MajmusSunda News, Bandung 27/4/2026 – Pendidikan hari ini tampak bergerak maju. Sekolah bertambah, kurikulum diperbarui, teknologi belajar semakin canggih. Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting dan sering tidak ditanyakan: apakah kita sungguh sedang mendidik manusia — atau hanya sedang mengisi kepala ?
Problem terbesar pendidikan kita bukan sekadar soal mutu akademik. Problem yang lebih dalam adalah terputusnya hubungan antara ilmu, watak, dan arah hidup . Anak bisa belajar banyak hal, tetapi belum tentu belajar menjadi manusia. Mereka bisa berprestasi, tetapi belum tentu siap memikul tanggung jawab, memimpin dengan adab, atau memberi manfaat bagi sesama.
Nata Salira menawarkan koreksi yang mendasar: pendidikan bukan sekadar transfer isi pelajaran. Ia harus menjadi proses pembentukan manusia . Dan dalam horizon Sunda-Islam, bentuk manusia yang paling paripurna itu bisa disebut sebagai insan kamil — manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab, bertakwa, berdaya, dan berguna.
Ketika STEM (Science – Technology – Engineering – Math) Membutuhkan Jiwa
Hari ini dunia membutuhkan generasi yang kuat dalam sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Tetapi ada bahaya besar bila STEM diajarkan hanya sebagai kecakapan teknis. Kita bisa melahirkan anak yang hebat membuat teknologi, tetapi tidak cukup bijak bertanya: teknologi ini untuk siapa ? Kita bisa melahirkan inovator brilian, tetapi tidak cukup peka terhadap dampak sosial dan ekologis dari temuannya.
Di sinilah Nata Salira memberi jiwa pada STEM. Dan jalurnya sangat jelas melalui Panca Niti .
Niti Harti berkorelasi langsung dengan observasi, riset dasar, dan ketepatan merumuskan masalah — fondasi dari semua kerja ilmiah. Niti Surti menambahkan dimensi empati : persoalan tidak hanya dibaca sebagai objek teknis, tetapi sebagai kenyataan hidup manusia dan alam. Ini membuat sains menjadi sungguh human-centered . Niti Bukti sejajar dengan eksperimen, prototyping, dan pengujian — jantung dari rekayasa dan teknologi. Niti Bakti memastikan hasil pengetahuan itu memberi manfaat bagi masyarakat luas . Dan Niti Sajati menjadikan seluruh proses saintifik itu bagian dari etika hidup, bukan sekadar kompetensi kerja .
Sementara itu, Panca Curiga memperkuat sisi analitis STEM. Dalam sains, anak belajar mencari sebab, bukan hanya gejala. Dalam teknologi, anak belajar melihat akibat sosial dan ekologis, bukan hanya fungsi alat. Dalam engineering , anak belajar merancang dengan memahami sistem secara utuh. Dalam matematika, anak belajar bahwa angka bukan sekadar hitungan, tetapi dasar dari keputusan yang memengaruhi kehidupan nyata.
Kalau STEM memberi alat , maka Nata Salira memberi arah . Kalau STEM membangun kapasitas teknis , maka Panca Niti, Panca Curiga , dan Paramalenyep membangun kedewasaan manusia yang akan memakai kapasitas itu dengan bijak dan bertanggung jawab.
Systems Thinking: Melihat Manusia sebagai Bagian dari Keseluruhan
Salah satu kelemahan mendalam pendidikan modern adalah kebiasaan memecah pengetahuan menjadi bagian-bagian yang terpisah . Anak belajar sains di satu ruang, etika di ruang lain, kehidupan sosial di ruang lain. Padahal kenyataan hidup tidak bekerja seperti itu. Semua saling terhubung .
Nata Salira mengajarkan bahwa manusia harus ditata sebagai satu kesatuan. Akal, hati, tubuh, tindakan, dan pengabdian tidak bisa dipisahkan. Panca Curiga mengajarkan bahwa masalah tidak boleh dibaca secara sepotong-sepotong — harus dicari inti dan relasinya. Ini sangat dekat dengan systems thinking : cara berpikir yang melihat keterhubungan antar komponen, bukan sekadar potongan-potongan gejala yang berdiri sendiri.
Pendidikan yang berakar pada Nata Salira akan melahirkan anak yang tidak hanya pandai di satu bidang, tetapi juga mampu melihat hubungan antara ilmu, manusia, alam, dan masa depan. Mereka tidak sekadar menjadi pengguna pengetahuan, tetapi penata kehidupan.
Nyantri, Nyakola, Nyantika: Tatanan Insan Kamil Sunda-Islam
Di sinilah penting untuk menghidupkan kembali satu lajur pembentukan manusia yang sangat kuat dalam horizon Sunda-Islam: nyantri, nyakola, nyantika. Tiga jalur ini bisa dibaca sebagai bentuk ringkas dari tatanan manusia yang utuh — sebuah tawaran yang sangat relevan bagi pendidikan masa kini.
Nyantri — Kedalaman Ruhani dan Adab
Nyantri berarti manusia dibentuk dalam kedalaman ruhani, adab, dan kesadaran ilahiah. Ia tidak sekadar tahu agama, tetapi ditempa agar memiliki rasa tunduk, rasa malu moral, rasa hormat kepada ilmu, dan rasa tanggung jawab kepada Tuhan. Nyantri menjaga agar kecerdasan tidak menjadi kesombongan. Ia menanamkan inti batin: bahwa hidup bukan hanya soal berhasil, tetapi juga soal berkah, amanah, dan akhlak.
Dalam konteks Panca Niti, nyantri menguatkan Niti Surti dan Niti Sajati — karena ia membentuk batin, adab, dan orientasi ruhani yang membuat pengetahuan tidak mengambang tanpa akar moral.
Nyakola — Keluasan Ilmu dan Kecakapan Membaca Zaman
Nyakola berarti manusia dibentuk dalam keluasan ilmu, literasi, rasionalitas, dan kemampuan membaca zaman. Ia belajar bukan agar sekadar lulus, tetapi agar mengerti dunia. Nyakola menuntut keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, sains, teknologi, sejarah, dan realitas sosial yang terus berubah. Di sini Pinter dan Singer bertumbuh kuat.
Tetapi nyakola yang sehat tidak pernah berdiri sendiri. Ia dituntun oleh nyantri agar ilmu tidak liar dan kehilangan arah moral. Dalam Panca Niti, nyakola menguatkan Niti Harti dan Niti Bukti — membangun literasi, nalar, dan kemampuan membuktikan ilmu dalam tindakan nyata.
Nyantika — Kematangan Laku dan Kehalusan Peradaban
Nyantika berarti manusia dibentuk dalam kepantasan, kehalusan, dan kematangan laku. Ini bukan sekadar estetika luar, tetapi keselarasan antara ilmu, adab, rasa, dan tindakan. Orang yang nyantika tahu bagaimana bersikap, tahu cara membawa diri, tahu kapan bicara dan kapan diam, tahu bagaimana membuat kebenaran terasa sejuk — bukan kasar dan menyakitkan.
Dalam Panca Niti , nyantika menguatkan Niti Bakti dan Niti Sajati — membuat ilmu yang diwujudkan dalam tindakan hadir dengan kepantasan, manfaat, dan keindahan laku yang benar-benar mencerminkan kedewasaan karakter.
Tiga jalur ini bila bertemu melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas dan saleh, tetapi juga pantas memikul amanah: berilmu tetapi rendah hati, bertakwa tetapi terbuka, cekatan tetapi santun, kuat tetapi tidak kasar. Itulah insan kamil versi Sunda-Islam.
Parigeuing: Buah Kepemimpinan dari Manusia yang Sudah Selesai dengan Dirinya
Bila manusia sudah menempuh Nata Salira dengan sungguh-sungguh — sudah nyantri, nyakola, nyantika — maka salah satu buah terindahnya adalah Parigeuing.
Parigeuing adalah mahkota kearifan Sunda dalam ilmu kepemimpinan dan komunikasi. Ia terekam kuat dalam naskah-naskah Sunda Kuno abad ke-16 seperti Sanghyang Siksakanda ‘ng Karesian dan Amanat Galunggung . Secara harfiah, Parigeuing didefinisikan sebagai ” bisa nitah bisa miwarang ja sabda arum wawangi ” — kemampuan seorang pemimpin untuk memerintah dan menggerakkan orang lain melalui tutur kata yang manis, ramah, dan berwibawa. Melalui Parigeuing , instruksi tidak disampaikan lewat paksaan atau tangan besi, melainkan melalui pendekatan humanis sehingga orang yang diperintah merasa sejuk hatinya dan dengan sukarela menjalankan tugas tanpa rasa enggan.
Agar Parigeuing dapat beroperasi, seorang pemimpin harus menguasai Dasa Pasanta — sepuluh peneguh hati yang menjadi cetak biru etika kepemimpinan:
Guna : Bijaksana dan bermanfaat dalam setiap keputusan
Ramah : Bestari dan mengayomi — kepemimpinan yang melindungi
Hook : Mampu membuat kagum melalui kualitas karakter dan pikiran
Pesok : Memikat hati — pemimpin yang menarik karena ketulusannya
Asih : Penuh cinta kasih kepada yang dipimpin
Karunya : Memiliki empati dan belas kasih yang nyata
Mupreruk : Mampu membujuk dan menenteramkan dengan sabar
Ngulas : Mampu memuji sekaligus mengoreksi secara elegan
Nyecep : Memberikan kata-kata yang menyejukkan dan melegakan
Ngala Angen : Mampu merebut dan mengambil hati — bukan dengan tipu, tetapi dengan ketulusan
Mengapa Parigeuing sangat penting? Karena ia menunjukkan bahwa pendidikan yang benar tidak hanya melahirkan orang pintar — tetapi manusia yang pantas memimpin . Orang yang belum tuntas menata dirinya tidak akan bisa ber- Parigeuing . Jika batinnya masih penuh ego, emosi liar, atau keserakahan — kata-katanya mungkin terdengar kuat, tetapi tidak akan pernah menyejukkan.
Parigeuing juga membuat hubungan antara nyantri, nyakola, dan nyantika menjadi sangat nyata. Dari nyantri , Parigeuing mendapat ruh kasih sayang dan adab. Dari nyakola , Parigeuing mendapat kejernihan logika dan ketepatan membaca persoalan. Dari nyantika , Parigeuing mendapat kehalusan diksi, kepantasan sikap, dan keindahan dalam memimpin.
Dengan demikian, Parigeuing bisa dibaca sebagai puncak komunikasi kepemimpinan dari manusia utuh. Ia adalah antitesis dari kepemimpinan otoritarian dan birokrasi kaku yang membuat masyarakat antipati terhadap kebijakannya. Ia adalah pancaran dari karakter yang sudah matang — bukan teknik retorika belaka.
Seseorang tidak akan pernah memiliki kemampuan Parigeuing jika ia belum tuntas melakukan Nata Salira . Sebab Dasa Pasanta bukan sepuluh teknik komunikasi — ia adalah sepuluh kualitas karakter psikologis yang hanya bisa lahir dari manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Pendidikan yang Sungguh-Sungguh Mencerahkan
Kalau semua ini dirangkai, maka pendidikan yang kita perlukan hari ini adalah pendidikan yang secara serentak: membentuk manusia melalui Nata Salira , menuntun pertumbuhannya lewat Panca Niti , menajamkan nalarnya dengan Panca Curiga , mendalamkan batinnya lewat Paramalenyep , memperkuat kecakapannya dengan STEM yang berjiwa etis, mengarahkannya menuju tatanan nyantri–nyakola–nyantika , dan akhirnya mengantarkannya menjadi pemimpin yang mampu ber- Parigeuing dalam kehidupan nyata.
Dengan cara itu, sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat pengisian informasi — tetapi ruang pembentukan manusia. Pendidikan tidak lagi berhenti pada ijazah, tetapi bergerak menuju kedewasaan. Dan ilmu tidak lagi berdiri jauh dari kehidupan, tetapi benar-benar membumi dalam watak, laku, dan kepemimpinan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan bukan bagaimana membuat anak kompetitif — melainkan bagaimana membuat mereka siap menjadi manusia. Dan untuk itu, dalam horizon Sunda-Islam, jalannya sangat jelas: Nata Salira sebagai fondasi, Panca Niti sebagai jalan, Panca Curiga sebagai penajam nalar, Paramalenyep sebagai pendalaman batin, STEM sebagai penguat kapasitas, nyantri–nyakola–nyantika sebagai lajur insan kamil, dan Parigeuing sebagai buah kepemimpinan beradabnya.
Kita tidak hanya ingin melahirkan anak yang tahu banyak. Kita ingin melahirkan manusia yang siap hidup, siap memimpin, siap mencipta, dan siap menjaga kehidupan. Dan mungkin, di tengah kegaduhan zaman ini — itulah bentuk kemajuan paling sejati yang benar-benar kita butuhkan.
Widiana Safaat adalah Wakil Ketua Panata Gawe Majelis Musyawarah Sunda, Pemerhati Human Centered Design & Systemic Design . Tulisan ini adalah bagian kedua dari serial dua tulisan tentang Nata Salira, pendidikan, dan insan kamil dalam horizon Sunda-Islam .
*****
Judul: Nata Salira dan Pendidikan Masa Depan Dari STEM ke Insan Kamil: Nyantri, Nyakola, Nyantika, dan Parigeuing
Penulis: Widiana Safaat (Wakil Ketua Panata Gawe, Majelis Musyawarah Sunda)












