Ironi Keadilan

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Rabu (06/05/2026)  Artikel berjudul “Ironi Keadilan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, di dunia yang katanya punya hukum sebab-akibat, rupanya sebab sering berjalan sendirian tanpa pernah benar-benar bertemu akibatnya. Mereka yang memilih hidup lurus justru lebih sering tersandung, seolah jalan itu memang tidak ramah bagi mereka yang terlalu keras menjaga prinsip.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Kita diajarkan bahwa ketekunan adalah tangga menuju kehormatan. Tapi setelah lama mendaki, banyak yang mulai sadar: tidak semua tangga mengarah ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang terus melangkah tapi hanya berputar di lantai yang sama, sementara yang lain sudah berdiri dekat puncak bahkan sebelum melangkah.

Mereka yang hidup lurus sering dijadikan contoh bukan untuk ditiru, tapi untuk menenangkan. “Lihat, dia sabar, dia ikhlas.” Seolah laku hidup mereka sekadar brosur moral untuk pajangan, bukan untuk diperjuangkan. Sementara itu, mereka yang pandai berbelok tidak perlu jadi contoh. Mereka langsung berada di tempat yang selama ini dituju oleh orang-orang yang menunggu dengan sabar.

Ketekunan, katanya, akan membuahkan hasil. Tapi jarang dijelaskan hasil seperti apa, dan untuk siapa. Ada orang yang bekerja setiap hari dengan sungguh-sungguh, tapi tetap di tempat yang sama. Sementara yang lain lebih cepat berhasil, bukan karena lebih tekun, tapi karena lebih pandai terlihat tekun.

Di dunia ini, orang lebih percaya pada apa yang terlihat daripada apa yang sebenarnya terjadi. Kejujuran kalah cepat dari pencitraan, dan kerja keras sering kalah suara dari cerita yang disusun rapi. Maka orang-orang mulai menyesuaikan diri. Bukan dengan menjadi lebih baik, tapi dengan mengelola kesan bisa dipercaya.

Sedikit membengkok, sedikit menunda kejujuran, sedikit mengorbankan prinsip demi sesuatu yang disebut “realistis”. Karena di dunia ini, idealisme sering dipuji di awal, lalu diam-diam ditinggalkan ketika tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat.

Mungkin sejak awal, dunia tidak pernah berjanji akan adil; kita saja yang terlalu cepat percaya dan terlalu lama berharap. Dalam ketidakjelasan itu, satu-satunya pegangan yang masuk akal adalah tetap berjalan dengan sadar: tidak harus yakin akan sampai, tetapi tidak kehilangan diri sendiri di sepanjang jalan.

***

Judul: Ironi Keadilan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *