Piala Kebahagiaan

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Selasa (06/10/2026) – Artikel berjudul “Piala Kebahagiaan ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Selamat kepada tim sepak bola Indonesia atas prestasi sebagai juara FIFA ASEAN Cup.

Untuk pertama kalinya, piala itu terangkat di tangan kita. Bersamanya, jutaan orang menemukan satu alasan sederhana untuk merasa bangga dan bahagia.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di depan layar, di warung kopi, di rumah-rumah, orang-orang yang mungkin berbeda pilihan dan pandangan mendadak bersorak dalam bahasa yang sama:

Indonesia!

Barangkali Martin Seligman benar: accomplishment pencapaian adalah salah satu sumber kebahagiaan, bersama emosi positif, keterlibatan, hubungan, dan makna. Kita memang membutuhkan sesuatu yang dapat ditunjuk dan dikatakan: ini hasilnya.

Di lapangan, perjuangan menemukan ukurannya sendiri. Keringat, ketekunan, keberanian, dan ketepatan berpadu dalam setiap peluang yang harus diselesaikan dan kesalahan yang bisa berujung petaka. Waktu terus bergerak menuju peluit terakhir, hingga semuanya bermuara pada satu hal yang paling jujur: angka di papan skor.

Papan skor tidak mengenal basa-basi. Ia hanya mencatat siapa yang mencetak lebih banyak gol.

Mungkin itulah yang membuat kemenangan ini terasa lebih dari sekadar olahraga. Kita sedang merayakan sebuah pencapaian pertama buah dari latihan, keberanian, ketekunan, dan kerja keras.

Untuk sementara, biarlah kemenangan ini menjadi penghiburan, bahkan semacam penebusan kecil, atas berbagai kekecewaan kita terhadap kehidupan politik dan negara.

Tentu sebuah piala tidak akan membuat negeri tiba-tiba menjadi lebih adil. Gol tidak akan membereskan birokrasi. Sepak bola tidak ditakdirkan menyelesaikan seluruh persoalan bangsa.

Tetapi barangkali kita memang tidak meminta sebanyak itu. Kita hanya membutuhkan alasan untuk bangga tanpa harus berpura-pura, dan bahagia tanpa banyak penjelasan.

Terima kasih, para pahlawan.

Besok, kita kembali menjadi warga yang bertanya, mengkritik, berharap, dan sesekali kecewa.

Tetapi kali ini, biarkan kami merayakan kalian.

Sebab sebuah bangsa pun membutuhkan alasan untuk bahagia bersama.

Dan hari ini, alasan itu adalah kalian.

***

Judul: Piala Kebahagiaan
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *