FASE BULAN SETENGAH GELAP SETENGAH TERANG MENURUT ASTRONOMI, AGAMA DAN BUDAYA SUNDA

Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniman, Spiritualis)

Artikel FASE BULAN SETENGAH GELAP SETENGAH TERANG MENURUT ASTRONOMI, AGAMA DAN BUDAYA SUNDA. Penulis: Ambu Rita Laraswati

MajmusSunda News, Bandung, 18/03/2026 – Bulan adalah satelit alami yang mengorbit sebuah planet atau benda langit lainnya yang bukan bintang. Di tata surya bulan dan bumi adalah satelit alami dan bulan berfungsi mengorbit planet-planet yang lain. Bulan di jadikan siklus dalam menghitung waktu. Dalam kearifan lokal budaya Sunda bulan adalah ” kala” atau waktu. Awal perhitungan waktu dimulai pada saat kondisi bulan berada pada fase “setengah gelap setengah terang”. Dalam ilmu takaran adalah kondisi keseimbangan. Dalam perhitungan penanggalan fase bulan setengah gelap setengah terang tanggal satu. Perjalanan bulan menentukan tanggal, hari dan waktu. Dari kondisi bulan pada fase setengah gelap setengah terang (sebaliknya) lalu maju bulan gelap penuh (purnama gelap) menuju setengah gelap setengah terang maju menuju terang penuh (purnama terang) di sebut perjalan fase bulan.

Fase bulan kondisi setengah gelap setengah terang di jelaskan dalam pemahaman ilmu Astronomi, agama dan kearifan budaya Sunda dan hasil ritus.

Ilmu Astronomi adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari objek-objek di luar bumi. Kondisi bulan berada pada fase setengah gelap setengah terang dan disebut “fase kuartal” (quarter moon), merupakan fase kuartal pertama dan kuartal terahir artinya kondisi bulan setengah gelap setengah terang dan sebaliknya adalah awal dan ahir. Kuartal pertama bulan pada posisi 90 derajat dari matahari artinya telah menempuh seperempat lintasan. Sedangkan kuartal terahir bulan berada pada posisi 270 derajat dari matahari artinya telah menempuh tiga perempat lintasan orbitnya. Tampak bulan setengah gelap dan setengah terang ada garis pemisah antara keduanya yang berbentuk lurus, tampak seperti setengah lingkaran. Dari belahan bumi utara bagian terang ada pada kuartal pertama yang berada di sisi kanan, sedangkan pada kuartal terahir berada di sisi kiri bisa dari belahan bumi selatan. Secara umum fase bulan berlangsung sekitar 29,5 hari.

Gerakan bulan merupakan simbol yang sangat utama sebagai simbol waktu dan tata kelola hidup. Pergerakan bulan merupakan dasar penanggalan/kalender dan digunakan untuk menentukan ibadah puasa ramadan ,ibadah haji dalam Islam. Gerakan bulan juga dapat di jadikan patokan dan sebagai lambang penting dalam kesinambungan, disiplin, dan menyelaraskan kehidupan dengan alam yang sudah Allah tetapkan. Gerakan bulan sebagai simbol kesempurnaan dan keteraturan yang dapat dilihat dari perubahan fase (hilal, bulan, sabit, purnama) bergerak dengan teratur yang mengandung kekuatan
dan ketetapan, ketertiban dari Allah.

Fase perubahan bulan dapat mengingatkan kita manusia bahwa dalam menjalani kehidupan roda berputar ada waktu kita ada di fase sempit, ada di waktu kita fase penuh, artinya ada masa kita mencapai sempurna ada masa juga tidak. Kesempurnaan laku spritual kita dapat di sempurnakan pada fase bulan penuh yaitu bulan purnama atau biasa juga saat posisi bulan pada setengah gelap setengah terang dan sebaliknya. Simbol gerak bulan sebagai simbol kekuatan dan kekuasan Tuhan yang memiliki kekuasaan matrik.

Dalam hadis pergerakan bulan terkait bulan terbelah setengah gelap gelap setengah terang dan sebalinya merupakan suatu kejadian turunnya mujizat. Di riwayatkan dari Abdullah bin Mas.ud yaitu “bulan pernah terbelah dua pada masa Rosullah SAW menjadi dua bagian, lantas gunung menutupi satu potong dan satu potong lain ada di atas gunung. Rasullah bersabda: ” ya Allah saksikanlah”, hadis ini merupakan hadis sahih mutafog alaih yaitu peristiwa bulan terbelah menjadi bukti kenabian Rasullah SAW dan merupakan kekuasaan Allah yang dapat mengubah gerak dan bentuk bulan sesuai kehendak Nya.

Bulan setengah terang setengah gelap dan sebaliknya terkait dengan Lailatul Qodar hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anha” ia berkata: “kami pernah berdiskusi tentang Lailatul Qadar di sisi Rasulallah Shalallahu alaihi wasalam, beliau berkata: “Siapakah dari kalian yang masih ingat tak kala bulan muncul yang berukuran separuh nampan? (bulan setengah gelap setengah terang). Makna dan arti dari hadis menggambarkan bulan yang tampak separuh bulatan yaitu kondisi bulan separuh gelap sepatuh terang dan (sebaliknya) sebagai salah satu ciri alam tersebut yang merupakan malam penuh berkah yaitu “Lailatul Qadar”, malam yang penuh berkah yaitu bulan Ramadan yang keutamaan lebih dari seribu bulan.

Ciri-ciri malam Lailatul Qodar menurut Al Qur’an dan Hadis Al Qadar ayat 4-5 yaitu “Pada malam itu malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala aturan, malam itu penuh berkah sampai terbit fajar. Ayat di atas menjelaskan bahwa malam itu memiliki keberkahan.

Berdasarkan Hadis ciri-ciri malam Lailatul Qadar yaitu suasana alam yang tenang dan nyaman, tidak ada angin kencang, hujan deras, udara sejuk, suhu stabil dengan cahaya lembut tidak menyilaukan, sinarnya kemerahan tapi teduh. Doa di waktu yang penuh berkah, lebih cepat di kabulkan dan sangat baik untuk meningkatkan spritual. Ciri-ciri di atas tidak mutlak di rasakan manusia. Malam Lailatul Qadar tetap ada pada kuasa dan rahasia Allah.

Rata-rata bulan mengelilingi bumi dalam satu siklus/satu bulan durasi 29 hari 12 jam 44 menit 2,9 detik, atau 29,53 hari. Ada empat fase yang utama menurut Ilmu Astronomi yaitu:
1. Fase bulan mati/Ijtima/konjungsi, dimana cahaya bulan tidak dapat terlihat oleh kita dari bumi. Fase ini sebagai penanda bulan lama telah berakhir, sekaligus sebagai penanda masuknya awal. bulan baru.

2. Fase kuartal Pertama (setengah gelap setengah terang kesatu). Pada fase ini umur bulan telah menunjukan hari ke 7 lebih sekian jam, di mana cahaya bulan meliputi separuh bentuk bulan.

3. Fase kuartal kedua. Pada fase ini umur bulan adalah 14 hari, lebih sekian jam atau purnama, yaitu cahaya bulan meliputi semua permukaan bulan. Dalam istilah Astronomi, harga frakrsi iluminasi bulan bernilai 0,99 (1).

4. Fase kuartal ketiga. Pada kuartal ke tiga, di mana umur bulan mencapai hari ke 2 lebih sekian jam, cahayanya kembali terlihat pada sebagian bulan (setengah gelap setengah terang ke kedua).

5. Fase kuartal keempat. Pada fase ini, hari ke 29.53 bulan kembali gelap, tidak ada cahaya bulan yg terlihat dari bumi. Di fase ini bulan telah selesai mengelilingi bumi satu siklus dan keesokan harinya awal bulan baru kembali di mulai. Dan begitu seterusnya fase-fase bulan secara tetap berganti dan berulang.

Secara Astronomi fase bulan setengah gelap setengah terang rutin terjadi setiap bulan di hari ke -7 lebih sekian jam dan di hari ke -21 lebih sejam.(Ki falaq)

Dalam pemahaman kitab Al Qur’an tentang bulan posisi di kondisi setengah gelap dan setengah terang dan sebaliknya yang lebih menjelaskan tentang perbedaan dan perubahan bentuk bulan yang membentuk fase bulan terdapat dalam surat Yasin ayat 39 terjemahan: “Begitu juga bulan, Kami tetapkan baginya tempat-tempat peredaran sehingga setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terahir kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua (bulan sabit). Makna ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menempatkan perubahan bentuk dari sabit sampai purnama, lalu menyusut, termasuk masuk pada fase separuh bulan.

Al-Qur’an surat Yunus ayat 5, terjemahan: “Dialah yang menjadikan matahari dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran Nya kepada orang-orang yang mengetahui. Makna arti dari ayat ini menjelaskan dan menunjukan bahwa perubahan bentuk bulan memiliki tujuan sebagai penentu waktu, termaksud fase separuh bulan yang merupakan bagian dari siklunya.

Menurut mitologi dan kosmologi budaya tradisional Sunda bulan pada fase setengah gelap setengah terang dan sebaliknya secara filosofis yang terhubung pada tanda alam dan semangat untuk perubahan. Secara filosofis bulan fase setengah gelap setengah terang memiliki dualisme yang memberikan keseimbangan antara dua kekuatan berlawanan gelap dan terang, siang dan malam, bumi dan langit. Dapat juga di artikan energi spritual laki-laki dan perempuan. Intuisi yang terekam putih adalah air mani dan hitam adalah rahim (kandungan) ibu yang gelap gulita, namun dalam gelap di teteskan air mani putih menjadi kehidupan yang suatu saat akan menjadi kehidupan lahir batin yang akan lahir dari asal kandungan yang gelap menuju dunia luar yang terang.

Dalam laku spritual gelap dan terang merupakan perjalan roh manusia mencapai harmonis dengan alam semesta dan Tuhan.

Dalam beberapa naskah Sunda banyak membahas metofora langit untuk menyelaraskan hubungan manusia dengan Tuhan. Fase bulan kondisi setengah terang setengah setengah gelap dan sebaliknya sebagai tahap transformasi (perubahan) yang memiliki makna yang terkandung. Suatu ajaran spritual yang luhur bahwa lahir dan batin kita juga akan ada perubahan dari muda menjadi tua, dari hidup lalu mati, dari suka menjadi duka, dari sedih menjadi bahagia artinya mengingatkan manusia bahwa sifat yang ada di dunia adalah sementara. Orang Sunda memaknai bulan setengah sebagai simbol kebijaksanaan, keadilan yang harus berlaku seadil-adilnya. Sifat Tuhan tersimbolkan melalui fase bulan kondisi bulan setengah kepada yang gelap memberi penerangan, kepada yang terang tetap harus waspada. Bulan setengah gelap setengah terang dan sebaliknya adalah suara alam memberikan peringatan agar memiliki pematangan dan kesempurnaan yang hampir tercapai, manusia harus mempersiapkan diri menerima berkah atau siap bila menerima keburukan artinya peringatan untuk lebih waspada.

Dalam budaya Sunda bulan setengah gelap setengah terang di jadikan penentu waktu dalam kegiatan pada masyarakat dan penentu perubahan cuaca. Fase bulan sabit permulaan untuk berkerja mengelola tanah seperti membajak (kuartal pertama), waktu untuk merawat tanaman dan menyelesaikan pekerjaan (kuartal ketiga). Pada kondisi bulan setengah menjadi penentu untuk kewaspadaan dan berhati-hati dalam aktifitas yaitu berpergian jauh, karena pada fase bulan setengah terang setengah gelap dan sebaliknya dipercaya sebagai bentuk energi alam sedang tahap transisi untuk proses penyelarasan. Kondisi alam pada fase bulan setengah gelap setengah terang dan sebaliknya air laut pasang surut kecil disebabkan gravitasi bumi dan matahari bergerak lurus dalam kondisi penyeimbangan dan saling mempengaruhi, saling mengurangi maka bumi mengalami kekurangan cahaya karena posisi terang bulan hanya setengahnya, kondisi bumi lebih gelap. Kondisi mahluk hidup di bumi seperti hewan laut pada fase bulan setengah gelap setengah terang dan sebaliknya lebih tenang, arus air laut tenang dan sangat baik untuk nelayan menangkap ikan. Hewan pemangsa lebih banyak diam dan lebih banyak istirahat. Untuk tumbuhan cocok untuk melakukan tanam- menanam. Kondisi alam secara garis besar cuaca cendrung stabil dan tidak ada gerhana yang terjadi.

Dalam kearifan lokal budaya Sunda penanggalan/kalender di bagi dua mingguan yaitu munggu terang (Suklapaksa) dan minggu gelap (kresnapaksa). Pada fase bulan setengah gelap setengah terang berada pada hitungan tanggal 1artinya siklus bulan masuk pada awal.
Bagi masyarakat Sunda kuno merupakan tahap pertengahan dan di gunakan untuk kegiatan spritual berupa ritus-ritus untuk keseimbangan diri dan keseimbangan alam. Pada kondisi itu perjalan spritual manusia sedang berkembang secara batin untuk membentuk kesadaran dan menerima petunjuk dari alam semesta. Manusia memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Waktu bulan ada pada kondisi setengah terang gelap dan terang sangat baik untuk menerima pengetahuan.

Filosofi bulan setengah gelap setengah terang merupakan proses kesempurnaan. Kesempurnaan relatif, karena tidak ada yang benar-benar sempurna dan benar-benar buruk dalam dunia ini sesuai penilaian masing-masing. Dan hakikat bulan adalah untuh namun tampak berbeda tergantung waktu dan kondisi lingkungan yang menghalanginya. Fase bulan setengah gelap setengah terang adalah siklus alami, bulan terus berubah menggambarkan ajaran ketidakabadian, semua di bumi ini mengalami perubahan. Kondisi bulan setengah gelap setengah terang dan sebaliknya mengajarkan kita untuk menerima dan beradaptasi dengan adanya perubahan dalam hidup artinya manusia tidak boleh terikat pada keadaan tertentu. Fase bulan setengah gelap setengah terang merupakan proses keseimbangan dalam hidup, manusia perlu memiliki kedua sisi yaitu gelap dan terang agar dalam menjalani hidup penuh makna. Sisi gelap dapat menjadi pengingat akan pentingnya introspeksi bila kita melakukan kesalahan, sedangkan sisi terang memberi harapan dan potensi untuk maju dan menjadi lebih baik.

Penulis menuliskan hal judul diatas karena intuisi untuk melakukan ritus dalam kondisi setiap perubahan fase bulan. Pada tanggal 12 Maret 2026 bertepatan dengan penanggalan kalender Sunda (Respati 1k Kliwon, sasih Srawana Caka Sunda) adalah kondisi bulan bertepatan dengan fase setengah gelap setengah terang. Intuisi batin bergerak untuk melakukan ritus dengan memunculkan simbol berupa sesajian tumpeng ketan hitam dan ketan putih sebagai simbol penyelarasan pada kondisi bulan untuk tujuan tolak balak dan permohonan doa untuk kebaikan dan penyelarasan diri dan alam semesta. Intuisi hadir sebagai petunjuk alam, tumpeng ketan hitam dan ketan putih sebagai simbol dua sisi yang berdampingan dan mutlak, di hias dengan simbol yaitu 3 telur ayam rebus, 4 daun hanjuang, 4 bunga pagoda, 8 daun pandan yang memiliki filosofi yang mendalam sebagai petujuk dan kewaspadaan.

Ketan memiliki makna “paraketan” melengketkan, merapatkan kembali niat diri pada jati diri, semua mahluk dan Tuhan. 3 butir telur matang tampa kuliat melambangkan tiga hakeat “Nista,Maja, Utama” kalau manusia sudah tidak dapat ingat pada jati diri, tidak ada kesadaran, maka tidak ada maaf dan alam akan merubah sesuai kendak yang Maha Kuasa. 4 bunga pagoda sebagai simbol tempat suci yang berundak 5 atau 7 sebagai simbol raga kita tetap sebagai raga yang suci, 4 daun hanjuang merah merupakan siloka (Timur, Barat, Utara, Selatan). Hanjuang merah memiliki makna filosofis semangat berjuang, Semangat berjuang dalam persatuan adalah dasar dalam sukses berjuang. Pada zaman ini kemungkinan kita akan melakukan perjuangan dan menghadapi kemungkin hidup yang berat. Intuisi memberi petujuk pada kondisi bulan pada fase setengah gelap setengah terang dan sebaliknya membisikan bahawa alam akan kencang dalam proses penyelarasan. 8 daun pandan menyimbolkan simbol bulan sabit yang merupakan awal munculnya cahaya terang dan wangi pandan adalah makna dengan sifat “Siliwangi” maka keseimbangan diri dan alam akan kembali membawa hidup di bumi ada pada keharmonisan. 8 daun pandan disusun sesuai 8 arah mata angin, artinya kita harus tahu sifat 8 arah mata angin yang sudah menjadi ketetapan alam yang tidak boleh di lawan artinya manusia harus mengetahui karakter dan sifat semua mahluk yang di hidupkan seperti kita mengenal sifat delapan dewa yang memiliki karakter berbeda-beda beda. 8 daun pandan menyimbolkan “Astabrata” yaitu delapan langkah mencapai kehidupan pada kejayaan sempurna kembali. Astrabrata adalah ajaran kebudayan kuno yang berasal dari kearifan lokal Nusantara yang ajarannya memiliki rumus dan pedoman prilaku manusia untuk memiliki nilai budi pengerti. Asta artinya delapan, Brata artinya pedoman atau tuntunan hidup yang disebut delapan ajaran kembali memulihkan dan menjaga keseimbangan diri, keseimbangan dengan alam dan sang Maha Kuasa agar kembali pada bumi yang selaras dengan langit sesuai dengan simbol bulan setengah gelap setengah terang. Kembali pada keseimbangan dan keselarasan yang mewujudkan keadilan di muka bumi. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih pada Tuhan dan leluhur karena penulis dapat menulis, menjabarkan peristiwa alam dalam konteks bulan setengah gelap dan terang sebagai petunjuk dan menjadi ilmu pengetahuan diri pribadi penulis dan bermanfaat bagi kita semua pembaca. Tidak kalah penting dari makna bulan setengah gelap dan terang antara pengetahuan Astronomi, agama dan budaya Sunda dan intuisi hasil ritus saling selaras dan ini adalah bukti ketetapan dari Allah adalah mutlak dari sisi mana kita memandang adalah selaras jika manusia mau berfikir dan mengamatinya. Maha besar Sang Hyang Cipta alam semesta.

 

Bandung 17 Maret 2026
Dinten Anggara 6k kaliwon, sasih Srawana 1962 Caka Sunda

 

YAYASAN SUNDA13BUHUN
YAYASAN BUDAYA SUNDA BUHUN

*****

Judul: FASE BULAN SETENGAH GELAP SETENGAH TERANG MENURUT ASTRONOMI, AGAMA DAN BUDAYA SUNDA.

Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Seniman, Spiritualis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *