MajmusSunda News, Jakarta-Selasa, (30/92026)-Ingat 30 September pikiran kolektif bangsa Indonesia akan melayang ketika telah terjadi sejarah kelam dan seram tentang sebuah peristiwa pemberontakan dan pembunuhan para Jenderal Angkatan Darat (AD), dikenal dengan Gerakan 30 September atau G30SPKI
Gerakan 30 September sebuah gerakan makar yang terstruktur melibatkan sejumlah perwira militer dan tokoh/unsur PKI. Hingga kini peristiwa kelam dan hitam sejauh mana pimpinan PKI mengendalikan gerakan masih menjadi perdebatan historiografis.
PKI sendiri adalah salah satu partai tertua dan masuk partai terbesar di Indonesia setelah Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Islam Masyumi dan Nahdlatul Ulama. Anggota PKI terdiri dari kalangan intelektual, buruh, hingga petani.
Gerakan 30 September adalah peristiwa yang tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia yang sulit untuk dilupakan.
PKI Awal Mulanya Partai Kecil
Dikutip dari buku Sejarah untuk Kelas XII oleh Nana Supriatna, PKI awalnya merupakan partai kecil berhaluan kiri bernama Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).
Gerakan ISDV dalam perkembangannya di Indonesia kemudian menyusup ke partai-partai lokal baik besar maupun kecil, seperti Sarekat Islam (SI) pimpinan HS Cokroaminoto.
Pendiri ISDV seorang tokoh Sosialis asla negeri kincir angin Belanda, Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau dikenal dengan Henk Sneevliet.
Lalu pada tahun 1920-an, ISDV kemudian mengilhami lahirnya PKI dengan Semaoen sebagai ketua dan Darsono menjadi wakilnya.
Latar Belakang Lahirnya G30SPKI
Latar belakang G30SPKI adalah gerakan yang dipimpin sejumlah perwira militer dan melibatkan unsur PKI. Gerakan tersebut menculik sejumlah pimpinan Angkatan Darat dan mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi.
Sejumlah penelitian kemudian menemukan keterlibatan pimpinan PKI, termasuk D N Aidit, tetapi perdebatan mengenai struktur komando, tujuan akhir, dan tingkat keterlibatan masing-masing aktor masih berlangsung.
Sebagaimana diketahui, PKI disebut punya lebih dari 3 juta anggota. Hal ini membuat mereka menjadi partai komunis terbesar di luar negara-negara komunis seperti Soviet dan China.












