MajmusSunda, Jakarta, Senin, (15/9/206)- Guru Besar Ilmu Ekonomi Bisnis sekaligus Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni Unika Atma Jaya, Prof. Rosdiana Sijabat mengingatkan sejumlah tantangan yang dihadapi pemerintah dalam pengelolaan fiskal, salah satunya terkait dengan risiko defisit APBN yang mendekati batas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Di samping itu, Rosdianan turut menggarisbawahi penerimaan negara yang masih belum mampu menutupi seluruh kebutuhan belanja nasional.
Hal ini dipicu oleh kapasitas pemungutan pajak (tax capacity) yang relatif terbatas serta potensi tidak tercapainya target penerimaan pajak 2026 secara optimal, di tengah pengeluaran pemerintah yang tetap tinggi sehingga menjadi tantangan nyata Kementerian Keuangan.
“Beban utang dan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar juga menjadi tantangan, karena dapat menimbulkan fiscal crowding out dan mempersempit ruang pembiayaan bagi sektor swasta,” jelas Prof. Rosdiana.
Di sisi lain, kata Rosdiana menghadapi ketidakpastian internasional dan geopolitik, termasuk perubahan harga minyak yang dapat meningkatkan beban subsidi energi, sehingga kalau kondisi seperti ini terjadi, tekanan terhadap fiskal kita tentu akan semakin besar.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Prof. Rosdiana berharap pengalaman Suahasil Nazara dapat memperkuat pengelolaan kebijakan fiskal dan koordinasinya dengan kebijakan moneter.
“Harapannya, Pak Suahasil bisa kembali membawa prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam kebijakan fiskal, tetapi tetap memberikan ruang gerak bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara bertahap,” kata Prof. Rosdiana.
“Pergantian ini memang tidak serta-merta menyelesaikan berbagai persoalan yang ada, tetapi dengan pengalaman beliau memahami karakteristik APBN, perubahan ini diharapkan dapat membawa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter ke arah yang lebih baik,” kata Rosdiana
Ia mengatakan pergantian Menteri Keuangan sebanyak tiga kali dalam waktu kurang dari tiga tahun merupakan hal yang jarang terjadi dan menunjukkan bahwa pengelolaan perekonomian membutuhkan konsistensi kebijakan
Rosdiana menilai perubahan kepemimpinan di sektor fiskal dalam waktu relatif singkat menjadi tantangan tersendiri bagi kesinambungan kebijakan ekonomi Indonesia, terlebih ketika pemerintah tengah menghadapi tekanan fiskal yang cukup besar.
Peralihan posisi Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara kata Rosdianan, dipandang memberi angin segar bagi pemulihan kredibilitas arah fiskal nasional.
Ia berpendapat sambutan hangat pelaku pasar atas suksesi ini mencerminkan tingginya keyakinan pada rekam jejak serta prinsip kehati-hatian finansial yang dipegang Suahasil.
Kendati begitu Rosdiana mengingatkan, ekonomi tidak bisa dikelola dengan pendekatan coba-coba, sehingga pergantian kepemimpinan perlu tetap diikuti dengan kesinambungan arah kebijakan.
“Kendati demikian, kami melihat respons positif dari pasar terhadap penunjukan Pak Suahasil, yang memberikan harapan terhadap arah kebijakan fiskal ke depan,” ,” kata Prof. Rosdiana kepada awak media, Senin, (15/9/2026)
Prof. Rosdiana juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi pemerintah dalam pengelolaan fiskal, salah satunya terkait dengan risiko defisit APBN yang mendekati batas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Di samping itu, Rosdianan turut menggarisbawahi penerimaan negara yang masih belum mampu menutupi seluruh kebutuhan belanja nasional.
Hal ini dipicu oleh kapasitas pemungutan pajak (tax capacity) yang relatif terbatas serta potensi tidak tercapainya target penerimaan pajak 2026 secara optimal, di tengah pengeluaran pemerintah yang tetap tinggi sehingga menjadi tantangan nyata Kementerian Keuangan.
“Beban utang dan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar juga menjadi tantangan, karena dapat menimbulkan fiscal crowding out dan mempersempit ruang pembiayaan bagi sektor swasta,” jelas Prof. Rosdiana.
“Di sisi lain, kita juga menghadapi ketidakpastian internasional dan geopolitik, termasuk perubahan harga minyak yang dapat meningkatkan beban subsidi energi, sehingga kalau kondisi seperti ini terjadi, tekanan terhadap fiskal kita tentu akan semakin besar,” imbuhnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Prof. Rosdiana berharap pengalaman Suahasil Nazara dapat memperkuat pengelolaan kebijakan fiskal dan koordinasinya dengan kebijakan moneter.
“Harapannya, Pak Suahasil bisa kembali membawa prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam kebijakan fiskal, tetapi tetap memberikan ruang gerak bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara bertahap,” kata Prof. Rosdiana.
“Pergantian ini memang tidak serta-merta menyelesaikan berbagai persoalan yang ada, tetapi dengan pengalaman beliau memahami karakteristik APBN, perubahan ini diharapkan dapat membawa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter ke arah yang lebih baik,” kata Rosdiana
Rekam Jejak Suahasil dan Harapan Pelaku Pasar
Prof. Rosdiana memaparkan, optimisme pasar terhadap sosok Suahasil Nazara bertumpu pada rekam jejak panjangnya di lingkungan Kementerian Keuangan.
Suahasil pernah menduduki posisi Kepala Badan Kebijakan Fiskal serta mengawal Sri Mulyani Indrawati selaku Wakil Menteri Keuangan, yang mana rekam jejak itu menjadi modal kuat memahami anatomi dan tata kelola APBN.
Riwayat akademis maupun portofolio profesionalnya pun dipandang amat menyerupai Sri Mulyani, khususnya terkait penerapan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan anggaran.
“Pendekatan fiskal yang prudent ini kemungkinan menjadi salah satu hal yang diapresiasi pasar. Dalam kondisi tekanan fiskal seperti sekarang, tantangannya bukan sekadar mendorong kebijakan yang agresif, tetapi bagaimana tetap menjaga kehati-hatian fiskal sekaligus menciptakan ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Rosdiana.












