MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (19/05/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Sebaiknya Perum Bulog Hati-Hati Menyimpan Gabah/Beras” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Sebagai operator pangan, yang selama ini dijadikan andalan Pemerintah selaku regulator pangan dengan tugas khusus melakukan penyerapan gabah petani dan menjalankan pengelolaan cadangan beras Pemerintah, Perum Bulog sanfat membutuhkan sokongsn dan perlu ditopang oleh aturan dan kebijakan yang mendukungnya.

Perum Bulog sendiri, kini memiliki beberapa pendukung untuk menjalankan tugas penyerapan dan pengelolaan cadangan beras pemerintah, antara lain pertama adanya jaringan distribusi yang luas. Perum Bulog memiliki jaringan distribusi yang luas di seluruh Indonesia, sehingga dapat menjangkau berbagai wilayah untuk menyerap dan mendistribusikan beras.
Kedua, gudang penyimpanan. Perum Bulog memiliki gudang penyimpanan yang memadai untuk menyimpan cadangan beras pemerintah. Ketiga, sistem informasi yang terintegrasi. Perum Bulog menggunakan sistem informasi yang terintegrasi untuk memantau stok beras, melakukan transaksi, dan mengelola data.
Keempat, kerja sama dengan petani dan pedagang. Perum Bulog bekerja sama dengan petani dan pedagang untuk menyerap beras dari petani dan mendistribusikannya ke masyarakat. Keluma, pengawasan kualitas. Perum Bulog memiliki sistem pengawasan kualitas untuk memastikan bahwa beras yang disimpan dan didistribusikan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.
Dan keenam, tenaga kerja yang terampil. Perum Bulog memiliki tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman dalam mengelola cadangan beras pemerintah. Petugas gudang ini perlu terus dilatih dan ditingkatkan ketrampilsnnya. Dengan demikian, Bulog dapat menjalankan tugas penyerapan dan pengelolaan cadangan beras pemerintah dengan efektif dan efisien.
Keenam kekuatan Perum Bulog diatas, kini benar-benar tengah diuji, mengingat serapan gabah Perum Bulog dalam panen raya kali ini, benar-benar sangat spektakuler. Sampai pertengahan bulan Mei 2025, serapan gabah oleh Perum Bulog hampir menembus angka 2 juta ton. Ini merupakan angka serapan gabah yang sangat fantastis sekaligus mengukir sejarah baru dalam proses penyerapan gabah oleh Perum Bulog.
Kondisi ini, tentu sangat menggembirakan. Bayangkan, pengalaman Perum Bulog menyerap gabah dalam 5 tahun terakhir, rata-rata antara 1 – 1,2 juta ton. Sekarang mampu menyerap hampir menembus 2 juta ton. Bisa dibilang, hampir dua kali lipat penyerapsn yang dilakukan tahun ini. Perum Bulog memang keren. Wajar jika kita memberi acungan jempol.
Tingginya serapan gabah ysng hampir dua kali lipat dari biasanya, jelas akan menimbulkan persoalan baru. Sebut saja terkait dengan gudang penyimpanan. Dengan gudang Perum Bulog yang terbatas, praktis harus mencari gudang tambahan yang berkualitas agar dapat dijadikan tempat penyimpanan gabah/beras yang anan dan memenuhi standar gudang penyimpanan gabah/beras yanf baik.
Sekalipun Presiden Prabowo dengan gerak cepatnya, langsung merespon akan membangun gudang alternatif sebanyak 25 ribu gudang di berbagai daeran, namun dalam jangka pendek gudang penyimpanan ini harus sudah tersedia. Pilihan mengoptimalkzn gudang filial yang ada juga melakukan penyewaan gudang yang representatif, menjadi langkah yang diambil Perum Bulog.
Itu sebabnya agar kegiatan ini berjalan dengan baik, mau tidak mau, Perum Bulog perlu menyiapkan petugas gudang tambahan untuk mengelola gudang filial atau gudang yang akan disewanya nanti. Hal ini penting difarap dengan sungguh-sungguh, mengingat petugas gudang merupakan aktor utama dalam pengelolaan cadangan beras Pemerintah yang ada di lapangan.
Walaupun Perum Bulog telah berpengalaman selama puluhan tahun dalam melakukan pengelolaan gudang, namun dengan adanya temuan para Wakil Rakyat tentzng adanya beras berkutu di gudang Perum Bulog, memaksa kepada segenap Keluarga Besar Perum Bulog seluruh Indonesia untuk seceoatnya mawas diri sekaligus merenung, mengapa di era sekarang masih ditemukan adanya beras berkutu.
Temuan ini betul-betul sangat mengagetkan. Apalagi setelah dikenali, beras berkutu itu berasal dari beras impor yang pengadaannya telah diseleksi cukup ketat, sebelum beras itu dibeli oleh Pemerintab. Beberapa pengamat berseloroh, beras berkutu itu tidak mungkin akan ditemukan, jika prosez penyimpanan gabahnya telah sesusi dengan SOP yang ditentukan.
Fenomena seperti ini, tentu saja membuat banyak pihak menjadi was-was. Beras, sekelas beras impor saja masih ditemukan ada yang berkutu. Lalu bagaimana kondisinya dengan beras dalam negeri yang dihasilkan oara petani di negerinya sendiri ? Kerisauan ini menjadi semakin besar, ketika diketahui, gabah yang diserap Perum Bulog saat ini, umumnya tergolong ke dalan gabah ‘any quality’.
Oleh karenanya, Perum Bulog sangat dimintakan kehati-hatiannya, supaya proses penyimpanan gabah/beras sebagai cadangan beras Pemerintah ini benar-benar digarap dengan kesungguhan. Petugas gudang di lapangan, perlu konsentrasi yang besar agar SOP tata kelola penyimpanan gabah/beras ini, betul-betul sesuai dengan SOP yang ada.
Semoga Perum Bulog akan mampu mengemban amanah yang mulia ini, sehingga dalam perjalanannya ke depan, kita tidak akan mendengar lagi ada beras berkutu, bau apek, berwarna kekuning-kuningan dan hancur. Kita yakin, Perum Bulog akan berhati-hati mengelolanya.
***
Judul: Sebaiknya Perum Bulog Hati-Hati Menyimpan Gabah/Beras
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












