MajmusSunda News, Kolom OPINI, Selasa (05/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Merawat yang Tak Terlihat : Kekeluargaan dan Ekonomi Perawatan sebagai Fondasi Peradaban” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.
I. Prolog: Pertanyaan yang Mengganggu
Sejauh ini, serial esai kita telah menyajikan Kekeluargaan sebagai energi sosial kuantum, sebagai prisma pembias realitas, dan sebagai gerakan yang dapat diarusutamakan. Kita telah merayakan keberhasilan Keling Kumang: Rp 2,3 triliun, 232.200 anggota, 79 kantor.
Namun, di tengah perayaan itu, sebuah pertanyaan mengganggu mulai muncul. Ia berbisik pelan, tetapi cukup keras untuk didengar oleh mereka yang punya telinga untuk mendengar:
“Jika Kekeluargaan hanya menjadi alat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, bukankah ia hanya versi lain dari kapitalisme? Bukankah kita hanya mengganti bungkusnya dari ‘modal finansial’ ke ‘modal sosial’ tetapi tetap mengejar hal yang sama: lebih besar, lebih banyak, lebih cepat?”

Pertanyaan ini penting. Ia adalah suara hati nurani yang menolak direduksi menjadi sekrup dalam mesin pertumbuhan entah mesin itu disebut kapitalisme atau koperasi. Ia mengingatkan kita bahwa tujuan akhir dari Kekeluargaan bukanlah pertumbuhan ekonomi, melainkan kehidupan yang layak dijalani kehidupan yang bermakna, bermartabat, dan penuh perhatian.
Esai ini adalah jawaban atas pertanyaan itu. Kita akan menjelajahi dimensi Kekeluargaan yang paling dalam, paling tak terlihat, dan paling sering diabaikan oleh teori ekonomi mana pun: ekonomi perawatan (care economy). Kita akan melihat bahwa Kekeluargaan, pada hakikatnya, adalah tentang merawat yang tak terlihat dan bahwa di sanalah letak kekuatan revolusionernya yang sesungguhnya.
II. Ekonomi Perawatan: Tulang Punggung yang Tak Terlihat
Bayangkan sebuah gunung es. Di atas permukaan air, tampak menjulang: pabrik-pabrik, kantor-kantor, pasar saham, transaksi-transaksi miliaran dolar. Inilah “ekonomi produktif” yang selama ini diukur oleh PDB, dianalisis oleh para ekonom, dan dipuja oleh para politisi.
Tetapi di bawah permukaan air, ada bagian gunung es yang jauh lebih besar, namun tak terlihat: ibu yang bangun pukul tiga pagi untuk menyusui bayinya; anak perempuan yang memandikan orang tuanya yang lumpuh; tetangga yang bergantian menjaga warga yang sakit; relawan yang membersihkan sungai tanpa dibayar; semua pekerjaan yang disebut perawatan (care work).
Ekonomi perawatan adalah tulang punggung yang menopang seluruh bangunan ekonomi “produktif”. Tanpa ibu yang merawat anak, tidak akan ada pekerja yang sehat dan terdidik. Tanpa orang yang merawat lansia, tidak akan ada transfer pengetahuan antar generasi. Tanpa mereka yang menjaga alam, tidak akan ada sumber daya untuk diolah. Namun, pekerjaan ini yang sebagian besar dilakukan oleh perempuan tidak dibayar, tidak dihitung, dan tidak dihargai.
Para ekonom feminis telah lama berseru bahwa ini adalah ketidakadilan epistemologis yang paling mendasar. PDB, yang dianggap sebagai ukuran “kemajuan”, hanya menghitung apa yang diperjualbelikan di pasar. Ia buta terhadap semua pekerjaan yang dilakukan karena cinta, karena tanggung jawab, karena solidaritas. Akibatnya, kebijakan publik dirancang seolah-olah pekerjaan perawatan tidak ada atau, lebih buruk lagi, seolah-olah ia akan selalu tersedia tanpa perlu didukung.
Di sinilah letak kontribusi revolusioner Kekeluargaan. Kekeluargaan, pada hakikatnya, adalah ekonomi perawatan yang dilembagakan (institutionalized care economy). Ia adalah pengakuan bahwa merawat bukan mengeksploitasi, bukan mengakumulasi adalah aktivitas ekonomi yang paling fundamental.
III. Keling Kumang sebagai Ekonomi Perawatan: Bukti dari Lapangan
Mari kita lihat Keling Kumang melalui lensa ini. Ketika Keling Kumang memutuskan untuk mengalokasikan 15% SHU untuk dana sosial, itu bukanlah “biaya” yang mengurangi keuntungan. Itu adalah investasi dalam infrastruktur perawatan kolektif. Dana itu digunakan untuk membantu anggota yang sakit, yang gagal panen, yang anaknya ingin sekolah tetapi tidak punya biaya.
Ketika pengurus Keling Kumang mengunjungi rumah Bapak Stefanus yang kreditnya macet bukan untuk menagih, tetapi untuk mendengarkan cerita tentang anaknya yang sakit itu bukanlah “inefisiensi” dalam prosedur kredit. Itu adalah pekerjaan perawatan (care work): mengenali penderitaan, merespons dengan empati, dan mencari solusi yang memulihkan martabat.
Ketika anggota Keling Kumang secara spontan menggalang dana untuk membantu sesama saat pandemi tanpa menunggu instruksi, tanpa mengharapkan imbalan itu bukanlah anomali. Itu adalah budaya perawatan yang telah terinternalisasi selama puluhan tahun.
Apa yang dilakukan Keling Kumang adalah membuat yang tak terlihat menjadi terlihat. Dalam laporan keuangan konvensional, dana sosial adalah “pengeluaran”. Dalam logika Kekeluargaan, ia adalah investasi paling produktif karena ia menghasilkan kepercayaan, solidaritas, dan ketangguhan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Lebih jauh lagi, Keling Kumang mendistribusikan pekerjaan perawatan secara lebih adil. Dalam keluarga tradisional, pekerjaan perawatan dibebankan hampir seluruhnya pada perempuan—ibu, istri, anak perempuan. Dalam koperasi Kekeluargaan, pekerjaan perawatan dilembagakan dan dikolektifkan. Dana sosial dikelola bersama. Kunjungan ke anggota yang sakit dilakukan oleh pengurus, bukan hanya oleh keluarga inti. Solidaritas menjadi tanggung jawab kolektif, bukan beban individu.
Ini adalah revolusi gender yang diam-diam: Kekeluargaan mendemokratisasi perawatan.
IV. Merawat yang Tak Terlihat: Empat Dimensi Perawatan Kolektif
Bagaimana Kekeluargaan melembagakan perawatan? Saya mengidentifikasi empat dimensi perawatan kolektif yang bekerja secara simultan:
1. Merawat Tubuh
Ini adalah dimensi paling dasar: memastikan bahwa setiap anggota memiliki akses ke makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan keamanan fisik. Dalam Keling Kumang, ini terwujud dalam pinjaman kesehatan, bantuan darurat, dan dana solidaritas. Tetapi berbeda dengan bantuan sosial pemerintah yang sering kali bersifat karitatif dan merendahkan, perawatan dalam Kekeluargaan dilakukan dalam semangat resiprositas: hari ini aku membantumu, suatu saat kamu akan membantuku.
2. Merawat Jiwa
Manusia tidak hanya membutuhkan roti; kita juga membutuhkan makna, pengakuan, dan rasa memiliki. Rapat kelompok Keling Kumang bukan hanya tentang laporan keuangan; ia juga tentang berbagi cerita, mendengarkan keluhan, dan merayakan kebersamaan. Ketika seorang anggota merasa didengar, ia tidak hanya mendapatkan solusi teknis; ia mendapatkan pengakuan eksistensial—penegasan bahwa ia ada, bahwa ia berarti, bahwa ia bukan sekadar angka dalam neraca.
3. Merawat Relasi
Dalam masyarakat individualistis, relasi adalah alat untuk mencapai tujuan—networking, koneksi, “orang dalam”. Dalam Kekeluargaan, relasi adalah tujuan itu sendiri. Merawat relasi berarti menyelesaikan konflik dengan restorasi, bukan litigasi. Ia berarti meminta maaf dan memaafkan. Ia berarti hadir dalam suka dan duka, bukan karena ada kepentingan, tetapi karena itulah yang dilakukan oleh keluarga.
4. Merawat Bumi
Ini adalah dimensi yang paling sering diabaikan dalam diskusi tentang koperasi, tetapi paling relevan dengan krisis zaman kita. Kekeluargaan, dalam akar budaya Nusantara, tidak pernah membatasi “keluarga” hanya pada sesama manusia. Hutan adalah babut (ibu). Tanah adalah saudara. Sungai adalah urat nadi kehidupan. Koperasi Kekeluargaan yang sejati harus memperluas definisi “anggota keluarga” hingga mencakup seluruh ciptaan-Nya.
Beberapa koperasi komunitas adat telah mempraktikkan ini: mereka mengelola hutan bukan sebagai komoditas yang harus dieksploitasi, tetapi sebagai anggota keluarga yang harus dirawat. Mereka menghitung “keuntungan” bukan hanya dalam rupiah, tetapi juga dalam kualitas air, kesuburan tanah, dan keanekaragaman hayati. Ini adalah perawatan kosmis—tanggung jawab terhadap seluruh jaringan kehidupan.
V. Merawat sebagai Tindakan Revolusioner
Dalam dunia yang didominasi oleh logika eksploitasi, merawat adalah tindakan revolusioner.
Kapitalisme modern dibangun di atas premis bahwa alam adalah sumber daya yang tak terbatas, bahwa pekerjaan perempuan di rumah adalah “gratis”, dan bahwa masa depan adalah urusan generasi mendatang. Semua premis ini sedang runtuh. Krisis iklim, krisis perawatan (care crisis), dan krisis makna adalah tiga wajah dari krisis yang sama: krisis ketidakpedulian.
Kekeluargaan menawarkan jalan keluar. Ia berkata: “Kita akan merawat.” Bukan karena merawat itu “baik secara moral”, tetapi karena merawat adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup sebagai spesies. Planet ini tidak membutuhkan lebih banyak pertumbuhan; ia membutuhkan lebih banyak perawatan.
Di sinilah letak kekuatan revolusioner Kekeluargaan yang sesungguhnya. Ia bukan hanya alternatif ekonomi; ia adalah alternatif peradaban. Ia menawarkan transisi dari homo economicus—manusia yang menghitung ke homo curans manusia yang merawat.
Dan transisi ini sudah dimulai. Ia terjadi di Keling Kumang, di koperasi-koperasi perempuan, di komunitas-komunitas adat, di gerakan-gerakan ekologi. Ia terjadi setiap kali seseorang memilih untuk berhenti mengejar lebih banyak dan mulai merawat apa yang sudah ada.
VI. Penutup: Warisan yang Tak Terhitung
Kita kembali ke pertanyaan di awal esai ini: “Jika Kekeluargaan hanya menjadi alat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, bukankah ia hanya versi lain dari kapitalisme?”
Jawabannya: Ya, jika Kekeluargaan direduksi menjadi sekadar strategi bisnis. Tetapi Kekeluargaan sejati tidak pernah hanya tentang pertumbuhan. Ia tentang merawat yang tak terlihat.
Ukuran keberhasilan Keling Kumang bukanlah Rp 2,3 triliun. Itu hanyalah efek samping. Ukuran sejatinya adalah: berapa banyak petani yang lepas dari jerat rentenir? Berapa banyak anak yang bisa sekolah karena pinjaman pendidikan? Berapa banyak orang sakit yang mendapat bantuan? Berapa banyak konflik yang diselesaikan secara damai? Berapa banyak perempuan yang menemukan suaranya dalam rapat anggota? Berapa banyak hutan yang tetap berdiri karena dikelola oleh koperasi adat?
Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh PDB. Ia hanya bisa dijawab oleh hati yang peduli—dan oleh sistem yang dirancang untuk merawat.
Pada akhirnya, Kekeluargaan adalah tentang warisan. Bukan warisan berupa uang atau aset—itu bisa habis. Melainkan warisan berupa budaya perawatan: kebiasaan untuk saling peduli, keberanian untuk hadir dalam penderitaan orang lain, dan kearifan untuk tahu bahwa kesejahteraan sejati tidak pernah bisa dicapai sendirian.
Cooperative minds are quantum minds.
And quantum minds know that the most powerful force in the universe is not gravity. It is care.
—
Sumedang, 4 Mei 2026
Agus Pakpahan
Ekonom Kelembagaan
Rektor Universitas Koperasi Indonesia
***
Judul: Merawat yang Tak Terlihat : Kekeluargaan dan Ekonomi Perawatan sebagai Fondasi Peradaban
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra












