MajmusSunda News – Kota Cimahi, Jum’at (21/11/2025) – Festival Kampung Adat Cireundeu menjadi salah satu agenda budaya yang menyita perhatian publik di Jawa Barat. Dari sekian banyak kampung adat yang ada di provinsi ini, ternyata terdapat Kampung Adat yang hanya berjarak sekitar 15 KM dari Kota Bandung, yaitu Kampung Adat Cireundeu yang berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Seperti kampung adat lainnya, masyarakat Cireundeu masih kukuh dan konsisten menjaga serta melestarikan adat budaya tradisi karuhunnya hingga sekarang. Mereka memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan. Cireundeu juga memiliki ciri khas tersendiri, yaitu menjadikan singkong (ketela pohon/ubi kayu) atau sampeu (bahasa Sunda: singkong) sebagai makanan pokok, bukan nasi seperti umumnya.

Singkong merupakan sumber karbohidrat yang mudah dibudidayakan di berbagai tempat dan kondisi serta mudah dicari. Sejak tahun 1924, masyarakat Kampung Adat Cireundeu telah mengonsumsi singkong dan mengolahnya menjadi rasi, yaitu beras singkong.
Masyarakat Cireundeu menjadi contoh ketahanan pangan berbasis lokal, didukung dengan luas lahan sekitar 64 hektare yang dibagi menjadi 60% untuk pertanian (untuk menanam singkong) dan 40% untuk permukiman, yang dihuni lebih dari 1.200 kepala keluarga.
Singkong diolah menjadi berbagai penganan seperti opak, simping, cireng, hingga makanan modern seperti egg roll dan bolu. Bahkan kulit singkong, yang oleh orang Sunda dikenal sebagai kadedemes (kulit singkong), diolah menjadi dendeng yang lezat dan dijual sebagai oleh-oleh bagi para pengunjung.
Atas dasar kekayaan budaya dan kearifan lokal itulah, Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi bekerja sama dengan masyarakat Kampung Adat Cireundeu menyelenggarakan Festival Kampung Adat Cireundeu 2025. Kegiatan yang untuk ketiga kalinya ini digelar sepanjang hari pada Sabtu, 15 November 2025, mulai pukul 08.00 hingga malam hari di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kota Cimahi.
Kepala Disbudparpora Kota Cimahi, Dani Bastian, menjelaskan bahwa festival ini menampilkan berbagai potensi budaya lokal sebagai bentuk promosi keunggulan pariwisata berbasis kebudayaan daerah Kota Cimahi.
“Festival ini terbuka untuk umum serta tersedia kuliner khas gratis yang disajikan, karena event ini adalah pesta rakyat, hari raya kebudayaan. Tidak ada batasan, siapa pun boleh datang dan berpartisipasi,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025) di lokasi kegiatan Festival Kampung Adat Cireundeu 2025.
Festival yang diselenggarakan seharian ini menyuguhkan arak-arakan atau helaran (kirab budaya) jampana atau dongdang dari 15 kelurahan se-Kota Cimahi. Selain itu, ditampilkan pula kesenian Sisingaan dari Kabupaten Subang, upacara adat, Angklung Buncis khas Cireundeu, serta kegiatan “Etnostem”, yaitu pengembangan kegiatan interaktif untuk masyarakat dalam memahami budaya Sunda dalam perspektif STEM, melalui pengenalan karinding, celempung, rasi, angklung buncis, hingga anyaman Sunda.

Selain itu, tersedia juga gelar produk kuliner khas Cireundeu (gratis), eksibisi permainan tradisional, dan pada malam hari ditutup dengan pagelaran wayang golek oleh Dalang Wawan Dede Amung Sutarya.
“Tujuan utama dari Festival Kampung Adat Cireundeu ini adalah untuk melestarikan budaya dan memberikan ruang kreativitas bagi semua kalangan tanpa memandang latar belakang. Kami ingin generasi muda, termasuk Gen Z, mengerti bahwa budaya tradisional tidak ketinggalan zaman, justru bisa mengglobal jika kita bangga dan terus melestarikannya,” ucap Dani.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, dalam sambutannya pada pembukaan festival ini mengungkapkan rasa bangganya terhadap Kampung Adat Cireundeu. Menurutnya, Cireundeu memiliki keunikan yang tidak dimiliki kampung-kampung lain di Jawa Barat maupun di Indonesia. Cireundeu memiliki falsafah hidup yang terus dilestarikan dan tetap dijalankan hingga saat ini.
“Tidak apa-apa tidak punya sawah asal punya padi, tidak punya padi asal punya beras, tidak punya beras asal bisa menanak nasi, tidak bisa menanak nasi asal bisa makan, tidak makan asal kuat. Siapa yang memberi kekuatan? Yang Maha Kuat. Inilah bukti bahwa masyarakat Kampung Adat Cireundeu, yang menjadikan singkong sebagai makanan pokok, telah menjadi contoh ketahanan pangan,” paparnya.
Ngatiyana meyakini bahwa sejatinya Festival Kampung Adat Cireundeu merupakan upaya memperjuangkan keberlanjutan tumbuh kembang nilai-nilai lokal dan adat istiadat yang hidup, khususnya di Cireundeu dan umumnya di Kota Cimahi.
“Hari ini saya berkesempatan hadir dan turut merasakan kehangatan serta kekayaan budaya yang diwariskan masyarakat adat Cireundeu. Setiap langkah di kawasan ini selalu mengingatkan kita bahwa kearifan lokal adalah kekuatan yang menjaga jati diri Cimahi,” ujarnya.
Mulai dari tradisi, kuliner rasi, hingga berbagai pertunjukan seni, semuanya menunjukkan betapa istimewanya Cireundeu sebagai ruang pelestarian budaya yang hidup dan terus berkembang. Ngatiyana merasa bangga karena masyarakat tetap menjaga nilai-nilai leluhur sekaligus mengajak generasi muda untuk mencintai identitas daerahnya.

“Terima kasih kepada seluruh tokoh adat, pelaku seni, UMKM, dan warga yang terlibat. Mari kita terus dukung agar Festival Cireundeu menjadi agenda budaya yang semakin dikenal secara nasional dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Cimahi maju, berbudaya, dan berdaya,” katanya penuh semangat.
Sementara itu, Jajat Sudrajat, salah satu tokoh yang juga menjadi juru bicara Kampung Adat Cireundeu saat ditemui di sela-sela kegiatan Festival Kampung Adat Cireundeu 2025, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Kota Cimahi atas kepeduliannya terhadap Kampung Adat Cireundeu, hingga bisa menggelar festival untuk mengenalkan budaya masyarakat Cireundeu kepada masyarakat luas.
“Festival Cireundeu kami buka dengan upacara adat Meupeus Kendi (memecahkan kendi). Sebuah simbol perjuangan. Sebuah ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terus berjuang menjaga tanah airnya, salah satunya menjaga budayanya. Karena kami diajarkan oleh leluhur kami bahwa martabat suatu bangsa itu adalah budaya. Jika budayanya rusak, maka bangsa itu akan rusak,” tandasnya.
Setelah melakukan upacara adat, pengunjung diajak menyaksikan Ngajayat, lalu diberi sajian kuliner khas Cireundeu serta beragam pertunjukan seni.
“Sedangkan Ngajayat itu sendiri adalah memperlihatkan hasil bumi yang ditata sedemikian rupa sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas limpahan anugerah yang telah diberikan, dengan harapan tahun depan panen kita lebih berlimpah,” pungkasnya.
Judul: Festival Kampung Adat Cireundeu 2025 Tampilkan Arak-arakan Dongdang dari 15 Kelurahan di Kota Cimahi
Jurnalis: Asep GP
Editor: Parkah












