Ketinggian yang Kehilangan Kedalaman: Antara Ukuran yang Terlihat dan Kedalaman yang Tumbuh

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Senin (28/09/2026) – Dalam tradisi keilmuan Islam, ada kisah tentang seorang murid yang datang kepada Imam Malik. Sebelum ilmu diberikan, sang guru memperhatikan terlebih dahulu bagaimana murid itu membawa dirinya. Dalam tradisi yang kemudian berkembang, adab ditempatkan sebagai pintu sebelum ilmu, sebab pengetahuan yang masuk ke dalam diri manusia tidak hanya menambah apa yang diketahui, tetapi semestinya juga mengubah cara ia berdiri di hadapan kehidupan. Ilmu yang semakin banyak, tanpa perubahan pada diri, seperti air yang memenuhi bejana tetapi tidak pernah menghidupkan tanah di sekitarnya.

Karena itu, perjalanan keilmuan sejak dahulu tidak hanya mengenal ukuran tentang apa yang telah dipelajari, tetapi juga tentang apa yang telah tumbuh. Dalam kehidupan keilmuan, kedalaman seseorang sering terbaca dari cara ia berbicara, cara ia memperlakukan orang lain, dan ketenangan ketika berhadapan dengan perbedaan. Pengetahuan tidak selalu membutuhkan banyak tanda untuk dikenali. Ada kewibawaan yang lahir secara alamiah, bukan karena diminta, melainkan karena ilmu perlahan mengendap menjadi sikap. Ia tumbuh seperti pohon yang tidak pernah mengumumkan bahwa akarnya telah jauh masuk ke tanah.

Zaman berubah, dan kehidupan keilmuan pun membutuhkan tata kelola. Ada tahapan, persyaratan, angka, dokumen, bukti, dan berbagai ukuran yang membuat sebuah perjalanan dapat dinilai secara tertib. Semua itu mempunyai tempatnya sendiri. Namun sesuatu yang dapat diukur tidak selalu identik dengan sesuatu yang bernilai. Kelengkapan sebuah ukuran dapat menunjukkan bahwa syarat telah terpenuhi, tetapi belum tentu menunjukkan seberapa dalam ilmu telah berdiam di dalam diri. Ada wilayah yang tidak memiliki kolom dalam formulir, karena ia hanya dapat dibaca melalui waktu, karya, sikap, dan pengaruh yang ditinggalkan kepada manusia lain.

Di sinilah ukuran dan makna mulai berjalan pada dua jalur yang tidak selalu berimpit. Sebuah proses dapat dinyatakan lengkap, tetapi pendidikan masih menyimpan pertanyaan yang lebih dalam tentang manusia yang lahir dari proses tersebut. Apa yang sesungguhnya tumbuh ketika seseorang melewati begitu banyak tahapan keilmuan. Apakah hanya pengetahuan yang bertambah, atau juga kemampuan untuk melihat, mempertanyakan, menimbang, dan memperlakukan kehidupan dengan lebih matang. Pertanyaan semacam ini membawa kita keluar dari sekadar urusan hasil dan kembali kepada hakikat pendidikan itu sendiri.

Pertanyaan tersebut bukan hanya milik zaman kita. John Dewey, pemikir pendidikan dari Amerika, menempatkan pengalaman sebagai bagian penting dalam pertumbuhan manusia melalui pendidikan. Bagi Dewey, belajar bukan sekadar menerima pengetahuan yang telah tersedia, melainkan proses yang membuat manusia semakin mampu mengamati, bertanya, menilai, dan berhadapan dengan kenyataan secara hidup. Pengetahuan menjadi berarti ketika ia mengubah cara seseorang berpikir dan bertindak. Dari sini terasa sebuah pengingat yang lembut, bahwa bertambahnya apa yang diketahui belum tentu selalu seiring dengan bertambahnya kedalaman dalam melihat kehidupan.

Ada pencapaian yang membuat nama bertambah panjang oleh gelar, sebutan, dan panggilan, tetapi ada pula perjalanan yang tanpa semua itu justru membuat manusia bertambah dalam. Yang pertama kadang ditempuh dengan kepiawaian membaca ukuran, sementara yang kedua tumbuh dari cara menjaga diri ketika berhadapan dengan ukuran itu. Pada tingkat tertentu, ilmu tidak lagi sibuk memperlihatkan dirinya. Ia menjadi cara memandang, cara bersikap, dan cara memperlakukan kehidupan. Kedalaman semacam ini sering hadir tanpa perlu banyak tanda, tetapi terasa ketika manusia berjumpa dengannya.

Maka ukuran yang paling sunyi dari sebuah ketinggian mungkin justru tidak berada pada apa yang terlihat di permukaan. Pohon tidak menjadi tinggi hanya karena batangnya menjulang. Ia menjadi kokoh karena sesuatu yang tidak terlihat bekerja jauh di bawah tanah. Begitu pula ilmu. Ada saat ketika perjalanan panjang tidak lagi membutuhkan banyak tanda untuk menunjukkan bahwa ia telah sampai. Cukuplah manusia di sekitarnya merasakan bahwa kehadirannya membuat percakapan lebih jernih, keputusan lebih bijaksana, dan kehidupan sedikit lebih teduh. Di situlah ketinggian menemukan kedalamannya, dan ilmu menemukan makna yang tidak perlu gelar dan penyebutan yang diumumkan.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Ketinggian yang Kehilangan Kedalaman: Antara Ukuran yang Terlihat dan Kedalaman yang Tumbuh
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *