MajmusSunda News, Jum’at (15/05/2026) – Artikel berjudul “Meninggikan Kasih” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, di antara dentang lonceng gereja dan gema azan di langit senja, ada satu nama yang terus disebut dengan hormat: Isa Almasih. Yesus Kristus.
Namanya melintasi gurun tua, biara, masjid, dan rumah sunyi yang dipenuhi doa ibu bagi anak-anaknya di dunia yang rapuh oleh kebencian.

Dua agama memandang kisah-Nya dengan cara berbeda: tentang salib, tubuh yang tergantung di antara bumi dan langit, apakah paku benar menembus daging, atau Allah menyelamatkan hamba-Nya dengan rahasia yang tak sepenuhnya tersingkap bagi manusia.
Namun keduanya menengadah ke langit yang sama. Sama-sama percaya Isa (Yesus) tak berakhir dalam kehinaan. Tuhan meninggikan, memuliakan, mengangkat-Nya ke langit, dan menjaga nama-Nya sampai akhir zaman. Dan kelak Ia akan kembali sebagai juru selamat bagi dunia yang terluka.
Di titik itu keduanya bertemu: Kristen melihat Yesus sebagai cinta yang rela terluka demi penebusan, Islam melihat Isa sebagai nabi suci yang dimuliakan Allah. Yang satu pengorbanan, yang lain perlindungan Ilahi. Namun keduanya menolak merendahkan-Nya dan sama-sama meninggikan Dia di tempat yang luhur.
Mungkin di situlah pelajaran terbesar: kasih Tuhan lebih luas daripada kebencian manusia atas nama-Nya.
Sebab langit tidak bertanya siapa paling keras berseru, tetapi siapa yang memberi makan yang lapar, memeluk yang tersisih, menjaga iman tak jadi alasan untuk melukai, dan mengasihi sesama meski berbeda doa.
Keselamatan tidak lahir dari keseragaman tafsir, melainkan ketika manusia tetap memilih kasih meski tak sepakat.
Isa Almasih hadir sebagai tanda bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia dalam gelap kekerasan dan kesombongan.
Dan ketika Ia kembali, yang dipermalukan bukan yang berbeda keyakinan, melainkan yang memakai nama Tuhan untuk menabur kebencian.
Pada akhirnya, langit berbisik: jangan biarkan perbedaan menghapus kemanusiaan, dan jangan biarkan tafsir mengalahkan belas kasih.
Sebab Tuhan tidak menjadi kecil hanya karena manusia berbeda jalan mencari-Nya.
Bila gereja dan masjid mampu saling menjaga, mungkin saat itulah Isa Almasih tersenyum bahagia karena meninggikan ketuhanan seiring dengan memuliakan.
***
Judul: Meninggikan Kasih
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












