MajmusSunda News, Garut, 02/03/2026 – Seekor Garuda berdiri di atas pulau yang retak, sayapnya terkembang seperti cakrawala yang terbelah. Warna merah, putih, dan hitam di tubuhnya bukan sekadar bulu, melainkan tanda bara, cahaya, dan bayang. Dari cakarnya, pijar api melesat ke segala arah, menandai wilayah, sekaligus menantang batas.
Di langit, kawanan elang berputar dalam formasi waspada. Di darat, kucing-kucing hutan mengamati dengan mata teduh namun tegang. Rusa dan banteng berkerumun, naluri mereka lebih peka daripada pidato apa pun. Tak ada bahasa resmi di rimba, hanya insting, lapar, dan harga diri.
Konflik ini bukan sekadar perebutan batu dan ombak. Ia adalah pertarungan tafsir tentang siapa yang berhak menjaga keseimbangan. Garuda memaku pandang ke depan, seakan berkata bahwa kepemimpinan selalu lahir dari risiko.
Namun rimba mengajarkan satu hal: api yang dilepas untuk melindungi bisa berubah menjadi bara yang menghanguskan.
Di antara gelombang dan auman, dunia hewan kembali bercermin—apakah kuasa adalah takdir, atau ujian bagi nurani liar yang tak pernah benar-benar jinak.
*****
Judul: Konflik Dunia Hewan III Pecah di Jantung Samudra Berbatu
Penulis: NOER Widyadiningrat (Pembelajar Djatirumasa)












