MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (13/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Ketika Diversifikasi Pangan, Kalah Pamor!” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Diversifikasi pangan itu, sederhananya: nggak cuma makan nasi terus. Secara resmi, diversifikasi pangan adalah penganekaragaman jenis makanan yang kita konsumsi sehari-hari supaya tidak bergantung pada satu bahan pokok, terutama beras.

Mengapa penting ?
1. Gizi lebih lengkap. Setiap bahan pangan punya kandungan gizi beda. Kalau cuma nasi, yang masuk mostly karbohidrat. Padahal tubuh butuh protein, lemak, vitamin, mineral dari umbi-umbian, jagung, sagu, kacang-kacangan, sayur, buah, ikan, dll.
2. Ketahanan pangan. Kalau gagal panen padi karena hama/banjir, kita nggak kelaparan karena masih ada sumber karbohidrat lain kayak singkong, ubi, talas, jagung, sagu.
3. Ekonomi lokal jalan. Petani ubi, jagung, sorgum, sagu jadi ikut sejahtera karena produknya laku. Nggak cuma petani padi.
4. Lestarikan budaya. Banyak daerah punya makanan pokok khas. Di Papua & Maluku ada sagu & papeda, di NTT ada jagung bose, di Jawa ada tiwul dari singkong. Diversifikasi = jaga budaya makan lokal.
Jadi intinya diversifikasi pangan makan beragam, bergizi, seimbang, dan aman*. Bukan anti-nasi, tapi nasinya diganti sesekali sama sumber lain biar badan sehat dan pangan kita tidak rapuh. Di Indonesia, program ini sering disingkat B2SA yakni Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman.
Selanjutnya, kalau membahas perkembangan diversifikasi pangan di Indonesia, jujur ya: progresnya jalan, tapi pelan dan belum merata. Lebih jelasnya lagi :
1. Dari sisi kebijakan: udah lama banget dimulai. Pemerintah sudah mencoba dari zaman Orde Baru lewat program Pangan Non Beras tahun 1970-an. Terus diperkuat lagi dengan UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Salah satu target utamanya menurunkan konsumsi beras dan naikin pangan lokal seperti jagung, sagu, ubi, sorgum.
Program yang paling kenceng sekarang namanya B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, Aman). Kampanyenya sudah masuk sekolah, posyandu, sampai acara PKK.
2. Dari sisi data konsumsi ada perbaikan, tapi beras masih raja.
Indikatornya pakai Skor PPH alias Pola Pangan Harapan. Target ideal 100.
Artinya: menu orang Indonesia makin beragam, konsumsi beras pelan-pelan turun. Tapi 86 kg/tahun itu masih tinggi banget dibanding Malaysia 80 kg, Jepang 50 kg, Thailand 100 kg.
Yang naik konsumsi umbi-umbian, buah, sayur, daging ayam, telur. Yang masih susah pangan lokal seperti sagu, sorgum, hanjeli belum jadi pilihan harian. Kendalanya di harga, rasa, gengsi, dan susah nyarinya di warung.
3. Tantangan di lapangan antara lain :
Mindset belum makan kalau belum nasi masih kuat banget, terutama di Jawa & Sumatera. Kemudian, industri hilir pangan lokal belum banyak. Tiwul, gaplek, papeda kalah praktis sama mie instan & nasi padang. Lalu, harga. Kadang harga jagung/sorgum di pasar malah lebih mahal dari beras premium.
Selanjutnya, urbanisasi. Orang kota makin cari yang cepat & gampang. Nasi dan lauk jadi default.
4. Kabar baiknya antara lain sorgum mulai naik daun sejak 2022. NTT & NTB jadi sentra. Bulog juga udah mulai serap.
UMKM pangan lokal banyak inovasi: tepung mocaf dari singkong, mie sagu, beras analog jagung. Kemudian, generasi muda mulai peduli gizi dan food waste. Tren real food dan gluten free bikin ubi, singkong, sukun dilirik lagi. Program pemerintah daerah*: Papua Barat wajibkan ASN makan papeda 2x seminggu, Jawa Barat ada One Day No Rice.
Jadi kesimpulannya diversifikasi pangan sudah berkembang, skor gizi makin bagus, beras udah turun. Tapi target lepas dari “ketergantungan nasi” masih jauh. Kuncinya bukan cuma kampanye, tapi bikin pangan lokal jadi murah, enak, gampang didapat, dan tidak malu-maluin buat di upload ke Instagram.
Isu diversifikasi pangan menjadi kalah pamor dibandingkan langkah peningkatan produksi beras, karena 5 alasan berikut : Pertama, beras = isu politik dan stabilitas. Di Indonesia, harga beras naik = Menteri bisa digoyang. Demo buruh, inflasi, suara pemilih, semua sensitif sama harga nasi. Jadi tiap pemerintah otomatis fokus ke “stok beras aman”. Tidaj ada Menteri yang jatuh karena harga singkong naik. Makanya anggaran, riset, subsidi, semua lari ke padi dulu.
Kedua, infrastruktur dan industri sudah kebentuk buat padi. Dari zaman Belanda kita udah bikin irigasi, bendungan, gudang Bulog, mesin penggilingan, sampai jalur distribusi — semua didesain buat beras. Kalau mau serius ke sorgum atau sagu, harus bikin ekosistem baru dari nol. Mahal dan lama. Petani juga mikir: “ngapain nanam sagu kalau pabriknya nggak ada?”
Ketiga, budaya “belum makan kalau belum nasi”. Ini paling berat. Nasi udah masuk identitas. Syukuran, kenduri, lebaran, sehari-hari, semua pakai nasi. Nasi = kenyang, sejahtera, sopan. Ganti ke tiwul atau jagung sering dianggap “makanan orang susah” atau “makanan masa penjajahan”. Gengsinya beda. Ngubah selera 270 juta orang itu PR banget. Keempat, insentif ekonomi ke petani lebih jelas di padi. Pemerintah kasih pupuk subsidi, benih, jaminan harga gabah, Bulog siap beli. Risikonya kecil. Coba tanam porang atau hanjeli: pasarnya siapa? Harganya fluktuatif, tengkulak belum banyak, teknologi pasca-panen minim. Petani itu rasional. Yang pasti cuan yang ditanam.
Kelima, diversifikasi itu abstrak, beras itu konkret. “Naikin produksi beras 2 juta ton” gampang diukur, gampang buat headline, gampang buat kampanye. “Masyarakat makin beragam pangannya” itu susah diukur, hasilnya baru kerasa 10-20 tahun lagi dalam bentuk angka stunting & penyakit degeneratif turun. Politisi suka yang cepat kelihatan.
Jadi, diversifikasi pangan kalah pamor ketimbang upaya peningkatan produksi beras, karena beras = urgensi jangka pendek + politik + budaya + sudah ada sistemnya. Sedangkan diversifikasi = investasi jangka panjang + ngubah kebiasaan + harus bangun sistem baru. Tapi, bukan berarti pemerintah tidak menjalankan diversifikasi, namun secara anggaran, sorotan media, dan energi politik, ya beras tetap anak emas.
Semoga jadi pervok permenungan bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Ketika Diversifikasi Pangan, Kalah Pamor!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












