Prabu Darmasiksa dari Saung Galah Kuningan Ibukota Pindah ke Pakuan Bogor

Prabu Darmasiksa bertahta mengendalikan pemerintahan Kerajaan Sunda (temasuk Galuh dan Galunggung) asalnya ibukotanya di Saung Galah Kuningan selama 12 tahun (1175-1187 M).

Ilustrasi pemandangan alam Kerajaan Sunda (pexels.com

 

MajmusSunda News-, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, (19/9/2026)-Prabu Darmasiksa bertahta mengendalikan pemerintahan Kerajaan Sunda (temasuk Galuh dan Galunggung) asalnya ibukotanya di Saung Galah Kuningan selama 12 tahun (1175-1187 M).

Karena ia berkuasa di tiga kerajaan (Sunda, Galuh dan Glunggung) maka ia digelari maharaja. Awalnya Prabu Darmasiksa bertahata di Saung Galah Kuningan. Kemudian pemerintahan pindah ke Pakuan (Bogor) selama 110 tahun (1187-1297 M).

Sepanjang Tahun 2022 Ia mempunyai istri tiga; Pertama Putri Saung Galah, berputra beberapa orang diantaranya Rajapurana (1168 M).

Kedua, Puteri Darmageng, berputra beberapa orang, diantaranya Ragasuci (bergelar Rahiyang Saung Galah).

Tatkala ayahnya Darmasiksa pindah ke Pakuan Ragasuci memegang pemerintahan di Saung Galah dan istri ketiga Puteri Swarnabhumi (Sumatera) bernama Dewi Suprabha Wijayatunggadewi, keturunan Sangramawijayayatunggawarman penguasa Kerajaan Sriwijaya (1018-1027 M) berputra beberapa orang, diantaranya Rahiyang Jayagiri atau Rahiyang Jayadarma.

Ranghyang Jayadarma Ayah Raden Wijaya Menurut Yuganing Raja Kawasa Jayadarma beristrikan Dewi Naramurti yang bergelar Dyah Lembu Tal, puteri Mahisa Campaka dari Jawa Timur. Jayadarma dan Dewi Naramurti (Dyah Lembu Tal) melahirkan berputra Sang Nararya Sangngramawijaya atau Rakean Wijaya dalam sejarah Jawa Timur dikenal dengan nama Raden Wijaya.

Prabu Darmasiksa menasehati putranya Jayadarma, sempat menitipkan kabuyutan (semacam tanah yang dianggap suci) di Galunggung. Sebab di Galunggunglah bersemayam dangiang (kekuatan spiritual/aura) kerajaan.

Jika rajaputra Rahiyang Saung Galah gagal mempertahankan dan melindungi kabuyutan di Galunggung maka rajaputra derajatnya lebih hina dari kulit lasun di jarian (tempat sampah) Rahiyang Jayadarma yang memperistri Dyah Lembu Tal, tidak sempat menjadi raja.

Hanya menjadi penguasa di wilayah Jayagiri, ia bergelar Rahiyang Jayagiri. Ia meninggal dalam usia muda, yaitu 44 tahun.

Karena suaminya telah meninggal Dyah Lembu Tal, memohon kepada mertuanya (Prabu Guru Darmasiksa), agar diperbolehkan pulang dan tinggal di Tumapel, bersama putranya (Raden Wijaya).

Prabu Darmasiksa yang arif dan bijaksana mengerti akan perasaan hati menantunya Dyah Lembu Tal diantarkan ke Tumapel. Setelah dewasa Wijaya menjadi senapati Kerajaan Singasari dibawah pemerintahan Prabu Kretanagara (1268-1292 M).

Namun tidak berlangsung lama di Singasari terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan Prabu Jayakatwang dari Kediri yang bersekutu dengan Arya Wiraraja Bupati Sumenep Madura.

Prabu Kertanagara terbunuh. Jayakatwang dengan pasukan Kedirinya berhasil merebut Keraton Singasari. Sedang Raden Wijaya bersama pengikutnya berhasil meloloskan diri atas bantuan penduduk desa Kudadu. Ia dengan pengikutnya dan minta perlindungan dari Arya Wiraraja di Sumenep Madura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *