berkualitas rendah. Dengan demikian, meskipun produksi beras berlimpah dan cadangan kokoh, harga beras dapat tetap tinggi karena faktor-faktor di atas.

Di sisi lain, dampak harga beras yang melejit tinggi bagi masyarakat dapat melahirkan kenaikan biaya hidup. Harga beras yang tinggi dapat meningkatkan biaya hidup masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan rendah. Kemudian, kesulitan akses pangan. Masyarakat yang berpenghasilan rendah mungkin kesulitan untuk membeli beras, sehingga mengancam akses mereka terhadap pangan yang seimbang.

Bisa juga terjadi peningkatan kemiskinan. Harga beras yang tinggi dapat memperburuk kemiskinan, terutama bagi masyarakat yang sudah rentan secara ekonomi. Lalu, dampak pada gizi. Keterbatasan akses terhadap beras yang terjangkau dapat mempengaruhi kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.

Selanjutnya menciptakan keresahan sosial. Harga beras yang tinggi dapat memicu keresahan sosial, seperti protes dan demonstrasi, terutama jika masyarakat merasa bahwa pemerintah tidak melakukan upaya yang cukup untuk mengatasi masalah ini. Bahkan dapat menciptakan dampak pada ekonomi. Harga beras yang tinggi juga dapat mempengaruhi inflasi dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Dihadapkan pada gambaran demikian, Pemerintah berusaha menerapkan beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menurunkan harga beras. Setidaknya ada delapan upaya yang bisa ditempuh yaitu :
1. Meningkatkan produksi. Pemerintah dapat meningkatkan produksi beras dengan memberikan subsidi pupuk, benih, dan peralatan kepada petani, serta meningkatkan infrastruktur irigasi dan pertanian.

2. Mengoptimalkan distribusi. Pemerintah dapat mengoptimalkan distribusi beras dengan membangun infrastruktur transportasi dan penyimpanan yang lebih baik, serta meningkatkan efisiensi rantai pasok.
3. Mengatur impor. Pemerintah dapat mengatur impor beras untuk memastikan bahwa harga beras domestik tidak terlalu tinggi, serta memastikan bahwa kualitas beras impor sesuai dengan standar

4. Subsidi harga. Pemerintah dapat memberikan subsidi harga beras kepada masyarakat, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah.
5. Mengembangkan program pangan. Pemerintah dapat mengembangkan program pangan yang terintegrasi, seperti program bantuan pangan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.

6. Mengawasi spekulan. Pemerintah dapat mengawasi spekulan yang membeli beras dalam jumlah besar dan menyimpannya untuk dijual pada harga yang lebih tinggi di masa depan.
7. Meningkatkan transparansi. Pemerintah dapat meningkatkan transparansi dalam perdagangan beras, sehingga masyarakat dapat memantau harga dan ketersediaan beras.

8. Kerja sama dengan petani. Pemerintah dapat bekerja sama dengan petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas beras, serta memastikan bahwa harga beras yang diterima petani adalah adil. Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, pemerintah dapat membantu menurunkan harga beras dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan yang terjangkau.

Sekalipun Pemerintah tampak jor-joran menurunkan harga beras, sebaiknya dipikirkan dengan matang dampak buruk yang akan terjadi. Jangan sampai upaya menurunksn harga beras ini berpengarih terhadap turunnya harga gabah di petani. Jika hal ini tercipta, maka perlu dipikirkan adanya terobosan cerdas yang semangatnya menurunksn harga beras tspi tidak menurunksn harga gabah.

Menghadapi hal seperti ini, tentu penting dicarikan rumusan yang cerdas dan ujung-ujung nya dapat membantu konsumen sekaligus tidak merugikan petani. Sebetulnya ada beberapa kebijakan yang dapat menurunkan harga beras tanpa menurunkan harga gabah, antara lain :

1. Meningkatkan efisiensi rantai pasok. Pemerintah dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok beras dengan memperbaiki infrastruktur transportasi dan penyimpanan, sehingga biaya distribusi dapat ditekan dan harga beras dapat turun tanpa mempengaruhi harga gabah.

2. Mengurangi biaya pemasaran. Pemerintah dapat mengurangi biaya pemasaran beras dengan memperbaiki sistem pemasaran dan distribusi, sehingga harga beras dapat turun tanpa mempengaruhi harga gabah.

3. Meningkatkan transparansi. Pemerintah dapat meningkatkan transparansi dalam perdagangan beras, sehingga masyarakat dapat memantau harga dan ketersediaan beras, dan harga beras dapat turun tanpa mempengaruhi harga gabah.

4. Mengawasi spekulan. Pemerintah dapat mengawasi spekulan yang membeli beras dalam jumlah besar dan menyimpannya untuk dijual pada harga yang lebih tinggi di masa depan, sehingga harga beras dapat turun tanpa mempengaruhi harga gabah.

5. Subsidi biaya distribusi. Pemerintah dapat memberikan subsidi biaya distribusi kepada pedagang atau pengusaha yang menjual beras, sehingga harga beras dapat turun tanpa mempengaruhi harga gabah.

Atas gambaran ini, tentu kita berharap, dengan menerapkan kebijakan-kebijakan tersebut, pemerintah dapat membantu menurunkan harga beras tanpa menurunkan harga gabah, sehingga petani dapat tetap mendapatkan harga yang adil untuk produk mereka.

***

Judul: Turunnya Harga Beras, Jangan Sampai Menurunkan Harga Gabah
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *