Ketika 1,5 Sentimeter Bertemu 1,5°C

Oleh: Farhan Helmy

1.5 Sentimeter
Farhan Helmy

MajmusSunda News – Bandung, Rabu (02/09/2026) – Apa yang mempertemukan 1,5 sentimeter dengan 1,5°C? Bagi pengguna kursi roda, perbedaan hanya 1,5 sentimeter pada lingkungan binaan dapat menentukan apakah seseorang dapat bergerak secara mandiri atau harus mengandalkan bantuan orang lain. Sementara pada skala global, 1,5°C menjadi ambang penting dalam upaya bersama membatasi dampak perubahan iklim. Dua ukuran yang tampaknya berada di dunia yang sangat berbeda, tetapi keduanya mengingatkan kita bahwa perubahan yang terlihat kecil dapat membawa konsekuensi besar bagi manusia, masyarakat, dan masa depan kita bersama.

Paparan ini lahir dari perjalanan hidup dan pengalaman bertahun-tahun bekerja bersama komunitas melalui DILANS Indonesia, ASCODI Lab, dan berbagai mitra. Perjalanan yang semakin menguatkan keyakinan saya bahwa perubahan iklim, disabilitas, aging society, kesehatan, mobilitas, teknologi, keuangan, dan keberlanjutan tidak dapat ditempatkan dan ditangani dalam ruang-ruang yang terpisah. Tantangan yang kita hadapi sesungguhnya tidak terpisah dan saling terhubung dalam sebuah sistem. Yang masih terpisah justru sering kali adalah cara kita memahami dan meresponsnya.

Dari perjalanan dan refleksi inilah gagasan Inclusive Nexus berkembang, sebuah ajakan untuk melampaui cara pandang yang terfragmentasi dan sektoral, serta menghubungkan kembali pengalaman hidup, pengetahuan dan bukti, teknologi, tata kelola, keuangan, aksi iklim, dan inklusi sosial. Ketika tantangan dunia semakin saling terhubung, cara kita meresponsnya pun harus semakin terhubung: think globally, act globally, and design locally (berpikir global, bertindak global, dan merancang sesuai konteks lokal) dengan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok lanjut usia.

Simak paparannya TEDx selengkapnya:

#TEDxBandung #TEDxCountdown #InclusiveNexus #ClimateJustice #DisabilityInclusion #SystemsThinking #Sustainability #InclusiveDevelopment #GlobalSouth #DILANSIndonesia #ASCODILab

Farhan Helmy

Judul: Ketika 1,5 Sentimeter Bertemu 1,5°C

Penulis: Farhan Helmy adalah peneliti, praktisi pembangunan berkelanjutan, dan aktivis inklusi yang bekerja pada persinggungan antara perubahan iklim, tata kelola, dinamika sistem, transformasi digital, serta GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion). Ia adalah Founder Advanced Systems Computing Design and Innovation (ASCODI) Lab dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Presiden DILANS Indonesia, serta Lead Asia-Africa Inclusive Nexus Network (AAINN). Melalui berbagai platform tersebut, ia aktif mengembangkan pendekatan sistem, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk mendorong transformasi pembangunan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis dalam memaknai kemerdekaan di tengah transformasi teknologi dan AI.

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *