MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Selasa (08/07/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Target Penyerapan : Dari 3 Jadi 4,5 Juta Ton Setara Beras” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Serapan beras yang hampir melampaui batas membuat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengusulkan revisi terhadap Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025. Beleid itu sebelumnya menetapkan Perum Bulog untuk menyerap hingga 3 juta ton setara beras dalam setahun.

Mentan Amran menyatakan saat ini Bulog telah menyerap 2,7 juta ton setara beras. Hal ini berarti, masih ada sisa 300 ribu ton setara beras yang akan diserap oleh Bulog. Meski begitu, Amran menilai Bulog tidak bisa menyerap hasil panen petani pada musim panen ke depan, mengingat targetnya telah dipatok pada anfka 3 juta ton setara beras.
Padahal posisi saat ini Perum Bulog telah menyerap hampir 2,7 juta ton setara beras, berarti jatah yang dimiliki tinggal 300 (ribu). Ini artinya apa? Satu bulan ke depan tidak ada pembelian beras lagi. Padahal masuk panen kedua. Itu sebabnya, Mentan Amran memunta restu Komisi IV DPR untuk merevisi target penyerapan tahun ini menjadi 4,5 juta ton serara beras.
Pertimbangan utama Menteri Pertanian (Mentan) meminta revisi Instruksi Presiden (Inpres) penyerapan gabah/beras dari 3 juta ton menjadi 4,5 juta ton tidak disebutkan secara eksplisit dalam dokumen yang tersedia. Namun, beberapa kemungkinan pertimbangan yang mungkin menjadi alasan Mentan meminta revisi tersebut antara lain :
Pertama, terjadinya peningkatan produksi padi nasional. Artinya, jika produksi padi nasional meningkat, maka target penyerapan gabah/beras juga perlu ditingkatkan untuk menyerap hasil panen petani secara maksimal.
Kedua, terkait dengan ketersediaan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Pemerintah mungkin ingin meningkatkan stok CBP untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan beras, serta memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Ketiga, mengoptimalkan penyerapan gabah petani. Dengan meningkatkan target penyerapan, pemerintah dapat lebih mengoptimalkan penyerapan gabah petani, sehingga petani dapat memperoleh pendapatan yang lebih baik.
Keempat, mengantisipasi kebutuhan pangan masyarakat. Pemerintah mungkin ingin meningkatkan target penyerapan untuk mengantisipasi kebutuhan pangan masyarakat yang meningkat, terutama menjelang hari-hari besar seperti Lebaran.
Dalam beberapa bulan pertama tahun 2025, realisasi penyerapan gabah/beras oleh Perum Bulog menunjukkan dinamika yang menarik, dengan capaian penyerapan gabah petani mencapai 2,7 juta ton setara beras, dimana hingga akhir Juni 2025, angkanya tertinggi dalam satu dekade terakhir. Hal ini mampu mengukir sejarah baru dalam penyerapan gabah oleh Pemerintah.
Dihadapkan pada kondisi demikian, strategi dan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan target penyerapan gabah/beras dari 3 juta ton menjadi 4,5 juta ton mencakup beberapa langkah penting. Paling tidak, ada enam langkah yang sebaiknya digarap dan dijadikan titik kuat dalam pencapaiannya.
Yang utama harus ditempuh adalah optimalisasi penyerapan musim panen. Pemerintah perlu mengoptimalkan penyerapan gabah/beras pada musim panen raya dengan meningkatkan kapasitas gudang Bulog dan memperlancar proses pengadaan.
Selanjutnya, meningkatkan kerja sama dengan mitra penggilingan. Perum Bulog penting bekerja sama dengan mitra penggilingan untuk mengolah gabah kering panen menjadi gabah kering giling dan beras guna meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Kemudian, penguatan ekosistem pengadaan terintegrasi. Pemerintah perlu memperkuat ekosistem pengadaan terintegrasi melalui tim jemput gabah yang membeli langsung dari petani dan kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi penyerapan.
Bisa juga menempuh percepatan mekanisme membelian dan distribusi. Perum Bulog dituntut mempercepat mekanisme pembelian dan distribusi dengan menerjunkan personel ke lapangan guna mengawal realisasi target penyerapan.
Seterusnya, penyesuaian derajat sosoh beras. Buktinya, Pemerintah telah menyesuaikan derajat sosoh beras dari 100% menjadi 95% untuk mempermudah proses penyerapan dan meningkatkan kualitas beras.
Terakhir melakukan peningkatan harga gabah. Pemerintah telah menetapkan kenaikan harga gabah kering panen menjadi Rp6.500 per kilogram untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung stabilitas harga pangan.
Dengan strategi ini, pemerintah optimistis dapat mencapai target penyerapan gabah/beras sebesar 4,5 juta ton dan meningkatkan kemandirian pangan nasional. Semoga menjadi kenyataan.
***
Judul: Target Penyerapan : Dari 3 Jadi 4,5 Juta Ton Setara Beras
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












