Hujan: Istisqo dan Ikhtiar Sains Manusia

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Sabtu (19/09/2026) – Pemerintah Kabupaten Bogor bersama masyarakat menyelenggarakan sholat istisqo di Alun-Alun Tegar Beriman, Cibinong. Ribuan manusia menengadahkan tangan, memohon ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah agar hujan diturunkan ke bumi yang sedang mengalami kekeringan. Ada sesuatu yang selalu menyentuh dari istisqo. Manusia yang setiap hari menggunakan akalnya untuk memahami alam, pada suatu saat bersama-sama menundukkan kepala, mengakui bahwa ada kekuatan yang melampaui kemampuan dirinya.

Beberapa jam kemudian, langit Bogor berubah. Sekitar pukul 14.30, hujan turun di Cibinong dan sejumlah wilayah Kabupaten Bogor. Pagi harinya manusia memohon hujan, sore harinya bumi menerima air dari langit. Bagi mereka yang mengikuti sholat istisqo, peristiwa itu tentu bukan sekadar perubahan cuaca. Ada rasa syukur yang sulit dipisahkan dari doa yang baru saja dipanjatkan. Hujan terasa seperti jawaban yang datang begitu dekat, seakan langit sedang memperlihatkan bahwa doa tidak selalu harus dijelaskan dengan kata-kata.

Manusia juga mempunyai sains. Dengan meteorologi, manusia mempelajari penguapan, kelembapan, pembentukan awan, pergerakan massa udara, hingga proses presipitasi. Dengan teknologi, manusia bahkan dapat melakukan modifikasi cuaca melalui penyemaian awan pada kondisi atmosfer tertentu. Pesawat diterbangkan, bahan semai dibawa ke dalam awan, radar membaca atmosfer, sementara data dianalisis untuk menentukan ruang dan waktu intervensi. Semua itu adalah ikhtiar yang lahir dari kemampuan manusia membaca hukum alam.

Tetapi sains tidak menciptakan hujan dari ketiadaan. Teknologi modifikasi cuaca bekerja ketika kondisi atmosfer memungkinkan dan ketika awan dengan karakteristik tertentu tersedia. Manusia dapat mengintervensi proses, tetapi tetap bekerja di dalam hukum alam yang tidak dibuatnya. Semakin jauh science berkembang, semakin banyak mekanisme alam yang dapat diterangkan. Namun kemampuan menjelaskan mekanisme tidak serta-merta menjadikan manusia sebagai penguasa atas seluruh kenyataan. Ada batas antara mengetahui bagaimana sesuatu berlangsung dan mengetahui dari mana seluruh keteraturan itu berasal.

Karena itu, istisqo dan ikhtiar sains manusia tidak perlu dipertentangkan. Doa bukanlah teknologi atmosfer, sementara teknologi bukanlah pengganti doa. Sains membaca bagaimana hujan terjadi, teknologi berusaha memanfaatkan pengetahuan itu, sedangkan istisqo mengingatkan manusia kepada siapa ia memohon ketika seluruh ikhtiar telah dilakukan. Seorang manusia dapat mempercayai radar cuaca sekaligus mempercayai kekuatan doa. Keduanya berada dalam ruang ikhtiar yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam satu kesadaran tentang keterbatasan manusia.

Hujan Bogor pada sore itu kemudian memperoleh makna yang lebih dalam. Secara ilmiah, proses terbentuk dan turunnya hujan tetap dapat dijelaskan melalui dinamika atmosfer. Tetapi bagi ribuan manusia yang pagi harinya berdoa bersama, hujan beberapa jam kemudian menghadirkan pengalaman transenden yang tidak dapat direduksi menjadi angka curah hujan. Mereka memohon, kemudian hujan turun di wilayah tempat doa itu dipanjatkan. Bagi hati yang beriman, kedekatan waktu dan tempat itu cukup untuk menghadirkan rasa bahwa doa mempunyai kekuatan, meskipun sains tetap memiliki ruang untuk menjelaskan proses alamiahnya.

Di situlah manusia perlu berdiri dengan dua kaki. Boleh Satu kaki berpijak pada bumi, menggunakan akal, pengetahuan, teknologi, data, dan seluruh kemampuan rekayasa yang dimiliki. Pada Kaki yang lain berpijak pada kesadaran bahwa manusia bukan pemilik langit dan bukan pencipta hukum-hukum alam. Ikhtiar sains membuat kita berusaha, istisqo membuat kita berserah. Dan ketika hujan benar-benar turun setelah tangan-tangan terangkat dalam doa, manusia boleh membaca awan dengan ilmu, tetapi hatinya tetap menemukan satu jawaban yang paling sederhana;

Alhamdulillah.
Wa la hawla wa la quwata illa billah.
Allah-lah yang Maha Menentukan dengan kekuatan yang dimilikiNya.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Hujan: Istisqo dan Ikhtiar Sains Manusia
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *