Bukan Tidak Ada Studi, tetapi “Pasar Ilmu” yang Lemah : Kasus Rice Bran, Nobel Eijkman, dan Tragedi Stunting

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Minggu (12/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Bukan Tidak Ada Studi, tetapi “Pasar Ilmu” yang Lemah : Kasus Rice Bran, Nobel Eijkman, dan Tragedi Stunting” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Pendahuluan: Ilmu Ada, Tetapi Tidak Digunakan

Dalam wacana publik, sering muncul narasi bahwa rendahnya pemanfaatan bekatul (rice bran) disebabkan oleh “kurangnya penelitian”. Narasi ini tampak logis, tetapi keliru. Realitas yang lebih tepat adalah: ilmu sudah tersedia dalam jumlah besar, tetapi tidak memiliki “pasar” tidak dibaca, tidak dipahami, dan tidak dijadikan dasar tindakan.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.,
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: Arie/MMSN)

Dalam kurun 2020–2025 saja, telah terkonsolidasi sekitar 100 penelitian yang secara langsung maupun sangat relevan mengkaji hubungan antara rice bran dan pencegahan stunting. Bahkan jika ditarik lebih luas sejak 2020, jumlah penelitian relevan mencapai ratusan.

Masalah kita bukan kekurangan pengetahuan. Masalah kita adalah kegagalan menginstitusikan pengetahuan.

Nobel yang Dilupakan: Christiaan Eijkman dan Bekatul

Sejarah telah memberikan bukti yang sangat kuat melalui karya. Di Hindia Belanda, Eijkman menemukan bahwa ayam yang diberi beras putih mengalami kelumpuhan (beri-beri), sementara ayam yang diberi beras utuh tetap sehat. Ia menyimpulkan bahwa lapisan luar beras bekatul mengandung zat esensial yang kemudian dikenal sebagai vitamin B1 (thiamine).

Atas penemuan ini, ia dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran tahun 1929.

Fakta yang tidak terbantahkan:
Lebih dari satu abad lalu, dunia sudah mengetahui bahwa:
bekatul adalah sumber nutrisi penting bagi kesehatan manusia.
Namun hari ini, yang terjadi justru sebaliknya:
bekatul dibuang, beras dipoles, dan nutrisi dihilangkan.

Dari Beri-Beri ke Stunting: Sejarah yang Berulang

Apa yang terjadi pada penyakit beri-beri di masa lalu kini berulang dalam bentuk baru: stunting.

Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Ia adalah:
kegagalan perkembangan otak
penurunan kapasitas kognitif
reproduksi kemiskinan antar generasi

Stunting adalah tragedi nasional.
Dan yang lebih ironis:
solusi berbasis pangan lokal sebenarnya sudah tersedia—termasuk rice bran.

100 Penelitian: Bukti yang Tidak Kurang

Sejak 2020–2025, berbagai penelitian menunjukkan bahwa rice bran:

Memperbaiki mikrobiota usus
→ meningkatkan penyerapan nutrisi

Kaya mikronutrien penting
→ vitamin B kompleks, zat besi, zinc

Mendukung pertumbuhan dan kognisi
→ faktor penting dalam pencegahan stunting

Mengurangi inflamasi dan infeksi
→ mengatasi environmental enteric dysfunction

Dengan kata lain:
bekatul bekerja pada akar biologis stunting.

Krisis Budaya: Studi Pustaka yang Tidak Tumbuh

Mengapa bukti sebanyak ini tidak menjadi kebijakan?

1. Studi pustaka belum menjadi budaya

Pengambilan keputusan jarang berbasis:
jurnal ilmiah
meta-analisis
sintesis bukti

2. Budaya membaca rendah

Terutama dalam membaca:
artikel ilmiah
hasil penelitian

3. Ilmu terasa “jauh” dari kehidupan

Bahasa akademik tidak terhubung dengan praktik sosial
Kebijakan Tanpa Ilmu: Bias Anti-Science
Dalam banyak standar pangan modern, termasuk SNI beras premium, keberadaan rice bran justru dianggap sebagai impuritas.

Ini mencerminkan: policy genesis yang tidak berbasis ilmu.

Padahal:
ilmu menyatakan bekatul bernilai tinggi
kebijakan justru menyingkirkannya
Ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bias struktural terhadap ilmu pengetahuan.

Masalah Inti: Tidak Ada “Market for Science”

Ilmu, seperti produk ekonomi, membutuhkan pasar.
Tanpa pasar:
penelitian tidak dibaca
inovasi tidak diadopsi
kebijakan tidak berubah

“Pasar ilmu” membutuhkan:
masyarakat yang melek literasi
industri berbasis riset
kebijakan berbasis bukti
Ketiganya masih lemah.

Tropikanisasi–Kooperatisasi: Jalan Keluar
Dalam konteks Indonesia, solusi tidak cukup teknis harus sistemik.

Tropikanisasi
Mengembalikan pangan lokal (seperti bekatul) sebagai basis:
nutrisi
kesehatan
budaya

Kooperatisasi
Mengorganisasi produksi dan distribusi melalui:
koperasi
komunitas lokal
ekonomi rakyat

Integrasi keduanya
Bekatul tidak lagi menjadi limbah, tetapi:
produk koperasi
pangan fungsional
intervensi kesehatan masyarakat
Pelajaran Peradaban
Kasus Eijkman memberi pelajaran penting:

Ilmu bisa lahir di Indonesia
Diakui dunia
Tetapi tidak dimanfaatkan oleh bangsanya sendiri.

Ini adalah paradoks pengetahuan dalam masyarakat berkembang.

Penutup: Dari Ilmu ke Tindakan

Masalah kita bukan kekurangan solusi. Masalah kita adalah: tidak menjadikan ilmu sebagai dasar tindakan kolektif
Jika: literasi ilmiah diperkuat kebijakan berbasis bukti koperasi menjadi kendaraan distribusi maka: bekatul dapat menjadi bagian dari solusi nyata untuk mengatasi stunting.

Pernyataan Akhir
Stunting adalah tragedi nasional.
Penanganannya tidak boleh ditunda.
Dan salah satu solusi yang selama ini kita abaikan—
sudah tersedia sejak lebih dari satu abad lalu:

bekatul (rice bran).

***

Judul: Bukan Tidak Ada Studi, tetapi “Pasar Ilmu” yang Lemah : Kasus Rice Bran, Nobel Eijkman, dan Tragedi Stunting
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *