MajmusSunda News, Jum’at (02/10/2026) – Artikel berjudul “Menghindari Kemacetan Pikiran dan Kebijakan” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Kemacetan di jalan sesungguhnya tidak terlalu berbahaya.
Ia hanya membuat kendaraan berhenti, membuat klakson saling bertukar amarah,
membuat manusia terlambat beberapa jam dari tempat yang hendak ditujunya.

Yang lebih berbahaya adalah ketika yang macet bukan jalanan, melainkan pikiran.
Sebab jalan yang macet masih bisa dibuka: kendaraan dipindahkan, lampu diatur, jalur diperlebar, atau kita bisa memilih jalan lain.
Tetapi pikiran yang macet
bisa membuat kesalahan terasa seperti kebenaran
dan kebiasaan disangka sebagai kebijakan.
Lebih celaka lagi
ketika kemacetan itu masuk ke dalam kebijakan.
Rapat terus berjalan,
dokumen terus ditandatangani,
anggaran terus disusun,
tetapi gagasan tak pernah bergerak lebih jauh dari tempat ia pertama kali dilahirkan.
Di sana, kemacetan tidak lagi menghabiskan waktu. Ia menghabiskan masa depan.
Jalan yang macet mungkin membuat kita terlambat pulang. Pikiran yang macet bisa membuat sebuah bangsa
terlambat memahami zaman.
Dan kebijakan yang macet
bisa membuat jutaan orang
membayar harga dari ketidakmampuan
untuk berpikir ulang.
Maka jangan terlalu takut pada jalan yang penuh kendaraan.
Takutlah pada kepala-kepala
yang tak mau membuka jalan bagi gagasan dan praktik baru.
Sebab kendaraan yang berhenti hanya menghambat perjalanan.
Tetapi pikiran yang berhenti
dapat menghambat perubahan.
Dan kebijakan yang tak pernah bergerak dapat membuat sebuah negeri berlari di tempat sangat lama, dengan wajah seolah-olah sedang menuju masa depan.
***
Judul: Menghindari Kemacetan Pikiran dan Kebijakan
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












