Ojak Orang Tarigu dan Misteri Pabrik Penggilingan Modern

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Sabtu (10/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Ojak Orang Tarigu dan Misteri Pabrik Penggilingan Modern” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN Tahun 2023-2026.

#3 SERI CERPEN BEKATUL

Panggilan dari Pabrik

Suatu pagi Ojak menerima telepon.

Bukan telepon biasa.

Telepon dari seorang pemilik pabrik penggilingan padi modern.

“Pak Ojak?”
“Betul. Ini siapa?”
“Saya Haji Muis. Pemilik pabrik penggilingan di kecamatan.”
“Ada apa?”
“Saya dengar Bapak Dukun Bekatul?”
Ojak menghela napas.
“Bukan dukun. Peneliti militan.”
“Oh, maaf. Peneliti militan bekatul.”
“Ada apa?”
“Saya mau Bapak datang ke pabrik saya. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.”

Ojak berpikir.

Pabrik penggilingan modern.

Tempat di mana bekatul dibuang.

Tempat di mana Eijkman menangis.

“Baik,” kata Ojak.
“Saya datang besok.”

Ia meletakkan telepon.

Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Eijkman, saya akan membela kamu.”

—

Di Dalam Pabrik

Pabrik itu besar.

Sangat besar.

Mesin-mesinnya berputar.

Bunyinya seperti lebah raksasa yang sedang marah.

Ojak masuk dengan wajah serius.

Haji Muis menyambutnya.
“Selamat datang, Pak Ojak.”
Ojak mengangguk.
“Pabriknya bagus.”
“Terima kasih.”
“Tapi…”

Haji Muis tersenyum.
“Tapi apa?”
Ojak menunjuk ke arah pipa yang mengeluarkan serbuk kecokelatan.
“Itu apa?”
“Bekatul.”
“Buat apa?”
“Buat pakan ternak.”
Ojak terdiam.

Ia menatap bekatul itu lama.

Seperti menatap teman lama yang dikurung.

“Bekatul,” katanya pelan.
“Kamu di sini rupanya.”

—

Pertanyaan Pertama

Ojak duduk di kantor Haji Muis.

Ia mengeluarkan buku catatannya.

“Pak Haji,” kata Ojak.
“Saya mau tanya.”
“Silakan.”
“Bapak tahu Eijkman?”
“Siapa?”
“Christiaan Eijkman. Dokter Belanda. Peneliti.”
Haji Muis menggeleng.
“Tidak tahu.”
Ojak membuka buku.
“Eijkman menemukan vitamin B1 dari bekatul. Tahun 1897. Di Jawa.”
“Di Jawa?”
“Iya. Di Jawa.”
“Terus?”
“Terus… Bapak membuangnya.”

Haji Muis terdiam.

Lalu ia tertawa.

“Pak Ojak, saya tidak membuangnya.”
“Lho?”
“Saya jual ke peternak.”
Ojak menatap Haji Muis.
“Itu lebih parah.”
“Kenapa?”
“Karena Bapak menjual vitamin ke ayam.”

Haji Muis berhenti tertawa.

—

Pelajaran Sejarah Singkat

Ojak membuka halaman buku.

“Pak Haji, sebelum mesin penggilingan modern datang, nenek moyang kita makan beras tumbuk.”
“Beras tumbuk?”
“Iya. Beras yang ditumbuk, sekamnya dibuang, tapi kulit arinya masih ada.”
“Jadi?”
“Jadi mereka makan vitamin.”
“Vitamin?”
“Vitamin B1. Yang ada di bekatul.”
Haji Muis mengangguk pelan.

“Terus kenapa mereka berhenti?”
Ojak menatap Haji Muis.
“Karena mesin datang.”
“Mesin?”
“Mesin penggilingan. Mesin yang bisa memutihkan beras.”
“Bukannya bagus?”
“Bagus untuk mata. Buruk untuk tubuh.”

Haji Muis mulai gelisah.

Ojak melanjutkan.

“Beras putih lebih cantik. Lebih mahal. Lebih bergengsi.”
“Jadi?”
“Jadi orang mau bayar lebih untuk beras yang kurang gizi.”
Haji Muis terdiam.
“Kok bisa?”
Ojak tersenyum.
“Karena manusia lebih suka yang cantik daripada yang sehat.”
“Termasuk beras?”
“Termasuk beras.”

—

Hitung-Hitungan

Ojak mengeluarkan kalkulator.

“Pak Haji, saya mau hitung.”
“Hitun apa?”
“Kerugian.”
“Kerugian apa?”
Ojak menekan tombol.
“Indonesia menghasilkan sekitar 55 juta ton gabah per tahun.”
“Terus?”
“Dari situ dihasilkan sekitar 11 juta ton bekatul.”
“Terus?”
“Bekatul dijual sebagai pakan ternak dengan harga Rp 2.500 per kilogram.”

Haji Muis mengangguk.

“Totalnya Rp 27,5 triliun.”

Haji Muis mengangguk lagi.

“Tapi kalau bekatul diolah jadi tepung fortifikasi…”

Ojak menekan tombol lagi.

“Nilainya bisa Rp 200 triliun.”

Haji Muis tersedak.

“Berapa?!”
“Rp 200 triliun.”
“Kalau diekstrak gamma-oryzanol dan vitamin E-nya?”
“Berapa?”
“Rp 286 triliun.”

Haji Muis diam.

Lalu ia berkata pelan:
“Jadi saya membuang…”

Ojak menyelesaikan kalimatnya.

“Rp 200 hingga 286 triliun setiap tahun.”
“Ke ayam.”

Haji Muis menunduk.

“Pak Ojak.”
“Iya?”
“Saya ini bodoh atau jahat?”
Ojak berpikir.
“Tidak bodoh.”
“Jahat?”
“Juga tidak.”
“Terus?”
“Bapak cuma ikut sistem.”

—

Sistem yang Salah

Ojak bangkit.

Ia berjalan ke jendela.

Ia melihat truk-truk mengangkut beras putih.

“Pak Haji, tahu kenapa bekatul dibuang?”
“Karena tidak laku?”
“Lebih dari itu.”
“Terus?”
“Karena beras putih lebih menguntungkan.”
“Kenapa?”
“Karena orang mau bayar lebih untuk beras putih.”
“Kenapa orang mau bayar lebih?”
Ojak menoleh.
“Karena beras putih dianggap lebih bagus.”
“Siapa yang bilang?”
“Sejarah. Kolonialisme. Iklan. Kebiasaan.”
Haji Muis mengerutkan dahi.

Ojak melanjutkan.

“Di zaman kolonial, beras putih dianggap makanan orang kaya.”
“Beras tumbuk?”
“Makanan orang kampung.”
“Jadi?”
“Jadi sampai sekarang, orang kampung ingin makan seperti orang kaya.”
“Yaitu?”
“Beras putih.”
Haji Muis mengangguk.

“Jadi kita meniru kebiasaan orang kaya zaman dulu?”
“Betul.”
“Padahal kebiasaan itu…”
“Bodoh.”
Haji Muis tertawa.

“Pak Ojak, Bapak ini kasar.”
“Saya peneliti militan. Bukan diplomat.”

—

Mengapa Bukan Orang Kaya?

Ojak kembali duduk.

“Pak Haji, ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Orang kaya zaman dulu makan beras putih karena mereka tidak tahu.”
“Tidak tahu apa?”
“Tidak tahu bahwa bekatul itu penting.”
“Terus?”
“Eijkman menemukan itu tahun 1897.”
“Jadi?”
“Jadi orang kaya zaman sekarang sudah tahu.”
“Tapi?”
“Tapi tetap makan beras putih.”
“Kenapa?”

Ojak tersenyum.

“Karena gengsi.”
“Gengsi?”
“Orang kaya zaman sekarang tahu beras tumbuk lebih sehat.”
“Tapi?”
“Tapi mereka tidak mau makan karena dianggap makanan orang kampung.”
Haji Muis terdiam.

“Jadi…”
“Jadi masalahnya bukan pengetahuan.”
“Terus?”
“Masalahnya status.”

Haji Muis menatap Ojak.

“Pak Ojak.”
“Iya?”
“Bapak ini pintar.”
“Bukan pintar.”
“Terus?”
“Peneliti militan.”

—

Eijkman di Sudut Pabrik

Ojak meminta izin melihat proses penggilingan.

Haji Muis mengantar.

Mereka berdiri di dekat mesin.

Bekatul mengalir keluar seperti sungai kecil berwarna cokelat.

Ojak menatapnya.

“Pak Haji, tahu apa yang saya lihat?”
“Bekatul?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Saya melihat Eijkman.”
Haji Muis bingung.
“Eijkman?”
“Iya. Dia berdiri di sudut itu.”
“Sudut mana?”
Ojak menunjuk.
“Di sana. Di dekat pipa bekatul.”
“Kenapa dia di sana?”
“Karena dia menangis.”

Haji Muis terdiam.

“Menangis?”
“Iya. Dia menemukan vitamin B1 dari bekatul. Dapat Nobel. Tapi 100 tahun kemudian, bekatul masih dibuang ke ayam.”
Haji Muis menggeleng.

“Pak Ojak, Bapak ini berlebihan.”
“Mungkin.”
“Tapi?”
“Tapi kalau Eijkman ada di sini, dia pasti bertanya.”
“Bertanya apa?”
“Kenapa manusia lebih bodoh dari ayam?”

—

Jawaban untuk Eijkman

Ojak pulang.

Malam itu ia menulis di buku catatannya.

CATATAN PENELITIAN #3

Pertanyaan: Mengapa bekatul dibuang?

Jawaban:

1. Ekonomi: Beras putih lebih menguntungkan.
2. Sejarah: Kolonialisme mengajarkan bahwa putih = kaya.
3. Status: Orang kampung ingin makan seperti orang kaya.
4. Gengsi: Orang kaya tidak mau makan makanan orang kampung.
5. Sistem: Pabrik mengikuti permintaan pasar.
6. Pasar: Pasar mengikuti selera konsumen.
7. Konsumen: Konsumen mengikuti gengsi.
8. Gengsi: Gengsi mengikuti kebodohan.
9. Kebodohan: Kebodohan mengikuti sejarah.
10. Sejarah: Sejarah mengikuti kolonialisme.

Ojak meletakkan pena.

Ia membaca kembali.

“Nomor sepuluh mengejutkan,” katanya.
“Tapi benar.”

—

Eijkman dan Leluhur

Ojak membuka buku Eijkman.

Di halaman yang sudah ditandai, ia menulis:

Eijkman menemukan apa yang leluhur sudah tahu.
Leluhur makan beras tumbuk.
Eijkman membuktikan itu benar.
Dunia memberi Eijkman Nobel.
Dunia memberi leluhur… apa?

Ia berpikir.

Lalu ia menulis:

Dunia memberi leluhur… pabrik.

—

Ayam yang Lebih Bijak

Pagi berikutnya Ojak duduk di depan kandang ayam.

Ayam-ayam itu mematuk bekatul.

Ojak menatap mereka.

“Kalian tahu,” katanya.
“Kalian lebih bijak dari Haji Muis.”
Ayam-ayam itu berkotek.

“Kalian tidak membuang bekatul.”
Ayam-ayam itu mematuk lagi.

“Kalian tidak peduli putih atau cokelat.”
Ayam-ayam itu mengangguk.

“Kalian cuma peduli…”
Ojak berhenti.

“Kalian cuma peduli makan.”

Ia tersenyum.

“Dan itu…”
“Lebih jujur dari manusia.”

—

Kesimpulan Ojak

Ojak menulis di buku catatannya:

KESIMPULAN PENELITIAN #3

1. Eijkman menemukan vitamin dari bekatul.
2. Leluhur kita makan beras tumbuk.
3. Mereka sehat.
4. Mesin datang.
5. Beras putih dipuja.
6. Bekatul dibuang.
7. Eijkman menangis di sudut pabrik.
8. Ayam lebih bijak dari manusia.
9. Masalahnya bukan pengetahuan.
10. Masalahnya gengsi.

Ia meletakkan pena.

“Nomor tujuh agak puitis,” katanya.
“Tapi peneliti militan boleh puitis.”

—

Penutup: Ojak dan Haji Muis

Seminggu kemudian Haji Muis menelepon Ojak.

“Pak Ojak?”
“Iya.”
“Saya mau tanya.”
“Tentang bekatul?”
“Iya.”
“Silakan.”
“Kalau saya mau olah bekatul jadi tepung…”
“Bagus.”
“Berapa modalnya?”
Ojak tersenyum.
“Pak Haji, saya bukan ahli bisnis.”
“Terus?”
“Saya cuma peneliti militan.”
“Jadi?”
“Jadi saya cuma bisa bilang: coba dulu.”
“Kalau gagal?”
Ojak tertawa.
“Kalau gagal, setidaknya Bapak tidak membuang Rp 200 triliun ke ayam.”

Haji Muis tertawa.

“Pak Ojak.”
“Iya?”
“Bapak ini aneh.”
“Betul.”
“Tapi berguna.”

Ojak menutup telepon.

Ia melihat ke kandang ayam.

“Kalian dengar?” katanya.
“Ada yang mulai belajar.”

Ayam-ayam itu berkotek.

“Tapi kalian tetap yang paling bijak.”

—

Bersambung ke #4

Catatan: Pada tahun 1897, Christiaan Eijkman menyimpulkan bahwa ada zat dalam kulit ari beras (bekatul) yang mencegah penyakit beri-beri. Zat itu kemudian dikenal sebagai vitamin B1. Eijkman menerima Hadiah Nobel pada tahun 1929. Namun, hingga hari ini, sebagian besar bekatul di Indonesia masih dijual sebagai pakan ternak dengan harga rendah, sementara potensi ekonominya jauh lebih besar.

***

Judul: Ojak Orang Tarigu dan Misteri Pabrik Penggilingan Modern
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *