MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (18/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Petani Bangkit di Tanah Merdeka” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Hanya dalam hitungan hari, kembali bangsa ini akan memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke 116 tahun. Tepatnya 20 Mei 2026 nanti. Hari Kebangkitan Nasional merupakam momen penting ke arah terwujudnya kemerdekaan bangsa. Itu sebabnya menjadi sangat penting jika kita kembali merenungi apa yang menjadi semangat nolai-nilao filosofis dari Hari Kebangkitan Nasional itu sendiri.

Hari Kebangkitan Nasional diperingati tiap 20 Mei, mengambil tanggal berdirinya Budi Utomo 1908. Nilai filosofisnya lahir dari semangat itu sendiri yakni dari pergerakan dari “sadar diri” jadi “sadar bangsa”. Paling tidak, ada 5 nilai filosofis utamanya:
1. Persatuan di atas perbedaan.
Budi Utomo awalnya organisasi kaum terpelajar Jawa, tapi ide “bangsa Indonesia” yang lahir dari sana jadi pemantik Sumpah Pemuda 1928. Filosofinya: kebangkitan nggak bisa terjadi kalau masih terkotak-kotak suku, agama, daerah. Persatuan itu prasyarat.
2. Kesadaran berbangsa melalui pendidikan. Budi Utomo fokus ke pendidikan dan kebudayaan, bukan angkat senjata. Nilai filosofisnya: bangsa yang bangkit itu bangsa yang cerdas. Perjuangan fisik tanpa pencerahan pikiran cuma bikin bangsa jalan di tempat.
3. Berani bergerak dari kesadaran sendiri. Sebelum 1908, perlawanan masih bersifat kedaerahan dan sporadis. Kebangkitan Nasional menandai pergeseran ke pergerakan modern yang terorganisir, berdasarkan kesadaran rasional bahwa bangsa ini harus menentukan nasibnya sendiri. Ini nilai kemandirian dan proaktivitas.
4. Nasionalisme inklusif. Cita-cita kebangkitan waktu itu bukan untuk satu golongan. Tujuannya “memajukan penghidupan bangsa” secara umum. Filosofinya: kebangkitan harus dirasakan semua lapisan, bukan cuma elite. Ini jadi cikal bakal konsep keadilan sosial.
5. Optimisme dan harapan. Kata “kebangkitan” sendiri mengandung makna: dari tidur, dari terjajah, dari pesimis. Nilai filosofisnya adalah keyakinan bahwa bangsa ini bisa bangkit dan maju kalau mau bergerak bareng. Bukan menunggu ditolong.
Catatan pentingnya, Hari Kebangkitan Nasional mengingatkan kita kalau kemerdekaan 1945 nggak jatuh dari langit. Dia dibangun di atas kesadaran, pendidikan, dan persatuan yang dimulai 1908. Sekarang bagaimana dengan kebangkitan petani? Apakah nasib dan kehidupan petani masih memprihatinkan atau telah mengalqmi perbaikan ?
Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 memang jadi titik awal kesadaran perlawanan terhadap kolonialisme, dan salah satu isu utamanya waktu itu adalah penderitaan petani karena tanam paksa, pajak tinggi, dan kemiskinan agraria. 116 tahun setelahnya, nasib petani Indonesia itu *beragam*. Ada kemajuan nyata, tapi masalah struktural masih membuat petani, banyak yang hidupnya prihatin.
Bebwrqpa hal yang sudah membaik antara lain :
1. Akses teknologi & infrastruktur. Irigasi, pupuk bersubsidi, benih unggul, dan jalan desa jauh lebih baik dibanding era Orde Baru apalagi kolonial. Program seperti KUR pertanian bikin petani bisa akses modal.
2. Perbaikan mekanisasi. Traktor, combine harvester, dan alsintan sudah masuk ke banyak daerah. Produktivitas padi naik dari ∼2 ton/ha di 1960an jadi ∼5.2 ton/ha sekarang.
3. Organisasi & kebijakan. Ada UU Perlindungan Petani, gerakan koperasi, dan GAPOKTAN. Suara petani lebih terdengar di tingkat kebijakan dibanding 1908.
Sedangkan yang masih memprihatinkan adalah :
1. Kepemilikan lahan kecil dengan rata-rata petani Indonesia hanya punya lahan 0.3 ha. Dengan lahan segitu, pendapatan susah naik meski produktivitas naik. Banyak yang masuk kategori petani gurem.
2. Harga dan rantai pasok. Petani sering jadi pihak paling lemah saat harga jatuh. Tengkulak dan panjangnya rantai distribusi bikin margin kecil. Contohnya harga gabah sering turun saat panen raya.
3. Regenerasi. Anak muda banyak yang ogah jadi petani. Rata-rata umur petani Indonesia sekarang 47 tahun. Kalau nggak ada regenerasi, pertanian bisa kekurangan tenaga produktif.
4. Alih fungsi lahan & perubahan iklim. Lahan sawah berkurang 80-100 ribu ha/tahun karena konversi ke perumahan dan industri. Cuaca ekstrem bikin gagal panen makin sering.
5. Ketergantungan pupuk & impor pangan. Indonesia masih impor beras, gula, garam, dan kedelai dalam jumlah besar. Itu artinya petani lokal belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan nasional.
Jadi, inti jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan diatas adalah nasib petani “tidak sesuram 1908, tapi belum merdeka secara ekonomi”. Secara politik kita sudah merdeka, namun secara struktural pertanian masih rentan. Ada petani yang sudah naik kelas jadi agripreneur, tapi mayoritas masih hidup pas-pasan dan gampang goyah kalau harga atau cuaca berubah. Bagi kaum tani,
Kebangkitan Nasional dulu tentang “bangkit melawan penjajahan”. Sekarang tantangannya “bangkit melawan kemiskinan struktural dan ketergantungan” yang menjeratnya. Sebagian besar kaum tani, khususnya petani gurem dan petani buruh, hidup dalam suasana yang penuh dengan penderitaan. Mereka butuh perlindungan dan pembelaan nyata dari negara. Kita percaya pemerintahan Presiden Prabowo akan memberi perhatian yang lebih nyata.
Sepatutnya, Hari Kebangkitan Nasional ke 116 menjadi momentum bagi Kebangkitan Petani di Tanah Merdeka. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Petani Bangkit di Tanah Merdeka
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












