MajmusSunda News – Bandung, Kamis (23/07/2026) – Pameran Mahasiswa ISBI Bandung bertajuk “Setalah Ini Pameran Hanya…” digelar di Galeri ASTAKA Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISBI Bandung, Jalan Buah Batu No. 212, Kota Bandung, pada 20–22 Juli 2026.
Fuad Saefuz Zaman (Pupu) mengeksplorasi limbah kain denim (bahan jeans) menjadi berbagai kostum karakter tokoh folklor (cerita rakyat), seperti Roro Jonggrang, Dewi Kadita/Nyi Roro Kidul, dan sebagainya.
Gilang Mustofa mengolah tanah liat yang diambil dari kampung halamannya di Karawang menjadi lukisan bertema AMD (ABRI Masuk Desa), program pengabdian masyarakat ABRI/TNI yang diinisiasi Jenderal M. Jusuf pada tahun 1980. Program tersebut merupakan peristiwa yang diingat secara kolektif oleh masyarakat yang mengalaminya.

Sementara itu, Jihan Azhari Nurani mengeksplorasi motif ukir hias Rumah Gadang Minangkabau, “Kaluak Paku Kacang Balingbiang”, yang kini sudah jarang ditemui di Sumatera Barat. Motif tersebut ia aplikasikan ke dalam busana pengantin modern dengan teknik bordir agar tidak punah ditelan masa dan dilupakan generasi muda.
Kaluak Paku Kacang Balingbiang ini, menurut mahasiswi berdarah Sunda-Minang tersebut, merupakan salah satu motif ukiran dalam adat Minangkabau yang melambangkan pertumbuhan, kebersamaan, keseimbangan, tanggung jawab, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dalam kehidupan sosial. Proses eksplorasi dilakukan terhadap nilai filosofis motif, referensi visual busana pengantin tradisional dan modern, serta pengembangan teknik bordir sebagai medium ekspresi artistik.
“Hasil karya ini diharapkan menghasilkan karya busana pengantin yang mempertahankan identitas budaya Minangkabau sekaligus menghadirkan kebaruan visual dan konseptual yang relevan dengan perkembangan seni dan desain busana modern,” tuturnya.
Sementara itu, Ramsa Ahad Akbar Saputra mengeksplorasi mahkota untuk aksesori Wayang Wong Priangan.

Pameran dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi ISBI Bandung, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., yang juga berperan sebagai kurator pameran.
“Setalah Ini Pameran Hanya…”, merupakan sebuah kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Judul ini tidak dimaksudkan sebagai penutup, melainkan sebagai pembuka bagi berbagai kemungkinan makna setelah karya dipertemukan dengan publik.
Kata Setalah, yang tidak mengikuti ejaan baku, menjadi simbol bahwa proses berkesenian tidak selalu berjalan dalam kesempurnaan. Kesalahan, keraguan, dan proses pencarian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik artistik.
Melalui pameran ini, setiap karya dihadirkan bukan untuk memberikan jawaban yang pasti, melainkan mengundang pertanyaan, refleksi, dan kemungkinan interpretasi baru.
“Dengan demikian, ‘Setalah Ini Pameran Hanya…’ menjadi pengingat bahwa setelah ruang pamer ditinggalkan, karya tidak benar-benar selesai. Ia terus hidup melalui ingatan, percakapan, dan makna yang dibangun oleh setiap orang yang mengalaminya,” demikian kata Supriatna.
Tentang Penggalian Akar Tradisi
Kata Supriatna, sumber tradisi itu tidak habis digali. Kaitannya dengan seni rupa, walau masih berupa wacana, ke depannya bentuk seni rupa Nusantara itu sumbernya akan ada di ISBI.
Jadi, ISBI akan menjadikan segala sesuatu yang berkaitan dengan seni rupa, gagasannya bersumber dari tradisi. Ada motif, bahan, teknik, cara, dan metode. Contohnya, lukisan di atas kanvas itu sudah modern/ala Barat (karena kalau lukisan Indonesia asli, contohnya Wayang Beber), tetapi sumbernya dari tradisi.

Termasuk pakaian berbahan denim (Barat/Western) karya Pupu ini bukan tradisi, tetapi gagasan bentuknya dan interpretasi visualnya berasal dari cerita rakyat (folklor). Makanya, dalam karya Pupu ada Roro Jonggrang dengan mahkota berupa Candi Prambanan, serta Putri Kadita (Nyi Roro Kidul) yang berhias ombak laut.
Pameran ini, kata Supriatna, merupakan pameran proses. Baru setengah jadi dipamerkan. Baru cikal bakal, dan proses ke depannya belum tahu akan seperti apa bentuknya. Makanya judulnya “Setalah Ini Pameran Hanya…”, artinya hanya segini dulu atau hanya gagasan dulu. Nah, besoknya kita tidak tahu akan dibawa ke mana. Seperti denim itu unfinished, belum selesai.
Lukisan ABRI Masuk Desa karya Gilang Mustofa, mahasiswa dari Karawang, mengisahkan bahwa di kampung halamannya dahulu pernah ada AMD yang mengolah lahan perkampungan sehingga menjadi subur. Jadi, program yang digagas Jenderal M. Jusuf semasa Orde Baru itu masih bisa dirasakan manfaatnya oleh warga hingga sekarang.
Nah, Gilang Mustofa walau tidak mengalami peristiwa AMD tersebut, tetapi ia mendengar cerita dari orang tuanya bahwa di kampungnya pernah ada keterlibatan TNI yang benar-benar menyejahterakan masyarakat sehingga lahan di sana subur dan para petaninya sejahtera. Cerita itu sangat melekat di ingatan Gilang. Makanya, ia merekonstruksikannya kembali dalam karya lukisnya. Uniknya, ia memakai tanah yang ada di lokasi AMD sebagai bahan catnya. Jadi, ada ketertarikan batin antara si seniman dengan karyanya.

Demikian juga dengan mahkota Wayang Wong Priangan karya Ramsa Ahad yang dibuat dari plastik daur ulang. Jadi, gagasannya berasal dari tradisi, sedangkan bahannya modern.
Termasuk motif ukir Rumah Gadang yang diaplikasikan Jihan ke dalam hiasan baju pengantin modern, tidak menghilangkan filosofi Minang-nya.
Karya-karya yang dipamerkan ini, kata Supriatna, belum beres. Nanti masuk ke garapan berikutnya. Kalau mahasiswa pascasarjana nanti diteruskan ke Studio II dan Studio III yang sudah finishing, termasuk ada peragaannya.
Pada pameran kedua (Studio II) akan diusahakan tempatnya di luar, dan pameran ketiga (Studio III) wajib di luar.
“Karena kalau di Kampus ISBI saja, akan kurung batokeun, kalau di luar kan semacam promosi, baik si seniman, desainernya, maupun promosi ISBI. Jadi, meramaikan Kota Bandung di bidang kesenian dan kebudayaan, khususnya di bidang seni rupa,” pungkas Supriatna.
Judul: Pameran Mahasiswa ISBI Bandung Pamerkan Karya Inovatif Berakar Seni-Budaya Tradisi
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah










