Padi Menguning di Tanah Papua

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

padi menguning

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (01/09/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Padi Menguning di Tanah Papua” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Sebetulnya, padi tidak harus tumbuh di Papua secara khusus. Padi dapat tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di luar Papua. Namun, Papua memiliki potensi untuk menjadi salah satu sentra produksi padi karena beberapa alasan: Pertama, ketersediaan lahan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Papua memiliki lahan yang luas dan potensi untuk dikembangkan menjadi area pertanian, termasuk padi. Kedua, dukungan iklim. Papua memiliki iklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan padi. Ketiga, kebutuhan pangan lokal. Papua memiliki kebutuhan pangan lokal yang harus dipenuhi, dan padi merupakan salah satu komoditas pangan penting.

Namun begitu, perlu diingat bahwa pengembangan pertanian padi di Papua juga memerlukan perhatian pada beberapa aspek, seperti infrastruktur. Pengembangan infrastruktur pertanian, seperti irigasi, jalan, dan gudang, sangat penting untuk mendukung produksi padi.

Kemudian, teknologi. Penggunaan teknologi pertanian yang tepat dapat membantu meningkatkan produksi dan kualitas padi. Sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia yang terampil dan berpengetahuan tentang pertanian padi juga sangat penting.

Pemerintah memang berencana mencetak satu juta hektar sawah di Papua, ambisi yang diklaim sebagai solusi ketahanan pangan nasional. Namun, di balik angka besar itu, muncul pertanyaan: apakah proyek ini benar-benar berpihak pada masyarakat Papua, atau justru menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi yang lebih dalam ?

Soal cetak-mencetak sawah dengan jumlah jutaan bektar, sebetulnya nangsa ini memiliki pengalaman cukup menyakitkan. Diatas kertas tampak menjanjikan namun dalam penerapan nya cukup memilukan. Kita ingat di era Pemerintahan Orde Baru terkait dengan program pencetakan sawah sejuta hektar lahan gambut di Kalimsntan Tengah.

Hasilnya sungguh mengecewakan. Boro-boro sejuta hektar. Seribu hektar saja masih belum dapat diwujudkan. Mencetak sawah baru, rupanya tidak semudah mencetak kue pukis. Banyak rintangan yang harus dilslui. Mulai ysng berhubungan dengan masalah fisik material hingga ke soal nilai budaya dan kearifan loksl. Lebih gawat lagi jika ada jebakan yang tak terduga.

Di sisi lain, kita juga memahami, landasan filosofi pencetakan sawah baru 1 juta hektar di Papua adalah untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan memperkuat kemandirian bangsa dalam menghadapi tantangan global. Pengembangan satu juta hektar sawah baru, diharapkan mampu memberi angin segar bagi dunia perberasan di masa depan.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan. Dengan mencetak sawah baru, pemerintah berharap dapat meningkatkan produksi pangan, terutama beras, untuk memenuhi kebutuhan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Kemudian, membangun kemandirian pangan. Pencetakan sawah baru ini juga bertujuan untuk membangun kemandirian pangan jangka panjang dengan meningkatkan kemampuan produksi pangan dalam negeri dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim global.

Selanjutnya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pencetakan sawah baru juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dengan membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.

Dan tak kurang pentingnya mengembangkan Wilayah Timur Indonesia. Papua dipilih sebagai lokasi program ini karena memiliki potensi lahan yang luas dan subur, serta kondisi geografis yang mendukung untuk pengembangan pertanian skala besar.

Dalam implementasinya, program ini melibatkan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal untuk menciptakan model pertanian yang efisien dan berkelanjutan. Pemerintah juga berkomitmen untuk menjalankan program ini dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan dan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Tantangan utama pencetakan satu juta hektar sawah baru di Papua adalah terkait dengan Analisis Dampak Lingkungan. Pentingnya melakukan analisis dampak lingkungan yang menyeluruh untuk memastikan kelestarian ekosistem Papua, termasuk perlindungan terhadap flora dan fauna setempat.

Kemudian, Pengelolaan Lahan Berkelanjutan. Mengelola lahan secara berkelanjutan untuk menghindari masalah teknis, sosial, dan lingkungan seperti yang terjadi pada proyek-proyek serupa di masa lalu. Jangan lupakan Keterlibatan Masyarakat Lokal. Memastikan pengelolaan lahan tetap selaras dengan nilai-nilai lokal dan melibatkan masyarakat adat serta pemangku kepentingan lainnya.

Cermati Infrastruktur Pendukung. Pembangunan infrastruktur pendukung seperti dermaga dan jalan untuk memfasilitasi kegiatan pertanian dan distribusi hasil panen. Dan pentingnya menjaga Keseimbangan Lingkungan. Menjaga keseimbangan lingkungan dan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pelaksanaan proyek.

Menjawab rintangan dan tantangan ini, beberapa terobosan cerdas untuk menjawab tantangan pencetakan sawah baru di Papua adalah:

  1. Penerapan Teknologi Pertanian Presisi. Menggunakan teknologi pertanian presisi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas lahan, serta mengurangi dampak lingkungan.
  2. Penerapan Sistem Irigasi yang Efisien. Mengembangkan sistem irigasi yang efisien dan berkelanjutan untuk mengoptimalkan penggunaan air dan mengurangi risiko kekeringan.
  3. Penggunaan Varietas Tanaman yang Sesuai. Menggunakan varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Papua untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman.
  4. Pengelolaan Lahan Berbasis Masyarakat. Mengembangkan pengelolaan lahan berbasis masyarakat yang melibatkan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan lahan.
  5. Infrastruktur yang Berkelanjutan. Membangun infrastruktur yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, seperti jalan dan dermaga, untuk memfasilitasi kegiatan pertanian dan distribusi hasil panen.
  6. Kerja Sama dengan Masyarakat Lokal. Mengembangkan kerja sama yang erat dengan masyarakat lokal untuk memastikan bahwa proyek pencetakan sawah baru selaras dengan nilai-nilai dan kebutuhan masyarakat setempat.

Sebagai penutup tulusan ini, berikut disampaikan beberapa rekomendasi agar program pencetakan satu juta hektar sawah di Papua berhasil. Paling tidak, ada tujuh kegiatan yang perlu disiapkan dengan matang yaitu:

Pertama, Perencanaan yang Matang. Melakukan perencanaan yang matang dan komprehensif, termasuk analisis dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Kedua, Keterlibatan Masyarakat Lokal. Melibatkan masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program untuk memastikan bahwa kebutuhan dan aspirasi mereka terpenuhi.
Ketiga, Penggunaan Teknologi yang Tepat. Menggunakan teknologi yang tepat dan sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Papua untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas lahan.

Keempat, Pengelolaan Lahan yang Berkelanjutan. Mengembangkan pengelolaan lahan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk memastikan kelestarian ekosistem Papua. Kelima, Infrastruktur yang Memadai. Membangun infrastruktur yang memadai, seperti jalan dan dermaga, untuk memfasilitasi kegiatan pertanian dan distribusi hasil panen.

Keenam, Dukungan Pemerintah yang Kuat. Mendapatkan dukungan pemerintah yang kuat dan konsisten untuk memastikan keberhasilan program. Ketujuh, Kerja Sama dengan Stakeholder. Mengembangkan kerja sama yang erat dengan stakeholder, termasuk masyarakat lokal, petani, dan investor, untuk memastikan keberhasilan program.

Kedelapan, Pemantauan dan Evaluasi yang Teratur. Melakukan pemantauan dan evaluasi yang teratur untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan rencana dan target. Kita optimis, dengan menerapkan rekomendasi ini, program pencetakan satu juta hektar sawah di Papua dapat berhasil dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Semoga padi menguning di tanah Papua bukan hanya sekedar obsesi, tetapi menjadi daya dorong untuk mempercepat terwujudnya swasembada pangan.

***

Judul: Padi Menguning di Tanah Papua
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *