MajmusSunda News, Kabupaten Ciamis, Kamis, (8/10/2026)-Ada sembilan pelabuhan berjajar di laut utara saat Kerajaan Pajajaran (Galuh-Pakuan). Dari Barat hingga ke Timur, sebut saja seperti Pontang, Cikande, Tangerang, Kalapa, Karawang, Cimanuk Cirebon, dan Japura.
Dampaknya, banyak yang datang untuk berdagang dari seluruh Nusantara dan negara (kerajaan) lainnya.
Hubungan dagang dengan negara luar berdampak kepada peningkatan ekonomi, banyak rakyat dari Pakuan Pajajaran membawa dagangannya dari rupa-rupa kapal yang akan kembali ke kota pelabuhan mancanagara.
Selain pelabuhan yang ada di pesisir laut utara ada beberapa kota di Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang lokasinya ada dipinggir sungai yang bisa masuk kapal. Seperti Cibanten, Ciujung, Cisadane, Cipunagara, Cimanuk, Cilosari dan yang lainnya.
Pada saat itu pesisir utara Kerajaan Sunda (Pajajaran) termasuk jalan perdagangan internasional yang menyambungkan kota-kota pelabuhan di Nusantara dan negara atau kerajaan lainnya, seperti Cina, Malaka, India, dan Arab.
Tidak ketinggalan pula jalan-jalan yang menyambungkan antar kota di dalam Kerajaan Sunda, dengan cara membuka jalan baru dan memperbaiki jalan darat yang sudah ada, terus dibangun sampai ke pusat ibukota Pakuan Pajajaran bisa jadi pemberangkatan ke seluruh mancanagara.
Ada rute atau jalur hidup yang biasa ditempuh pada waktu itu dari Pakuan yang lokasinya ada di tengah-tengah, ke arah Timur, masuk ke Kawali melewati dua jalur, yaitu jalur utara (Cileungsi, Cibarusah, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Sagalaherang, Sumedang, Tomo, Rajagaluh, Cirebon, Kuningan dan Talaga), Jalur selatan mulai mulai dari Bojong Galuh, Geger Gadung, Saung Galah, Mandala Puntang, Eronan, Puncak, Sukabeurus, Tajur Mandiri.
Dari Mandala Puntang bisa ke utara ke Cikao bersambung ke jalan jalur utara. Dari Pakuan ke sebelah Barat bersambung sampai ke Banten melewati dua jalur juga lewat jalue utara (Ciampea, Rumpin, Tagerang, Cikande, Pontang) dan jalur Selatan (Ciampea, Jasinga, Rangkasbitung, Whanten Girang)
Dampak dari dua jalur yang ada pada saat itu, pertama bisa mendatangkan kemakmuran kerajaan dan kesejahteraan rakyatnya atau sebaliknya bisa juga membawa petaka kepada negara dan rakyatnya. Pada saat itu yang berdagang ke Nusantara pada umumnya memeluk agama Islam.
Bahkan di beberapa tempat bentuk negara sudah berubah ganti jenis jadi kesultanan. Seperti, Aceh, Pasey, Malaka, Malaka, Demak, Banjar, Ternate dan Tidore.
Akibatnya yang datang ke kerajaan Sunda juga banyak yang muslim, terutama yang datang dari Demak (Jawa Tengah), yang terus bermukim di Japura, Cirebon dan Cimanuk (Indramayu sekarang).
Dan yang sudah lama tinggal para pedagang yang datang dari Nusantara banyak yang sudah lama tinggal di Kerajaan Sunda, mereka menyusun kekuatan dan kekuasaan. Hal itu sempat disaksikan oleh Tomes Pires dari Portugis bahwa tahun 1513 dari Cirebon ke Timur sudah menjadi pusat kekuasaan yang mandiri yang berdasarkan kepada agama Islam.
Di Cimanuk sendiri sudah banyak yang memeluk Islam dan sudah menjadi warga setempat.. Namun kekuasaan tetap masih dipegang oleh penganut agama yang lama (Hindu). Saat itu yang menjadi rajanya tentu Sri Baduga Maharaja sudah merasa gerah dan khawatir dengan terus bertambahnya orang yang memeluk Islam.
Untuk mengurangi dampak dari kekuatan pengaruh baru, Sri Baduga mengeluarkan aturan yang membatasi para sodagar muslim masuk ke wilayah Kerajaan Sunda untuk mengurangi jumlah sodagar muslim yang berdagang ke Pakuan (Pajajaran).
Menurut catatan J. Baros dari Portugis yang datang ke pusat Kerajaan Sunda tahun 1512, yang mendiami kota Pakuan sekitar 50,000 orang dari seluruh kerajaan jika dijumlahkan untuk menjaga keamanan kerajaan mencapai 100.000 prajurit. Rumah-rumah yang dibangun penduduk Pakuan sudah termasuk bagus, terbuat dari kayu dan kiray.
Keratonnya juga luas. Itu bisa dilihat dari jumlah tiangnya sampai 330 tiang, ukuran tiangnya sebesar peti anggur.
Dan diatasnya dihiasi dengan ukiran yang bagus dan indah. Bangunannya sangat kokoh dan tinggi. Menurut sumber tradisi di komplek keraton ada 5 bangunan yang dinamakan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.
Menurut naskah Carita Parahiyangan, Sang Ratu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja menjadi raja Sunda (Pajajaran) selama 39 tahun (1482 M-1521 M). Sri Baduga Maharaja Sunda dimakamkan di Rancamaya, di sisi Timur Selatan kota Bogor
“Menyesal sekarang Rancamaya sudah menjadi komplek perumahan elite sehingga jejak saat Pajajaran sempat jaya itu hilang tanpa meninggalkan bekas,” ungkap Prof Edi dalam akhir tulisannya di buku yang sama.












