Nincak Wayah Ngaluncurkeun (Grand Launching) Pabaru Sunda 1962 Caka Sunda

Liputan Khusus menjelang Tahun Baru Sunda 3 Juni 2025

Dari kiri: Satria, Asep Ruslan, Elimayanti Padmawijaya, Miranda H. Wihardja, Asep Zaenal Mustofa dan Abah Endjum. Sabtu (31/5/2025) di Hotel Grand Savoy Homann Bandung. Daring Grand Launching Pabaru Sunda 1962 Caka Sunda (Foto: AZM)

MajmusSunda News, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Sabtu (31/05/2025) – Bertempat di Ruang Azalea Hotel Grand Savoy Homann Jl. Asia-Afrika No. 112, Kota Bandung, Elitis Daya Media bersama Yayasan Best Daya dan Yayasan Siliwangi Mustika Nuswantara, mengadakan Nincak Wayah Ngaluncurkeun (Grand Launching) Pabaru Sunda 1962 Çaka Sunda.

Menurut Ketua Pelaksana Kegiatan  Hj. Elimayanti Padmawijaya  dari Elitis Daya Media yang dipanggil Elly, menyampaikan bahwa acara ini bersamaan dengan Hari ini, 31 Mei 2025, dimana dunia memperingati empat momen penting yang menyentuh berbagai sisi kehidupan manusia.

“Dari kampanye kesehatan global, kepedulian terhadap lingkungan, apresiasi profesi digital, hingga ajakan untuk tersenyum. Hari ini adalah peringatan Hari Senyum Nasional K𝐞𝐤𝐮𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚,” kata Elly di Hotel Savoy Homan, Sabtu (31/5/2025) sore.

Menurut Elly, peringatan Hari Senyum Nasional ini diprakarsai oleh Compassionate Dentalcare pada 2018, yang mengingatkan kita bahwa senyum bukan sekadar ekspresi, tetapi simbol dari kesehatan, rasa percaya diri, dan kebahagiaan.

Peringatan Hari Senyum Nasional Sabtu (31/5/2025) di Hotel Grand Savoy Homann Bandung(Foto: AZM)

Peringatan ini mengajak semua orang untuk membagikan senyum terbaik mereka sebagai bentuk kebaikan kecil yang berdampak besar. Karena dalam setiap senyum, ada harapan, kedamaian, dan semangat untuk terus menjalani hari.

Pada hari ini, 31 Mei 2025 Masehi juga bertepatan dengan hari Sabtu 𝑇𝑢𝑚𝑝𝑒𝑘 𝐾𝑎𝑙𝑖𝑤𝑜𝑛, 11 𝐾𝑟𝑒𝑠𝑛𝑎𝑝𝑎𝑘𝑠𝑎 𝐴𝑆𝑈𝐽𝐼 1961 C𝑎𝑘𝑎 S𝑢𝑛𝑑𝑎. 𝑇𝑢𝑚𝑝𝑒𝑘 𝐾𝑎𝑙𝑖𝑤𝑜𝑛, 10 𝐾𝐴𝑁𝐸𝑀 1947 𝑆𝑎𝑘𝑎 𝑆𝑢𝑛𝑑𝑎, 𝑊𝑢𝑘𝑢 : 𝑊𝑈𝐺𝑈; 3 𝑍𝑈𝐿𝐻𝑖𝑗𝐴𝐻 1446 𝐻𝑖𝑗𝑟𝑖𝑎ℎ; 3 𝑃𝑜𝑛 𝐵𝐸𝑆𝐴𝑅 1958 𝐴𝑠𝑎𝑝𝑜𝑛/𝐽𝑎𝑤𝑎

𝐓𝐮𝐦𝐩𝐞𝐤 𝐊𝐚𝐥𝐢𝐰𝐨𝐧 adalah 𝐼𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔 𝑃𝑜𝑒 dalam satu Siklus (120 tahun) pada Sistem Penanggaan Tradisional Kalender Sunda, dan hari ini menjadi 𝐓𝐮𝐦𝐩𝐞𝐤 𝐊𝐚𝐥𝐢𝐰𝐨𝐧 (𝐼𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔 𝑃𝑜𝑒) terakhir tahun 1961 𝐶̧𝑎𝑘𝑎 𝑆𝑢𝑛𝑑𝑎 Windu Kuntara.

𝐍𝐈𝐍𝐂𝐀𝐊 𝐖𝐀𝐘𝐀𝐇 𝐍𝐆𝐀𝐋𝐔𝐍𝐂𝐔𝐑𝐊𝐄𝐔𝐍 adalah peluncuran Rangkaian Kegiatan Pergantian Tahun (𝙋𝙖𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙎𝙪𝙣𝙙𝙖) dalam Sistem Penanggaan Tradisional Kalender Sunda.

𝙋𝙖𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙎𝙪𝙣𝙙𝙖 adalah istilah yang dipergunakan sejak awal penerbitan Sistem Penanggaan Tradisional Kalender Sunda.

“Peringatan pada 31 Mei ini menunjukkan bahwa, pada akhirnya dunia membutuhkan kesadaran, kepedulian, kreativitas (𝑚𝑜𝑡𝑒𝑘𝑎𝑟), dan kebahagiaan untuk terus berputar. 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐌𝐨𝐭𝐞𝐤𝐚𝐫 𝐂𝐞𝐫𝐝𝐚𝐬 𝐁𝐞𝐫𝐛𝐮𝐝𝐚𝐲𝐚,” ujar Elly.

Acara Grand Launching Tahun Baru Sunda Pabaru Sunda 1962 Çaka Sunda, dilaksanakan secara blended (Foto: AZM)

Acara Grand Launching Tahun Baru Sunda , Pabaru Sunda 1962 Çaka Sunda, dilaksanakan secara blended. Hadir secara luring Satria dan Hj. Elimayanti Padmawijaya selaku ketua pelaksana  kegiatan dan owner PT. Elitis Daya Media (EDM);  Miranda H. Wihardja  Pengelola Sistem Penanggalan Tradisional Kalender Sunda; Pendiri/Pembina Yayasan BESTDAYA (Bengekel Studi Budaya);  Asep Ruslan Ketua IV Badan Pekerja Majelis Musyawarah Sunda (MMS); Asep Zaenal Mustofa M.Epid dari MMS/MajmusSunda News; dan Abah Endjum (Padepokan Bumi Ageung Saketi Cibiru Bandung).

Hadir secara daring Mayjen TNI (Purn.) H. Asep Kuswani, selaku Pembina Yayasan Siliwangi Mustika Nusantara (Muswantara) dan Juga Ketua Dewan Pembina Pusat Paguyuban Asep Dunia (PAD); Dr. Dra. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes. Pelestari Budaya Sunda/Pinisepuh MMS; Ratna Rahayu (Disbudpar Kota Bandung); Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si (Akademisi), juga beberapa peserta lainnya.

Acara dimulai oleh paparan dari Miranda H. Wihardja  Pengelola Sistem Penanggalan Tradisional Kalender Sunda, lalu dikuatkan oleh Abah Endjum (Padepokan Bumi Ageung Saketi Cibiru Bandung).

Kalendender Sunda 1962 Caka Sunda (Foto: AZM)

Dilanjutkan dengan dialog dan selanjutnya sebagai penutup acara dibacakan kesimpulan dari acara ini, dengan penguatan dari Dr. Ir. Supardiyono Sobirin, Dewan Pakar Pertanian Kehutanan, Kelautan, Pertambangan, Lingkungan Hidup, Kesehatan Dan Pembangunan Pedesaan Majelis Musyawarah Sunda (MMS), bahwa:

1). Pabaru Sunda: Saatnya Waspada terhadap Dinamika Alam

Peringatan Pabaru Sunda  Taun Monyet Kuntara yang jatuh pada 4 juni 2025* hari Buda Wage  , bukan hanya menandai pergantian waktu dalam sistem penanggalan tradisional Sunda, tetapi juga menjadi momen kontemplatif kolektif terhadap kondisi lingkungan kita hari ini.

Kita sedang berada dalam masa yang penuh gejolak, yakni a) Lingkungan alam makin terintervensi oleh aktivitas manusia yang terus bertambah; b) Kawasan lindung terus menyempit dan degradasinya meningkat; c) Perubahan iklim berlangsung makin cepat; dan d) musim tak lagi mudah diprediksi seperti dulu.

Ini adalah alarm ekologi yang tak bisa diabaikan. Maka, Pabaru Sunda harus dimaknai bukan sekadar perayaan angka dalam kalender , melainkan panggero (panggilan) untuk meningkatkan kewaspadaan ekologis dan solidaritas kultural .

2). Langkah Kewaspadaan dan Mitigasi yang Perlu Ditempuh

a) Revitalisasi pengetahuan lokal untuk membaca tanda-tanda alam sebagaimana leluhur kita mampu membaca waktu tanam, musim hujan, dan masa paceklik tanpa satelit;

b) Pemulihan kawasan lindung dan kritis melalui kolaborasi pentahelix (pemerintah, masyarakat, ilmuwan, bisnis, dan media);

c) Mendorong budaya hemat, selaras, dan berkelanjutan dalam setiap aspek hidup: pangan, energi, air, dan tanah;

d) Penguatan pendidikan ekologi berbasis budaya lokal , termasuk nilai-nilai dalam sistem penanggalan tradisional; dan

e) Menyusun ulang kebijakan pembangunan agar selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

3). Masih Relevankah Kalender Tradisional?

a) Sebagian menganggap kalender tradisional Sunda sebagai sekadar angka yang tak lagi “sesuai kenyataan alam”;

b) Namun sesungguhnya, kalender ini adalah hasil pengamatan mendalam terhadap siklus alam dan kosmos selama ribuan tahun;

c) Justru ketika sistem modern gagal membaca pola-pola baru iklim yang makin tak menentu, kita butuh kearifan lokal untuk mengembalikan rasa “nyambung” dengan alam — bukan dengan menolaknya, tapi dengan memperbarui maknanya;

d) Kalender tradisional tidak harus menjadi sistem waktu tunggal, tapi bisa menjadi kompas kultural dan refleksi ekologis : Apakah hidup kita hari ini masih seimbang dengan alam?. Apakah pembangunan kita masih menghormati ruang hidup makhluk lain?

4). Pabaru Sunda adalah Ajakan untuk Bangkit Bersama Alam

a) Mari kita maknai Pabaru Sunda bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai gerakan motekar ekologis, agar kita tidak hanya selamat sebagai masyarakat, tapi juga sebagai bagian dari kehidupan semesta;

b) Nincak wayah ngaluncurkeun , waktuna urang ngapungkeun kasadaran, nyalametkeun alam, jeung ngajaga budaya;

Diskusi terkait persiapan Pabaru Sunda, Sabtu (31/5/2025) di Hotel Grand Savoy Homann Bandung (Foto: AZM)

Selanjutnya Elly mengatakan. Bahwa acara Grand Launcing ini sangat bermanfaat karena membahas persiapan Pabaru Sunda di Bogor.

“Selamat berjumpa di acara Pabaru Sunda, 3 Juni 2025 yang akan dipusatkan di Kota Bogor nanti,” ujar Elly. (AZM)

 

***

Judul: Nincak Wayah Ngaluncurkeun (Grand Launching) Pabaru Sunda 1962 Caka Sunda
Jurnalis: Asep Zaenal Mustofa (AZM)
Editor: Asep Ruslan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *