Kartini, Dewi Sartika, dan Pergerakan Perempoean di Bandoeng Doeloe

Guest Star: Prof. Dr. Retty Isnendes, M.Hum., Guru Besar UPI Bandung

Hari Kartini

MajmusSunda News Sejak Rd. Ajeng Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional & tanggal kelahirannya (21 April 1879) ditetapkan sebagai Hari Kartini oleh Bung Karno pada 2 Mei 1964, sosoknya diopinikan sebagai bumiputra pertama yang memprakarsai perkumpulan perempuan & pelopor kemajuan pendidikan perempuan. Bahkan, para aktivis perempuan kini mempropagandakan Kartini sebagai tokoh Emansipasi Wanita, Kesetaraan Gender & Feminisme.

Padahal, catatan sejarah bangsa ini menarasikan bahwa perkumpulan sekaligus pergerakan perempuan pertama yang berkiprah secara nasional adalah Dameskring di Bandoeng (1902), ‘Aisiyah di Ngajogjakarta (1917) & Sarekat Siti Fatimah di Garoet (1918). Bahkan, yang pertamakali mengusung tema pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan adalah Rd. Ayu Lasminingrat (1854-1948) melalui publikasi tulisan²nya di media sejak 1875 & pendirian Sakola Kaoetamaan Istri di Garoet (1907).

Sakola Kaoetamaan Istri sendiri embrionya sudah ada di Nagorij Bandoeng atas inisiatif Rd. Dewi Sartika yang mendonasikan seluruh hartanya untuk mendirikan Sakola Istri pada 16 Januari 1902 di Paseban Koelon Pendopo Bandoeng.

Apa saja kiprah kaum perempuan & pergerakan mereka di negeri ini, khususnya di kota Bandung? Yuk, ikuti monthly routine dialectic with SAVE Syajaraventure bertajuk:

KARTINI, DEWI SARTIKA & Pergerakan Perempoean di Bandoeng Doeloe

Bersama: Prof. Dr. Retty Isnendes, M.Hum., guru besar UPI Bandung

Host: Ust. Salman Iskandar, founder SAVE (Syajaraventure)

Contact person pendaftaran:
– 0877-6160-5215 (Bu Nining)
– 0895-3650-48170 (Teh Novi)

hari Kartini
Advertorial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *