MajmusSunda News – Bandung, Minggu (18/10/2026) – Pagi itu, kursi-kursi memenuhi halaman rumah duka. Beberapa orang duduk terdiam. Ada yang berbisik pelan. Dari dalam rumah, terdengar isak tangis keluarga yang ditinggalkan. Jenazah terbujur kaku, terbungkus kain kafan putih. Pelayat datang silih berganti, menyalami keluarga dan membaca doa.
Ada yang menggenggam tangan ahli waris, mencoba menguatkan. Setelah itu, para pelayat pamitan. Kursi-kursi mulai kosong, tetapi isak tangis masih terdengar. Jalanan kembali ramai seperti biasa. Kematian telah menyentuh sebuah keluarga, sementara dunia terus berjalan.
Begitulah takziyah. Kita datang menemui duka orang lain, mengucapkan belasungkawa, memanjatkan doa, lalu pulang melanjutkan kehidupan. Namun, kita sering lupa membawa pulang sesuatu yang lebih penting: kesadaran tentang diri sendiri.
Kita mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un: sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Namun, kalimat itu belum tentu sampai ke dalam kesadaran. Jangan-jangan lidah kita fasih mengucapkannya, sementara hati masih merasa sebagai pemilik segala sesuatu: harta, jabatan, keluarga, bahkan usia.
Dalam pandangan kaum sufi, takziyah bukan sekadar kunjungan kepada keluarga yang berduka, melainkan perjalanan batin untuk mengenali diri. Kita menemui orang yang kehilangan, tetapi sekaligus diajak merenungkan makna hidup. Kematian mengingatkan: tidak semua yang kita perjuangkan ikut dalam perjalanan pulang. Harta, jabatan, dan pujian memiliki tempatnya, tetapi tidak semestinya menjadi ukuran mutlak harga diri. Apa sebenarnya yang kita cari selama hidup? Barangkali kita terlalu sibuk mengumpulkan sesuatu hingga lupa bertanya untuk apa semuanya.
Takziyah juga mengajarkan adab menghadapi kesedihan. Tidak semua duka membutuhkan nasihat. Ada kesedihan yang hanya ingin ditemani, bukan dijelaskan; ada kehilangan yang tak memerlukan kalimat panjang, cukup kehadiran seseorang yang bersedia duduk dan mendengarkan.
Kadang-kadang kita terlalu bersemangat menghibur sampai lupa menyimak. Kita segera berkata bahwa semua sudah menjadi takdir dan keluarga yang ditinggalkan harus ikhlas. Padahal, ikhlas bukan tombol yang bisa ditekan saat seseorang meninggal. Ia adalah perjalanan batin. Ada orang yang tampak tenang, tetapi bergolak di dalam. Ada pula yang menangis sambil belajar menerima kenyataan.
Dalam penghayatan tasawuf, kasih sayang menuntut kita mengurangi keakuan agar penderitaan orang lain memperoleh ruang. Kita tak harus menghapus air matanya; cukup memastikan ia tidak menangis sendirian.
Patut kita tanyakan: mengapa kita mudah menghormati seseorang setelah ia meninggal, tetapi kadang sulit menghargainya selagi hidup? Setelah kepergiannya, kita mengenang kebaikan dan jasa-jasanya, bahkan menyesali kesempatan yang terlewat untuk berterima kasih atau meminta maaf. Namun, ketika ia masih ada, kita mungkin sibuk mencari kekurangannya, pelit memberi penghargaan, atau enggan mengakui jasanya.
Sepulang dari rumah duka, kita kembali menghadapi pekerjaan, kebutuhan, dan rutinitas. Alangkah baiknya jika kesadaran ikut pulang bersama kita. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai; jangan menunggu perpisahan untuk meminta maaf; jangan menunggu kematian untuk menjadi manusia yang penuh kasih.
Kita tak tahu berapa lama waktu yang tersedia. Yang dapat kita usahakan ialah mengisi hari dengan kebaikan, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan menata hati agar semakin dekat kepada Allah. Takziyah yang paling jauh perjalanannya bukan menuju rumah orang yang meninggal, melainkan perjalanan dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari keakuan menuju kasih sayang, dan dari merasa memiliki menuju kesediaan menerima bahwa segala sesuatu hanyalah titipan.
Judul: Takziyah
Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)
Editor: Parkah












