MajmusSunda News, Senin (14/09/2026) – Artikel berjudul “Pemikir di Negeri Konoha” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Ketika duduk di kelas lima SD, saya diikutkan ujian kelulusan kelas enam. Tak disangka, saya meraih nilai tertinggi.
Namun, tubuh saya masih terlalu kecil untuk menempuh sebelas kilometer dari kampung ke SMP terdekat. Orang tua tak mengizinkan saya langsung melanjutkan sekolah. Nilai tertinggi tercegat ukuran tubuh.

Di pesantren modern Gontor, saya langsung dilompatkan dari kelas satu ke kelas tiga. Kali ini bukan ukuran tubuh yang menjadi persoalan, melainkan godaan kemolekan gadis-gadis Bandung. Saya pun tak menuntaskan pendidikan di Gontor, lalu mengikuti tahun terakhir SMA di Bandung demi memperoleh ijazah untuk melanjutkan ke universitas.
Di Universitas Padjadjaran, hanya tahun pertama saya kuliah secara normal. Setelah itu, sebagian besar waktu saya habiskan dalam aktivisme kemahasiswaan. Meski demikian, saya lulus dengan IPK jajaran tertinggi. Sejak semester pertama pula saya mulai menulis di berbagai media latihan yang menempa disiplin berpikir dan penalaran panjang.
Di Australian National University, semula saya bermaksud mengambil program master. Setelah melihat hasil kuliah, supervisor menyarankan saya langsung mengerjakan program doktoral. Karena kendala teknis, tesis master tetap saya selesaikan di tengah perjalanan riset S3.
Dengan rekam jejak seperti itu, saya tidak mengatakan diri saya pandai. Tetapi rasanya juga tidak terlalu bodoh.
Pulang ke Tanah Air, niat saya agak muluk: mengabdi kepada bangsa.
Belakangan saya sadar, negeri ini rupanya tidak terlalu membutuhkan kecendekiaan. Pikiran cemerlang tak mendapat insentif layak; pengetahuan tak otomatis dihargai; gagasan kadang lebih merepotkan daripada berguna.
Saya bisa memahami jika banyak putra-putri terbaik bangsa memilih berkarier di luar negeri. Bukan karena tak mencintai Tanah Air, melainkan karena di tempat lain kemampuan mereka lebih dihargai dan diberi ruang.
Betapapun saya tak menyesal memilih jalan keilmuan. Namun, andai waktu bisa diputar ulang, lebih aman memilih jalur lain.
Sebab di negeri ini, kepandaian belum tentu membuat seseorang lebih berguna. Kerap, orang yang tak berfikir dalam yang justru lebih ditinggikan dan mendapat tempa
***
Judul: Pemikir di Negeri Konoha
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












