Eling dan Waspada

Oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Sabtu (25/04/2026)  Artikel berjudul “Eling dan Waspada” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, secara jasmaniah bangsa ini tumbuh. Namun, di seantero negeri kualitas pikir mundur, karakter tumpur. Hidup berkembang tanpa ketajaman visi dan kemuliaan budi-pekerti.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Dalam gebyar lahir, pelita hati redup, para pengemudi negeri tak mengenali arah tujuan. Penduduk menumpang kendaraan seperti mayat gentayangan.

Roda perubahan terus berputar tanpa hasilkan banyak perbaikan. Kemenangan jadi pujaan tanpa hiraukan kebenaran. Popularitas jadi ukuran tanpa pedulikan kualitas.

Dalam wacana publik tak ada isi yang mengendap. Semua catur seperti buih yang lekas kempis diterjang angin. Segala janji seperti layangan putus benang, tak pasti kapan terhempas ke bumi.

Orang-orang tampil sebagai pemimpin bukan berani karena mengerti, melainkan karena tak tahu. Demokrasi dirayakan dengan mediokrasi.

Aneka upacara dan akrobat politik terus dipertontonkan untuk memalingkan warga dari kenyataan. Di berbagai mimbar, elit negeri melantunkan nyanyian kemajuan, sebagai candu untuk menidurkan warga dari realitas kerawanan.

Inilah zaman edan. Orang-orang membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. Yang tak ikut edan tak dapat bagian.

Orang-orang harus dibangunkan. Pikiran itu pelita hidup. Sesat pikir, binasa hidup.
Karakter itu akar daya hidup. Lemah karakter, robohlah pohon kehidupan.

Harapan kebahagiaan dan kemuliaan hanya bagi mereka yang senantiasa eling pikir dan zikir. Radar nuraninya terus menyala dan waspada sesuai tuntunan budi baik, benar dan indah.

***

Judul: Eling dan Waspada
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *