Memimpin Tanpa Mendidik

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News
Ilustrasi: Seorang pemimpin sedang melakukan inspeksi pembangunan ke sebuah kampung - (Sumber: Arie/MMS)

MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Kamis (07/08/2025) Esai berjudul “Memimpin Tanpa Mendidik” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, di lembar pertama konstitusi—di altar kata-kata yang disucikan—terpatri mandat: misi pemerintahan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tugas pemimpin bukan sekadar menampung aspirasi, tetapi menjadi suri teladan dan pendidik—pelita di tengah gulita, pembangkit keberanian menempuh jalan yang belum dikenal.

Prof. Yudi Latif, penulis - (Sumber: Instagram)
Prof. Yudi Latif, penulis – (Sumber: Instagram)

Namun di negeri yang tanahnya serupa rahim semesta, para pemimpin menjelma mercusuar tanpa cahaya: menjulang tinggi, tetapi tak menuntun. Mereka bicara tentang masa depan, tetapi lupa menyalakan obor pengetahuan di dada rakyat. Janji ditebar, tetapi akal dibungkam; kata-kata menjulang, tetapi langkah kehilangan arah. Tiada keteladanan, tiada tuntunan; ucapan dan tindakan berseberangan.

Kekuasaan tegak dalam struktur. Namun, kosong dari makna yang mencerdaskan. Mereka lebih suka rakyat membebek daripada berpikir dengan akal menyala, padahal pikiran merdeka tak bisa dikekang slogan, tak bisa dibungkam seremoni.

Jiwa tanpa pendidikan mudah disesatkan, mudah dilupakan. Mereka kira rakyat cukup diberi makan, dipagari aturan, tetapi manusia bukan ternak; ia nyala ruh dan mata air akal— yang mesti ditumbuhkan, diasah, diajak berdialog.

Tanpa mencerdaskan, kekuasaan hanyalah bayang panjang di tanah gersang: besar di siang hari, lenyap saat cahaya padam.

Pemimpin sejati tak hanya penentu arah, tetapi penumbuh kesadaran. Ia tak sekadar memberi aba-aba, tetapi menggugah keberanian bertanya. Namun yang kerap tampak: pemimpin yang takut pada rakyat yang berpikir—karena pikiran merdeka tak bisa dijaga pagar-pagar retorika.

Mereka membangun jembatan antar kota, tetapi membiarkan jurang makna menganga. Mereka dirikan sekolah, tetapi membungkam pertanyaan. Kepatuhan dipuji, kebisuan dirayakan, kebijaksanaan dan keberanian justru dicurigai.

Kelak, ketika sejarah menoleh, ia takkan menghitung panjang jalan atau jumlah kursi yang digenggam. Ia hanya bertanya, pelan namun tajam: Apakah engkau mendidik bangsamu? Apakah rakyatmu sanggup berdiri saat engkau tiada?

Sebab pemimpin yang tak mendidik hanyalah bayang yang melintas di tanah kosong—hilang bersama angin waktu, tanpa pernah benar-benar hidup dalam jiwa bangsanya.

***

Judul: Memimpin Tanpa Mendidik
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *