Hadapi 7 Tahun Paceklik di Mesir, Begini Cara Nabi Yusup AS Siapkan Persediaan Pangan

Kemarau panjang atau masa paceklik selama 7 tahun di Mesir diabadikan dalam Al Qur’an tatkala Nabi Yusuf AS menyiapkan pangan untuk menghadapi masa paceklik dalam kurun waktu yang lama.

Ilustrasi Piramida di Mesir jejak peninggalan peradaban masa lampau di masa kenabian Nabi Yusup AS (Pexels)

 

MajmusSunda News– Jumat, (16/10/2026)-Kemarau panjang atau masa paceklik selama 7 tahun di Mesir diabadikan dalam Al Qur’an tatkala Nabi Yusuf AS menyiapkan pangan untuk menghadapi masa paceklik dalam kurun waktu yang lama.

Kisah ini diceritakan dalam Surah Yusuf, terutama ayat 43-49. Nabi Yusuf AS tidak hanya mampu menjelaskan makna mimpi sang raja, tetapi juga menawarkan solusi untuk mengantisipasi krisis pangan.

Nabi Yusuf AS menyarankan agar masyarakat tetap bercocok tanam selama tujuh tahun masa subur dan menyimpan sebagian besar hasil panen untuk menghadapi masa paceklik.

Mimpi Raja tentang Tujuh Sapi Gemuk dan Tujuh Sapi Kurus

Dikutip dari buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an karya Adil Musthafa Abdul Halim, kisahnya bermula ketika raja Mesir mengalami mimpi yang membuatnya penasaran.

Ia melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina kurus. Dalam mimpi yang sama, raja juga melihat tujuh tangkai gandum hijau dan tujuh tangkai gandum kering.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Yusuf ayat 43. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ

Artinya: “Raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), ‘Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus serta tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering. Wahai para pemuka kaum, jelaskanlah kepadaku tentang mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkannya!'” (QS Yusuf: 43).

Raja kemudian meminta para pembesar dan orang-orang yang dianggap memiliki pengetahuan untuk menjelaskan makna mimpinya. Namun, mereka tidak mampu memberikan penafsiran yang meyakinkan.

Dalam buku Tafsir Mimpi, Ust. Mahmud asy-Syafrowi menuliskan, seorang peramal berkata, “Ini adalah hal yang cukup aneh, bagaimana sapi-sapi kurus dapat memakan sapi-sapi yang gemuk? Saya kira ini adalah kembang mimpi yang tidak ada artinya.”

Al-Qur’an merekam jawaban mereka dalam ayat 44. Mereka menganggap mimpi tersebut sebagai mimpi yang bercampur aduk dan mengakui tidak mengetahui takwilnya.

Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf ayat 44,

قَالُوٓا۟ أَضْغَٰثُ أَحْلَٰمٍ ۖ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ ٱلْأَحْلَٰمِ بِعَٰلِمِينَ

Artinya: Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu”.

Saat itulah pelayan istana yang pernah bertemu Nabi Yusuf AS di penjara teringat akan kemampuannya menafsirkan mimpi. Ia kemudian menyampaikan kepada raja bahwa Nabi Yusuf dapat memberikan penjelasan mengenai mimpi tersebut.

Tafsirkan Mimpi Raja Dijelaskan Nabi Yusup

Setelah mendapat kesempatan untuk menjelaskan mimpi raja, Nabi Yusuf AS menyampaikan bahwa mimpi itu merupakan gambaran tentang keadaan Mesir pada masa mendatang.

Tujuh sapi gemuk dan tujuh tangkai gandum hijau menggambarkan tujuh tahun masa subur. Pada periode tersebut, masyarakat akan memperoleh hasil pertanian yang melimpah. Sementara itu, tujuh sapi kurus dan tujuh tangkai gandum kering menjadi pertanda datangnya tujuh tahun masa sulit yang dapat menghabiskan persediaan pangan.

Nabi Yusuf tidak berhenti pada penjelasan mengenai apa yang akan terjadi. Ia juga menyampaikan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar masyarakat mampu melewati masa krisis tersebut.

Dalam Surah Yusuf ayat 47, Allah SWT berfirman:

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

Artinya: “Dia (Yusuf) berkata, ‘Hendaklah kamu bercocok tanam tujuh tahun berturut-turut sebagaimana biasa. Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan.'” (QS Yusuf: 47).

Ayat tersebut menjelaskan strategi Nabi Yusuf untuk memanfaatkan masa subur sebaik-baiknya. Masyarakat diminta tetap menanam selama tujuh tahun berturut-turut, kemudian menyimpan hasil panen dan hanya mengambil sebagian kecil untuk kebutuhan konsumsi.

Dengan demikian, hasil pertanian pada masa berlimpah tidak langsung dihabiskan, melainkan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan ketika produksi pangan menurun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *