Jangan Sepelekan El Nino

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (26/09/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Jangan Sepelekan El Nino” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

El Niño adalah fenomena iklim saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur meningkat di atas kondisi normal. Proses terjadinya El Nino ditandai suhu air laut di Pasifik Tengah dan Timur menjadi lebih hangat dari biasanya. Angin pasat (angin yang bertiup dari timur ke barat) melemah atau berbalik arah. Pertumbuhan awan bergeser ke arah Samudra Pasifik, sehingga mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. Dampak El Nino di Indonesia diantaranya memicu musim kemarau yang lebih panjang dan berkurangnya curah hujan secara drastis. Kemudian membuat awal musim hujan datang lebih lambat dari biasanya. Bahkan meningkatkan potensi kebakaran hutan dan krisis air bersih.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Ungkapan “jangan sepelekan El Nino” merupakan sebuah peringatan serius bahwa fenomena alam ini bukan sekadar cuaca panas biasa, melainkan ancaman nyata yang memicu efek domino berbahaya bagi kehidupan ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat.

Secara mendalam, makna di balik ungkapan tersebut menyoroti beberapa dampak kritis berikut:
1. Ancaman terhadap Isi Dompet dan Dapur (Krisis Pangan). El Nino menyebabkan kemarau ekstrem yang memicu gagal panen massal, terutama pada komoditas pokok seperti padi. Ketika pasokan beras menipis, harga pangan di pasar akan melonjak tajam (inflasi). Bagi masyarakat luas, ini berarti biaya hidup meningkat secara drastis.

2. Krisis Air Bersih yang Meluas. Penurunan curah hujan yang drastis menyebabkan sungai, waduk, dan sumber air menyusut. Peringatan ini mengingatkan kita bahwa keterbatasan air bersih bukan hanya mengganggu rumah tangga, tetapi juga sektor industri, sanitasi, hingga menaikkan risiko penularan penyakit.

3. Ancaman Kebakaran Hutan dan Kabut Asap. Kondisi lahan yang sangat kering membuat vegetasi menjadi sangat mudah terbakar. Hutan yang terbakar menghasilkan kabut asap pekat yang menghentikan aktivitas transportasi (seperti penerbangan) dan menyebabkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

4. Gangguan Jalur Logistik Nasional. Kekeringan membuat debit air di sungai-sungai besar (seperti di Kalimantan dan Sumatra) menyusut. Akibatnya, kapal-kapal besar tidak bisa melintas, sehingga distribusi barang dan bahan baku antardaerah menjadi terhambat.

5. Durasi yang Lebih Panjang dari Perkiraan. Berdasarkan pemantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), fenomena El Nino yang kuat dapat bertahan lama hingga berbulan-bulan bahkan menyeberang ke tahun berikutnya. Ungkapan ini meminta kita bersiap untuk skenario terburuk jangka panjang, bukan sekadar menghadapi gerah beberapa minggu saja.

Catatan kritisnya, ungkapan ini adalah seruan bagi pemerintah untuk menyiapkan mitigasi cadangan pangan dan bagi masyarakat untuk lebih bijak serta hemat dalam menggunakan air sehari-hari. Saat ini, Indonesia sedang menghadapi Super El Nino atau fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa anomali suhu Samudra Pasifik (indeks ENSO) telah mencapai angka ekstrim. Kondisi ini diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia, yang membuat pasokan awan hujan di negara kita berkurang drastis.

Kondisi riil di Indonesia saat ini mencakup beberapa hal penting:
Yang utama, Kemarau Ekstrem dan Hari Tanpa Hujan (HTH). Lebih dari 80% wilayah Indonesia telah masuk musim kemarau. Wilayah bagian selatan khatulistiwa seperti Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan mengalami HTH ekstrem. Wilayah-wilayah tersebut mencatat rekor tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.

Selanjutnya, Awal Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Mundur. BMKG merilis bahwa awal musim hujan di 61,08% Zona Musim (ZOM) akan terlambat/mundur dari normalnya. Sebagian besar wilayah baru akan bertahap memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.Durasi musim hujan kali ini diprediksi akan lebih pendek dari biasanya.Fenomena El Nino kuat ini diperkirakan akan terus bertahan hingga awal 2027.

Kemudian, Ancaman Karhutla dan Krisis Pertanian. Kekeringan parah meningkatkan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), terutama pada wilayah lahan gambut dan semak belukar. Sektor pertanian juga mengalami tekanan berat akibat menipisnya cadangan air waduk untuk irigasi, yang mengancam target produksi pangan nasional.

Lalu, Anomali Hujan Lokal. Meskipun kering mendominasi, dinamika atmosfer lokal memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat secara tiba-tiba di beberapa wilayah (seperti sebagian Sumatra Utara dan Aceh). BMKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi angin kencang dan cuaca ekstrem yang tidak menentu.

Pemerintah saat ini terus menggenjot mitigasi, mulai dari modifikasi cuaca untuk mengisi waduk, persiapan fasilitas kesehatan menghadapi lonjakan ISPA/DBD, hingga imbauan masif agar masyarakat menghemat penggunaan air bersih.

Menghadapi ancaman Super El Nino yang melanda Indonesia, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional. Melalui sinergi lintas kementerian yang dipantau Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), pemerintah meluncurkan beberapa terobosan cerdas dan taktis berikut untuk memitigasi krisis air, pangan, dan energi:

Pertama, Masifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Pengisi Waduk. Pemerintah mengubah fokus modifikasi cuaca. Jika dulu hujan buatan hanya dipakai untuk memadamkan kebakaran, kini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan OMC masif khusus untuk mengisi 240 waduk strategis nasional. Hujan buatan diarahkan langsung ke daerah tangkapan air agar pasokan listrik (PLTA), irigasi sawah, dan air bersih tetap terjaga selama kemarau panjang.

Kedua, Gerakan Pompanisasi Nasional. Untuk menyelamatkan sektor pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan anggaran besar untuk menyebar lebih dari 100.000 pompa air ke seluruh pelosok Indonesia. Strategi cerdas ini memanfaatkan air dari sungai-sungai besar atau sumber air terdekat yang tidak pernah kering untuk dialirkan langsung ke sawah-sawah tadah hujan yang mengalami kekeringan.

Ketiga, “Oplah” Lahan Rawa dan Cetak Sawah Baru. Sadar bahwa pulau Jawa kering parah, pemerintah mengalihkan fokus produksi pangan ke luar Jawa melalui terobosan Optimalisasi Lahan (Oplah) rawa seluas 800.000 hektare dan mempercepat cetak sawah baru seluas 200.000 hektare. Lahan rawa yang biasanya tergenang air disulap menjadi lahan pertanian produktif menggunakan teknologi modern. Kementan juga menggeber Gerakan Tanam Serempak dan menyalurkan varietas benih unggul baru yang memiliki toleransi tinggi terhadap kekeringan serta salinitas (kadar garam).

Keempat, Pembentukan Satgas Khusus El Nino Multi-Sektor. Penanganan dampak El Nino kini tidak bergerak sendiri-sendiri secara sektoral. Sebagai gambaran antara lain :
– Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membentuk Satgas El Nino untuk memantau infrastruktur bendungan dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) secara real-time.
– Kementerian Dalam Negeri menginstruksikan pembentukan Satgas Darat di tiap kabupaten/kota untuk menjamin suplai air bersih warga tanpa hambatan birokrasi serta siaga membasahi lahan gambut yang rawan kebakaran.
– Kementerian Kesehatan memperkuat sistem deteksi dini di puskesmas-puskesmas untuk menghadapi lonjakan penyakit akibat debu dan perubahan suhu ekstrem.

Semoga jadi perhatian kita bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Jangan Sepelekan El Nino
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *