MajmusSunda News, Jum’at (24/04/2026) – Artikel berjudul “Pertautan Holistik” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, di tengah konflik geopolitik yang mengancam masa depan umat manusia, bangsa-bangsa perlu kembali belajar ilmu kebijaksanaan: ilmu saling mengasihi dan memberi, bukan saling memusuhi dan merampas.

Sadarilah, masa depan Barat terbit di Timur. Banyak kebijaksanaan yang kini dicari dunia keselarasan dengan alam, keseimbangan batin, kesadaran spiritual telah lama berakar dalam tradisi Timur. Ketika peradaban Barat yang dibangun oleh rasionalitas, teknologi, dan kecepatan mencari makna yang lebih dalam, ia menoleh ke Timur seperti kembali ke mata air yang lama terlupakan.
Masa depan Timur tersemai di Barat. Dari Barat mengalir ilmu pengetahuan modern, metode rasional, teknologi, dan tata kelola yang membentuk wajah dunia kini. Timur mengolah warisan spiritualnya dengan perangkat pengetahuan itu.
Dalam perjumpaan ini, keduanya bukan saling meniadakan, melainkan saling melengkapi seperti dua sungai yang bertemu dan memperbesar arusnya menuju samudera impian bersama.
Begitu pun pertautan antarwaktu. Masa depan telah terkandung di masa lalu, seperti pohon yang telah tersimpan dalam biji. Di dalam biji telah terbayang hutan yang belum tumbuh. Waktu hanya menyingkap apa yang telah disemai.
Masa lalu terkandung di masa depan. Ibarat pohon yang menjulang mengikuti sifat bijinya: arah cabang, kekuatan akar, dan rasa buahnya. Masa lalu tidak hilang; ia bertransformasi menjadi kemungkinan.
Kenali juga paradoks sederhana: kosong mengandaikan isi, dan isi mengandaikan kosong. Cangkir berguna karena ruang kosongnya, rumah menjadi tempat tinggal karena ruang yang dihidupinya. Dalam kehidupan manusia pun demikian: kesediaan memberi ruang bagi yang lain sering menjadi sumber makna paling penuh.
Begitu pun perbedaan. Ia tidak diciptakan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling mengisi. Siang memberi arti pada malam, gunung memberi arah pada lembah, laut memberi batas pada daratan. Tanpa perbedaan, dunia kehilangan geraknya; tanpa jarak, tak ada perjalanan.
Di situlah tersembunyi ilmu pertautan holistik: kesadaran bahwa segala sesuatu hidup bukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh hubungan yang saling menghidupi.
***
Judul: Pertautan Holistik
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












