PAMERAN SENI RUPA AIR DALAM PERSPEKTIF SENI RUPA

Penulis : Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniman lukis)

MajmusSunda News, Bandung, 16 Desember 2025 – Air menjadi inspirasi untuk menghasilkan karya lukis yang memiliki nilai dan makna yang di mendalam. Seperti kita ketahui bahwa air adalah sumber dasar kehidupan dan merupakan zat penting dalam perkembangan peradaban di dunia. Dalam budaya Sunda, air di Tirta Amerta yaitu air kehidupan atau air antu kematian dan dapat di sebut leluhur alam. Air tidak hanya menghilangkan dahaga tetapi air memiliki makna yang luhur di pandang dari sisi spiritual dan filosofi.

Inspirasi para seniman seni rupa kota Bandung dengan rasa kepedulian pada lingkungan yang akhir-akhir ini banyak terjadi bencana banjir di kota Bandung, Jawa Barat. Banjir terjadi di Propinsi Aceh, Padang, hampir setiap provinsi yang ada di Nusantara kita terkena musibah banjir yang memakan korban nyawa, harta benda yang tidak terhitung.

Kang Rahmat Jabbaril sebagai kurator dan mengatakan tujuan pameran bertema air adalah untuk menyampaikan bahwa bumi kita dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dalam pameran lukisan melibatkan dua puluh satu seniman seni rupa asalah Kota Bandung.

Para seniman mencoba merespon persoalan air dalam perspektif seni rupa yang akhirnya dapat terselenggarakan dan panitia pameran ibu Heni Hermajaya,Ss dari lembaga lingkungan Dewan Pemerhati Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) sekretariat berada di Jalan Ahmad Yani No.276 Kita Bandung.

Dalam pembukaan acara pameran lukis bertema air di buka dengan penampilan Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Spiritualis,seniman lukis) menembangkan “Kidung cai telaga warna kehirupan” dan di hadiri juga oleh Adi Jungjungan Mustafa sebagai kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata kota Bandung. Kidung bertemakan air yang sarat makna bahwa air adalah zat Sunda, zat alam yang turun dari langit, menetap di gunung lalu memberi kehidupan pada semua mahluk. Air di artikan zat yang sangat mendasar karena air merupakan asal muasal kehidupan, tapi air juga dapat menjadikan kematian apabila tempat yang menjadi hak air terganggu, jalan air yang menjadi hak air terganggu, tempat pulang air yang menjadi hak air terganggu maka akan menjadi bencana untuk semua mahluk bumi. Pameran di buka pada hari Minggu, pukul 14.00 WIB sampai selesai, pameran berlangsung dari tanggal 14 – 28 Desember 2025.


Untuk masyarakat Kota Bandung dan Jawa Barat, mari kunjungi pameran lukisan yang untuk mendapatkan informasi tentang makna air secara prefektif seni rupa.

Karya para seniman seni rupa di bagi tiga kelompok pendekatan yaitu: estetik air dilihat dari perspektif psikologi dengan para perupa diantaranya Wisnu, Eddy SWK, Mia Sarif, Nita, Dewi, Ira Selina, Deni, Wiradz, dan Chika.

Air dalam konteks ekologi sosial bisa dilihat dari karya di antaranya Ismurdiyahwati, Vidya Sukma, Isma Najila, Nadhira Nur Rahman, Mazaya Aza, Basilah De Sousa, dan Erwin Erlangga.

Sementara pada pemahaman air dalam konteks ekologi perupa diantaranya Dini Destari, Dadan G, Beti Didin, Lie Yoeng,Tata Sutaryat, Yanti Darmayanti, dan Waryaman.

Adapun penggarapan artistiknya pun berbeda teknis,dan tentunya menjadi berwarna. Pameran tersebut merupakan refleksi di akhir tahun di saat bangsa Indonesia sedang di landa murka air, karena ulah keserakahan segelintir orang.

Ada satu lukisan yang sangat menarik buat penulis yaitu lukisan yang berjudul “Gunung Tampa Tutugan”, mix media kanvas, headphone dan oudio player, berkukuran 50×50 cm, pelukis Tata Sutaryat.Lukisan gunung yang di lengkapi audio player sehingga kita dapat memaknai lukisan melalui alat dan mendengar tembang cianjuran yang menceritakan makna, arti dan nilai lukisan tersebut. Ada sebuah pesan nasehat bahwa kita manusia harus memperhatikan Gunung,air dan lingkungan kita, agar hidup kita dalam keadaan damai, tentram jauh dari murka alam.

Pelukis Tata mengatakan karya lukis yang di buat merupakan visual dari falsafah tentang gunung. Gunung sebuh konsep penataan peradaban yang di mulai dari diri, berkembang ke tingkat bangsa dan bermuara pada penyatuan dengan alam semesta. Seperti air secara sifat air berasal dari gunung, turun menjadi mata air lalu mengalir memberi kehidupan pada semua mahluk di bumi, menjadi sungai, telaga kembali pulang ke laut. Dalam tembang warisan Pajajaran yang memiliki makna bahwa gunung sebagai jati diri dan warisan leluhur, gunung sebagai dinamika sosial dan membangun peradaban, gunung sebagai simbol transendensi penyatuan dengan kosmos. Unik lukisan karya Tata Sutaryat berinofasi menggabungkan seni visual dan audio yang lebih informatif yang menghubungkan warisan budaya dengan konsep kesadaran.

Harapan dengan bersuara melalui pameran lukisan yang di Inisiasi para pelaku seni rupa kota Bandung dapat merubah kesadaran kita terhadap pentingnya menjaga alam, alam adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari alam. Alam rusak maka kehidupan kita juga rusak, alam hancur maka kehidupan kita hancur.

Bandung, Dinten Soma 3k pon, Sasih Wesaka, 1962 Caka Sunda.
Senin, 15 Desember 2025

YAYASAN SUNDA13BUHUN

*****

Judul: PAMERAN SENI RUPA AIR DALAM PERSPEKTIF SENI RUPA

Penulis : Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniman lukis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *