Sandiwara Politik Negeri Konoha

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Selasa (22/09/2026) – Artikel berjudul “Sandiwara Politik Negeri Konoha” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Di Negeri Konoha, demokrasi selalu ingin disehatkan.

Katanya, jumlah partai harus dirampingkan. Aturan dibuat, ambang batas dipasang, suara disaring. Lalu pemilu datang: jumlah partai bertambah. Pemilu berikutnya datang: bertambah lagi.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Rupanya demokrasi di Negeri Konoha punya penyakit unik: setiap kali hendak dirampingkan, tubuhnya justru makin gemuk.

Mungkin partai memang ingin disederhanakan, tetapi ambisi mengejar kuasa terus meroket sementara akal sehat justru kian susut.

Begitu pula biaya politik. Katanya harus dikendalikan agar demokrasi tak menjadi barang mewah. Tetapi ongkos pencalonan, kampanye, konsolidasi, saksi, dan segala tetek bengeknya terus melambung. Mantranya tak berubah; ongkosnya yang terus meninggi.

Lalu korupsi. Katanya harus diberantas. Tetapi jika biaya menjadi kandidat pejabat bisa jauh melampaui gaji resminya, mengapa orang terus berebut menjadi kandidat? Semakin mahal tiketnya, semakin panjang antreannya.

Tentu tak semua kandidat berniat korupsi. Tetapi jika ongkos politik sepuluh, pendapatan resmi lima, pertanyaannya sederhana: dari mana menambal sisanya?

Jawabannya juga sederhana: jangan korupsi.

Benar. Tetapi menangkap koruptor tanpa membenahi ongkos politiknya seperti sibuk menghalau asap, sementara apinya dibiarkan menyala.

Akhirnya korupsi bergeser dari aib menjadi risiko: investasi, perjudian. Berhasil, modal raih untung. Gagal, modal hangus. Tertangkap, ya apes.

Pemainnya ditangkap; meja judinya tetap, taruhannya tetap, tiketnya makin mahal.

Maka sandiwara pun lengkap:
Demokrasi harus sehat. Pemilu harus murah. Pemerintahan harus bersih. Korupsi harus diberantas.

Semua benar kecuali kenyataannya: partai bertambah, biaya membengkak, korupsi menggila hingga menyeret jaring agama.

Pelaku dikejar, sebab dibiarkan. Akibat dihukum, sumbernya dipelihara.

Barangkali kita terlalu lama hidup bersama keganjilan hingga menganggapnya kewajaran. Ketika keganjilan telah menjadi kewajaran, yang menyimpang tak lagi terasa aneh.

Sandiwara terus berlangsung: panggung semakin megah, ongkos semakin mahal, dan setiap lima tahun penonton kembali membayar tiket untuk pertunjukan yang sama.

***

Judul: Sandiwara Politik Negeri Konoha
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *