Gibran, Persoalan Hukum yang Akan Diselesaikan Secara Politis? Akankan terjadi Politik Dagang Sapi?

Oleh: Kang Eep

MajmusSunda News, Jawa Barat, Kamis (08/10/2026) โ€“ Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 meninggalkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar polemik ijazah Gibran Rakabuming Raka. MK menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan berupa ijazah, sertifikat, atau diploma yang menunjukkan Gibran telah menamatkan pendidikan luar negeri setara SMA sebagaimana dipersyaratkan UU Pemilu. Namun Mahkamah juga menyatakan tidak dapat membatalkan atau mendiskualifikasinya karena Gibran telah dilantik sebagai Wakil Presiden pada 20 Oktober 2024.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih mendasar: ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ป๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ถ๐—ป๐—ถ? Apakah persoalan yang sebenarnya dapat diuji melalui norma, dokumen, fakta, dan pembuktian harus menunggu keputusan politik?

UUD 1945 memang menyediakan mekanisme Pasal 7A dan Pasal 7B. Presiden atau Wakil Presiden dapat diberhentikan apabila terbukti melakukan pelanggaran tertentu atau terbukti tidak lagi memenuhi syarat. Namun pintu masuknya berada di DPR. Pendapat DPR baru dapat dibawa ke MK setelah memperoleh dukungan politik dalam jumlah tertentu, dan setelah MK memutus, proses masih kembali ke DPR lalu MPR.

Mekanisme itu sah secara konstitusional. Namun persoalan muncul ketika masalah yang objektif secara hukum baru dapat bergerak setelah memperoleh dukungan politik.

Syarat pendidikan calon Presiden atau Wakil Presiden bukan perkara selera. Ada norma hukumnya, ada dokumen yang harus membuktikannya, dan ada fakta yang dapat diuji. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, hukum seharusnya mampu menentukan akibatnya secara jelas, apakah menyangkut ketidakabsahan pencalonan, pelanggaran administratif, maladministrasi, pelanggaran etik, atau tindak pidana apabila memang terdapat unsur pidananya.

Kepastian hukum menjadi terganggu ketika pertanyaan โ€œapakah syaratnya terpenuhi?โ€ berubah menjadi โ€œapakah cukup banyak kekuatan politik yang bersedia memprosesnya?โ€

Kekhawatiran terhadap ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ muncul dari ruang seperti itu. Bukan berarti transaksi politik pasti terjadi. Tetapi ketika suatu perkara baru dapat berjalan setelah melewati jumlah suara tertentu di parlemen, ruang bagi kompromi koalisi, pertukaran dukungan, dan ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ kepentingan ikut terbuka.

Bayangkan dua pejabat menghadapi persoalan persyaratan yang sama. Fakta dan normanya sama. Yang satu diproses karena tidak mempunyai dukungan politik, sedangkan yang lain tidak pernah sampai ke ruang pemeriksaan karena didukung mayoritas. Jika keadaan seperti itu dapat terjadi, kepastian hukum akan kalah oleh konfigurasi kekuasaan.

Sistem hukum seharusnya mencegah persoalan tersebut sejak awal.

Ke depan, ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ผ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฐ๐—ฎ๐—น๐—ผ๐—ป ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐—ถ๐—น ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ผ๐—ฎ๐—น๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ถ ๐—ฝ๐—ถ๐—ป๐˜๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐˜‚ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ฃ๐—›๐—ฃ๐—จ ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐˜‚ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต. PHPU pada dasarnya berkaitan dengan hasil Pemilu, sedangkan persoalan ijazah, usia, kewarganegaraan, dan persyaratan personal lainnya menyangkut keabsahan seseorang untuk menjadi calon.

Persoalan itu perlu ditempatkan dalam rezim tersendiri, misalnya ๐—ฆ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฎ๐—ฏ๐˜€๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐—ถ๐—น ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป. Objeknya bukan perolehan suara, melainkan keabsahan keputusan yang menyatakan seseorang memenuhi syarat sebagai calon.

UU Pemilu sebenarnya telah mengenal sengketa proses Pemilu. Namun mekanismenya perlu diperkuat agar pemeriksaan persyaratan benar-benar substantif, terbuka, mempunyai jalur keberatan yang jelas, serta diselesaikan dalam tenggat ketat. Idealnya, seluruh sengketa mengenai ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜บ selesai sebelum pelantikan.

๐˜“๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ juga perlu ditinjau kembali. Persyaratan Presiden dan Wakil Presiden menyangkut kepentingan publik yang sangat luas. Karena itu, jalur untuk mengujinya tidak semestinya hanya tersedia bagi kompetitor politik. ๐—ช๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ ๐—ป๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ผ๐—บ๐—ฝ๐—ผ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ต๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฐ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ท๐—ถ๐—ฎ๐—ป.

Tentu mekanisme tersebut harus diberi pagar. Harus ada standar bukti permulaan, tenggat waktu, prosedur cepat, dan sanksi terhadap gugatan dengan itikad buruk agar tidak berubah menjadi banjir gugatan politik.

Hukum juga harus membedakan secara tegas antara ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ต๐—ถ ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜ ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—น dan ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ต๐—ถ ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜ ๐˜€๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฏ๐—ฎ๐˜. Yang pertama menyangkut validitas pencalonan sejak semula. Yang kedua menyangkut perubahan keadaan setelah seseorang menduduki jabatan. Keduanya tidak seharusnya diperlakukan sebagai peristiwa hukum yang sama.

Masalah terbesar muncul ketika ๐—ฑ๐˜‚๐—ด๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ฏ๐˜€๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป baru diketahui setelah pelantikan. Hukum harus menyediakan prosedur yang jelas agar masyarakat dapat melaporkan dan meminta pemeriksaan. Jika persoalannya administratif, selesaikan secara administratif. Jika terdapat maladministrasi, gunakan mekanisme pengawasan administrasi. Jika terdapat pelanggaran etik, periksa secara etik. Jika terdapat unsur pidana, proses dengan hukum pidana. ๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ผ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ.

Memang, selama Pasal 7A dan Pasal 7B UUD 1945 masih berlaku seperti sekarang, pemberhentian Presiden atau Wakil Presiden yang telah menjabat tetap melalui DPR, MK, dan MPR. UU biasa tidak dapat begitu saja menghapus mekanisme tersebut. Tetapi jika bangsa ini ingin agar dugaan ketidakabsahan persyaratan sejak awal dapat diuji langsung melalui jalur hukum tanpa sepenuhnya bergantung pada keputusan politik DPR, desain konstitusionalnya pun perlu dikaji.

Kasus Gibran memperlihatkan pentingnya menutup celah hukum. Para petualang hukum dan politik tidak selalu bekerja dengan melanggar aturan secara terang-terangan. Mereka justru dapat bergerak melalui pengecualian, ketidakjelasan prosedur, benturan norma, atau ruang abu-abu yang belum diantisipasi pembentuk undang-undang.

Karena itu, pembaruan hukum harus diarahkan untuk ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ฝ ๐—ฐ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐—ฑ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ถ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป, bukan baru bereaksi setelah persoalan besar terjadi.

Kita membutuhkan arsitektur hukum yang membedakan dengan terang ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—ป, ๐˜€๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ผ๐˜€๐—ฒ๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐˜‚, dan ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐˜‚. Masing-masing harus mempunyai forum, prosedur, ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ, tenggat, dan akibat hukum yang jelas.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ผ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ. Politik tentu mempunyai ruangnya sendiri, tetapi jangan semua persoalan akhirnya bergantung pada keputusan politik. Politik boleh berubah, koalisi dapat berganti, dan dukungan bisa berpindah. Tetapi hukum harus memberikan jawaban yang sama terhadap fakta yang sama.

Semakin tinggi jabatan yang diperebutkan, semakin ketat persyaratannya harus diperiksa. Setiap syarat harus mempunyai mekanisme verifikasi. Setiap pelanggaran harus mempunyai akibat hukum. Setiap sengketa harus mempunyai forum yang jelas. Dan setiap celah yang ditemukan harus segera ditutup.

๐—œ๐˜๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐—ป๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ต๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ.

Salam,
Kang Eep

***

Judul: Gibran, Persoalan Hukum yang Akan Diselesaikan Secara Politis? Akankan terjadi Politik Dagang Sapi?
Penulis:ย Kang Eep
Editor:ย Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *