Makna Luhur Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

Artikel ini ditulis oleh: Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja

Ernawan
Merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia - (Sumber: Ernawan)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Selasa (19/08/2025) – Artikel berjudul “Makna Luhur Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia” ini ditulis oleh: Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja, M.Psi., M.B.A., CIQA., CQM., CPHRM., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) yang akrab disapa Guru Toge.

Pada saat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT-RI) tanggal 17 Agustus 2025, baik pra maupun pasca raya dirgahayu kemerdekaan, di pelbagai pelosok tanah air masih cukup gempita. Di daerah masih banyak arak-arakkan diiringi tetabuhan, usung jampana isi makanan tradisional dengan kemeriahan mulai anak anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, bapak-bapak, dan lain-lain. Ada juga yang raramean pakai Kuda Renggong. Itu salah satu bukti bahwa Rakyat Indonesia masih sangat mencintai tanah airnya ─ INDONESIA.

Pantas dulu N.A. Douwes Dekker saja dalam bukunya”Tanah Air Kita” begitu bangga dan memuja Indonesia. Beliau menyebut Andalas dengan “Raksasa Muda”, “Bisikan Air Menepi” dia puja untuk Kalimantan, Sulawesi dengan “Anggrek Khatulistiwa”, Maluku dan Irian (Papua) disebut “Taman Laut” dan “Burung Cenderawasih”, sedangkan Sunda Kecil disebut “Tapak Kuda”

Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja
Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja – (Sumber: Koleksi pribadi)

“Menggentar Bumi”, “Gambang Bernyanyi”, dan “Takhta Para Dewata” untuk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali; Jawa Barat dan Banten digelari “Ratna Penyambung Rangkaian Zamrud” (Khatulistiwa), sedangkan; INDONESIA dipuja sebagai “Kalung Ratna Mutu Manikam”.

Dalam memeriahkan Peringatan HUT-RI tersebut, terlebih lebih di tingkat kelurahan, rukun warga (RW), rukun tetangga (RT) merupakan bentuk kesadaran luhur warga selaku aspek manusia dalam dinamika sosial, pengembangan masyarakat partisipatif, yaitu gotong royong, aplikasi Budaya, dan peradaban indonesia yang hampir punah. Alhamdullilah budaya gotong royong masih banyak yang terjaga dengan baik.

Gotong royong warga merupakan sikap dan karakteristik dari resultante kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri, kecakapan sosial, berbentuk empati, ketrampilan sosial (membina mempererat hubungan dengan orang lain).

Kekompakan pada level kelurahan, RW, dan RT dengan pelbagai kegiatannya, secara psikologis adalah dinamika membuat komitmen untuk menjadi champion bagi perubahan kemajuan, sosial, dan budaya, serta meyakinkan yang lainnya untuk menjadi mitra champion, demi kepentingan masyarakat, menghargai sesama warga dan tetangga (guyub), menghargai komunikasi, menghargai perbedaan, berjuang menjadi yang terbaik dan menghargai kreativitas.

Kepanitiaan HUT-RI pada level kelurahan, RW, dan RT, biasanya dimotori oleh Lurah, kalau di kompleks atau lingkungan dimotori oleh Ketua RW, RT, dan komponennya seperti: PKK, Posyandu, DKM, dan Karang Taruna/Tarka selaku generasi muda kandidat pemimpin masa datang.

Secara Budaya, kegiatan kepanitiaan harus dilandasi oleh peradaban bangsa atau daerah, seperti di tatar Sunda, landasannya adalah silih asah  yakni mencerdaskan anggota masyarakat agar guyub dan mandiri melalui tingkatan nalar.

Silih asih, kebersamaan dalam kesetaraan harkat dan martabat manusia (tidak melihat pangkat dan jabatan di kantor, tetapi sebagai sesama warga yang terhormat), serta saling menghargai, toleransi, dan solidaritas.

Silih asuh yaitu mengacu kepada nilai etika, saling mengingatkan baik dalam makna moral ataupun nilai nilai agama.

Intinya, makna memperingati HUT-RI  dalam bentuk pelbagai kegiatan yang bernilai agung atau luhur, terkait gotong royong, adalah symbol identitas manusia indonesia yang mengandung nilai idealisme proses cinta tanah air, profesionalisme dalam bentuk gotong royong, serta patriotisme diaplikasikan dalam bentuk aksi atau kegiatan terpadu.

Nilai-nilai itulah cerminan luhur masyarakat (sekali lagi masyarakat) biar pun sedang dalam kondisi diterpa kesulitan ekonomi, kesulitan pekerjaan, dan lain-lain, mereka tetap menunjukkan dan menjunjung tinggi integritas kultural, loyalitas nasional, dan solidaritas sosial.

Dirgahayu Republik Indonesia, tanah air yang kucintai.

***

Judul: Makna Luhur Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
Penulis: Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas info Penulis

Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja, M.Psi., M.B.A., CIQA., CQM., CPHRM., adalah anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS). Penulis pernah bertugas sebagai General Manager HRD, General Manager Accounting – Finance, Direktur HRM & Adm, Serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Asset & Legal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *