Gula Manis, Disparitas Kehidupan Global: Dari Perbudakan ke ILRR: Apa Posisi Strategis Negara Berkembang?

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Sabtu (11/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Gula Manis, Disparitas Kehidupan Global: Dari Perbudakan ke ILRR: Apa Posisi Strategis Negara Berkembang?” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Pendahuluan: Komoditas Paling Manis, Sejarah Paling Pahit

Gula adalah salah satu komoditas paling berpengaruh dalam sejarah ekonomi dunia. Ia hadir di hampir setiap rumah tangga modern, murah, melimpah, dan tampak biasa. Namun di balik kemanisannya, gula menyimpan sejarah panjang ketimpangan global.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.,
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: Arie/MMSN)

Selama lebih dari satu setengah abad, gula memperlihatkan paradoks yang sama berulang kali: produksinya meningkat tajam, konsumsinya meluas, tetapi kesejahteraan produsen primernya terutama di negara berkembang tetap tertekan.

Esai ini membaca gula bukan sekadar komoditas, melainkan arsip hidup relasi kuasa global, dari perbudakan hingga mekanisme ekonomi modern berbasis tanah.

Asal-Usul Tebu: Keunggulan Tropika yang Terpinggirkan

Secara botani, tebu (Saccharum officinarum) berasal dari Papua Nugini, didomestikasi sekitar 8.000–10.000 tahun lalu. Dari Melanesia, tebu menyebar ke Asia Tenggara dan India, lalu ke dunia Islam dan Mediterania, sebelum akhirnya menjadi komoditas global. Ironinya, tanaman yang secara ekologis unggul di tropika justru menghasilkan akumulasi nilai di luar wilayah asalnya. Sejak awal, ada pemisahan antara tempat produksi biologis dan tempat akumulasi ekonomi pola yang akan terus berulang dalam sejarah gula.

Gula dan Perbudakan: Fondasi Awal Surplus

Pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, gula adalah tulang punggung sistem perbudakan Atlantik. Perkebunan tebu di Karibia dan Brasil bergantung pada tenaga kerja budak dengan intensitas eksploitasi ekstrem. Harga gula yang tinggi secara riil saat itu bukan hasil efisiensi, melainkan hasil peneniadaan biaya tenaga kerja. Dalam istilah ekonomi modern, surplus gula lahir dari pemutusan total antara kerja dan upah. Gula “murah” bagi konsumen Eropa dibayar mahal oleh penderitaan manusia.

Abolisi dan Transisi: Eksploitasi Berganti Instrumen

Ketika perbudakan dihapus, logika sistem tidak berhenti ia beradaptasi. Buruh kontrak murah, tanam paksa, kolonialisme agraria, mekanisasi, dan ekspansi lahan menggantikan perbudakan. Sejak titik ini, harga riil gula mulai menunjukkan tren penurunan jangka panjang. Dunia pascaperbudakan mencari instrumen baru untuk menekan biaya dan mempertahankan pasokan: teknologi, skala, dan akhirnya harga sebagai alat disiplin utama.

Produksi Naik, Harga Riil Turun: Paradoks Modern

Sejak sekitar tahun 1900, produksi gula dunia meningkat hampir sepuluh kali lipat, sementara harga riil gula di pasar global bahkan pada tingkat konsumen mengalami tren penurunan. Kenaikan produksi terjadi karena: Produktivitas meningkat lebih cepat daripada penurunan harga, menjaga kelayakan biaya marjinal. Respons rasional individual: produsen menambah volume untuk mempertahankan pendapatan ketika harga turun. Rigiditas pertanian: tebu berbasis lahan dan waktu, sulit keluar-masuk pasar. Intervensi negara, terutama di negara maju.

Hasilnya adalah kelebihan pasokan struktural yang menekan harga lebih jauh sebuah treadmill komoditas primer.

Subsidi Negara Maju: Standar Ganda Pasar Global

Negara-negara maju mempertahankan produksi gula melalui subsidi, proteksi tarif/kuota, dan dukungan pendapatan. Kebijakan ini:
menetralkan sinyal harga dunia bagi produsen domestik, menjaga produksi berbiaya tinggi tetap hidup, dan menyumbang surplus global yang menekan harga dunia.

Secara normatif, kebijakan ini tidak fair bagi negara berkembang. Secara politis, kebijakan ini rasional bagi negara maju. Di sinilah muncul standar ganda: pasar bebas dianjurkan, tetapi tidak dipraktikkan setara.

Dari Perbudakan ke ILRR: Evolusi Eksploitasi

Jika perbudakan meniadakan upah, mekanisme modern meniadakan kebutuhan harga yang adil. Ketika harga riil gula turun persisten, keberlanjutan produksi bertumpu pada faktor non-harga, terutama tanah. Inilah Implicit Land Rent Rate (ILRR): akses lahan murah, skala luas, durasi penguasaan panjang.

ILRR adalah surplus diam-diam yang memungkinkan produksi bertahan meski harga riil terus merosot. Eksploitasi berubah rupa: dari penguasaan tubuh manusia menjadi penguasaan struktur harga dan tanah.

Perbudakan adalah eksploitasi yang telanjang; ILRR adalah eksploitasi yang halus.

Siapa Menikmati Manisnya Gula Hari Ini?

Penurunan harga riil gula: menguntungkan konsumen global, memperbesar margin industri hilir, namun menekan pendapatan petani tebu di negara berkembang. Kemakmuran global memang meningkat, tetapi terdistribusi timpang. Nilai tambah terus menjauh dari tempat gula ditanam.

Posisi Strategis Negara Berkembang

Dalam struktur global yang tidak netral, negara berkembang tidak realistis berharap pada “harga dunia yang adil”. Strategi rasionalnya adalah:

Kooperatisasi untuk memperkuat posisi tawar dan efisiensi kolektif. Penataan ILRR agar surplus non-harga ditangkap secara adil, bukan privat. Reposisi gula dalam ekonomi domestik, dari sekadar komoditas ekspor murah menjadi basis ketahanan pangan dan industri nasional.

Narasi keadilan struktural dalam diplomasi perdagangan membongkar standar ganda, bukan menyalahkan efisiensi lokal.

Penutup: Sejarah yang Berulang dalam Bentuk Baru

Gula mengajarkan satu pelajaran besar: pasar global mampu menciptakan kelimpahan, tetapi tidak menjamin keadilan. Dari Papua Nugini ke Karibia, dari perbudakan ke ILRR, logikanya konsisten surplus dijauhkan dari produsen primer.

Jika kemarin gula dimaniskan oleh perbudakan, hari ini ia dimaniskan oleh harga yang ditekan. Tantangannya kini bukan menanam lebih banyak, melainkan membangun institusi agar kemanisan gula juga terasa di kehidupan mereka yang menanamnya.

Esai ini menegaskan: posisi strategis negara berkembang bukan menolak pasar, melainkan mengubah institusinya agar sejarah panjang ketimpangan tidak terus berulang dalam rasa yang sama.

***

Judul: Gula Manis, Disparitas Kehidupan Global: Dari Perbudakan ke ILRR: Apa Posisi Strategis Negara Berkembang?
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *